
"Sini!" Ghifar menepuk sofa santai di ujung ranjang. Aku pun duduk segera, di tempat yang Ghifar tunjuk.
Sedangkan, Ghifar duduk di kursi rias yang muat untuk dirinya saja. Ia berada di dekatku sebelah kanan, mamah Dinda berada di sofa panjang yang berada satu langkah di sebelah kiriku. Posisi kami seperti huruf L.
"Apa sih, Dek?" tanya papah Adi kembali.
"Canda hamil, Bang." mamah Dinda menunjukkan alat yang rupanya masih ia genggam itu.
Papah Adi mengambil alih, lalu memutar alat itu.
"Betul kah hamil? Janda kok hamil?"
Papah Adi sepertinya kekurangan air putih.
"Dia ceroboh, Bang." jawab mamah Dinda dengan menepuk paha suaminya.
"Adek ajari lah! Adek dulu tak hamil, padahal dikelilingi laki-laki. Gimana sih Adek ini, pelit ilmu betul. Kasih paham lah, kalau memang gatal ya pakai cara aman gitu."
Aku harus paham, bahwa keluarga ini memang pro terhadap se*s. Meski kenyataannya, orang tersebut tak memiliki pasangan halal. Pola pikir setiap orang berbeda-beda, terlepas dari dosa dan apapun yang menyelimuti.
"Masalahnya, dia hamil sama Ghifar Bang."
Aku bisa melihat papah Adi begitu syok. Pandangannya kosong dengan penuh amarah, lalu ia mengusap-usap dadanya sendiri.
__ADS_1
"Pah..." Ghifar langsung mendekati papah Adi. Mungkin ia takut terjadi sesuatu pada papah Adi.
Namun, sedetik kemudian kami semua berteriak kaget.
Bughhhh....
Hantaman kepalan tangan mendarat di pipi Ghifar. Sontak saja, Ghifar tersungkur ke lantai.
"Papah... Itu suami aku." Kin menangis lepas. Ia langsung berpindah untuk mendekap suaminya.
Tangis Kaf begitu kaku. Mungkin ia tidak nyaman dengan gendongan Kin, ataupun ia ikut sedihnya saja.
"Mana yang sakit, Yang?" Kin mengusap-usap wajah suaminya.
Ghifar meringis dengan mata yang terpejam.
Terlihat papah Adi mengalihkan pandangannya asal, nafasnya begitu memburu dengan urat-urat wajah yang begitu kaku. Aku takut dengan kesehatan beliau. Meski papah Adi gagah dan terlihat kuat, tapi ia mudah pingsan. Apa lagi jika sudah mendapat beban pikiran secara tiba-tiba.
"Harusnya tak begini!!!!" suara papah Adi sedikit menggeram.
"HARUSNYA TAK BEGINI, FAR!!!" papah Adi mengulang kalimatnya dengan suara yang menggelegar.
"Pah... Dengerin dulu cerita aku." Ghifar bersimpuh pada lutut papah Adi.
__ADS_1
"Dengerin apa? Kau punya otak tak?" kepala Ghifar ditoyor dengan jari telunjuk papah Adi.
Ghifar sampai terduduk. Ia seperti rakyat yang tengah bersimpuh di hadapan rajanya. Apa lagi, ada Kinasya di sampingnya sembari menggendong bayi. Ini seperti film kolosal kerajaan.
"Mamah tanya. Jawab, iya atau tidak." tegas mamah Dinda dengan menatap kami satu persatu.
"Mah... Aku tak mau dengar ceritanya. Udah aja, ini pun udah sakit kali." Kinasya memandang mamah Dinda dengan wajah basah. Ia begitu kacau sekarang.
"Kau harus tau, Mamah pun perlu tau. Apa yang suami kau lakuin di belakang kau."
"Aku tak apa dimadu, Mah. Aku tak apa." Kinasya menangis tergugu. Ditambah lagi, tangis Kaf yang menyiratkan kesedihan ibunya.
"Udah aja, Mah. Aku paham, tak perlu permalukan Ghifar lebih jauh. Aku tak apa dimadu. Udah aja tak perlu dibahas, aku tak kuat Mah." tambah Kinasya dengan tangis hebatnya.
Ghifar merangkul istrinya, tepukan kecil Ghifar berikan untuk menenangkan istrinya.
"Kin...." aku harus buka suara.
Jangan sampai aku dikawinkan dengan Ghifar, dengan statusku ini.
Semua mata tertuju padaku. Ghifar pun seperti menantikan kata yang keluar dari mulutku.
Aku mengusap air mataku, "Tak.....
__ADS_1
...****************...
Di scene ini, begitu cintanya Kin pada Ghifar. Pipinya kena tonjok pun, ia langsung panik. Ghifar bagai peliharaan kesayangannya. Namun, jelas itu berbeda jika binatang kesayangan membuat kesalahan pada majikannya. Pasti hukuman nyata, majikan itu langsung berikan. Bukan maksud menganggap Ghifar seolah binatang, hanya menjabarkan dan membuat kalian mengerti saja. Makanya Author mengibaratkan seperti itu.