Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD397. Perjalanan ke mamah


__ADS_3

"Mamah, bantu aku urus Ceysa." aku pura-pura merengek kesusahan.


"Kau di mana sih?"


"Di Kenawat Redelong. Aku sering kram perut, Mah." aku tidak berbohong, aku memang sering kram perut.


Perutku terkadang seperti batu, begitu keras dan mengganjal. Membuatku mendadak kesulitan bernapas.


"Ya Allah, Canda. Ada ibu kan?"


Benar juga sih.


"Mau ikut Mamah aja. Aku udah bilang mas Givan, lahirannya ikut Mamah." aku merengek seperti anak-anak.


"Ya ampun, Canda. Kau bikin Mamah geleng-geleng kepala terus."


Aku menahan tawaku sebenarnya.


"Nanti tanggal sebelas Mamah pulang ke Lhokseumawe. Kau minta Dendi carikan mobil travel aja, jangan di antar saudara ipar kau lagi." mamah Dinda berbicara cepat.


Sekarang tanggal sembilan, artinya dua hari lagi mamah kembali ke Lhokseumawe. Aku harus sedikit lebih pandai dalam beralasan.


"Mamah tak di Kenawat Redelong aja? Tinggal di rumah aku ini. Besar loh, Mah. Biarpun tak ada lantai duanya." aku tersenyum lebar saat mengatakannya, meski mamah Dinda tidak melihatnya.


Aku mengklaim itu rumahku. Meski sebenarnya, itu rumah atas nama suamiku.


"Ya nanti Mamah ke sana, mungkin tanggal lima belas. Kalau tak salah, suami kau nanti ngajak ketemu di depan gapura gang rumah kita."


Dengan seperti ini, berarti mamah lebih cepat ke rumah.


"Mamah ke sini tanggal sebelasnya kah?" ini adalah hari di mana mamah sudah kembali ke Lhokseumawe.


"Ya tak lah. Paling bareng sama suami kau tanggal lima belas. Mamah di situ tanpa Givan, ya udah pasti risih kena papah kau itu."


Apa aku harus ke sana saja kah? Aku harus bergantung pada mamah dan bisa membawa mamah pulang ke kampung kami lagi, agar mamah merasa semakin berat meninggalkan keluarga ini.


"Ya udah tanggal sebelas aku cari travel aja deh, Mah. Aku ke mamah aja ya?"


"Ya udah, minta tolong ke Dendi. Atau bisa minta dia supirin kau."


Aku mengangguk reflek, "Ya, Mah. Nanti aku langsung ke sana." aku harus memiliki tekad yang kuat.


"Ya udah, assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam, Mah." aku segera mematikan panggilan teleponku.

__ADS_1


Ini lebih baik, ketimbang menunggu mamah datang. Karena dengan adanya mas Givan, pasti mamah dipengaruhi juga oleh si mas Galak itu.


Padahal mas Givan tidak mengetahui kejadian sebenarnya, tapi ia langsung saja mengklaim papah Adi begitu bersalahnya. Aku pun sebenarnya tidak mengetahui titik masalahnya, karena papah Adi tetap bungkam.


Papah Adi enggan menceritakan pada kami, yang menjadi anak-anak beliau. Sepertinya permasalahan ini begitu sensitif. Yang menurutku, beliau sempat berhubungan badan dengan perempuan itu.


Ya sepertinya begitu. Sampai beliau tak mau mengaku sama sekali.


~


"Suami kau tau, bisa marah. Aku nasehatin kau terus-terusan tuh, karena sayang sama kau. Aku tak mau kau dimarahin bang Givan terus. Udah wataknya dia begitu, kau yang pandai memposisikan diri." Ghifar menahan pintu mobil Daihatsu Ayla warna kuning milik bang Dendi ini.


Bang Dendi mengajukan diri untuk mengantarku, tanpa biaya sepeserpun. Tapi aku pun cukup tau diri. Aku memberi Rere beberapa baju baru dan juga uang tunai warna merah sebanyak lima lembar, yang aku paksa Rere untuk menggenggamnya.


Kak Anisa jangan berkunjung, karena ia tengah mengandung kembali. Tapi Rere sering diajak bang Dendi. Seperti saat ini, Rere ikut pergi dengan kami ke Lhokseumawe.


Ia begitu cantik dan seputih kapas, seperti warna kulit kak Anisa.


"Aku pun sayang sama kau, Far. Sayang kali." aku tersenyum lebar, dengan mencolek dagunya.


Ghifar menepuk tanganku, yang baru saja mencolek dagunya.


"Aku adik ipar kau, Cendol!" ia tertawa geli.


"Ya udah ati-ati. Ada tak uang pegangannya?" Ghifar merogoh saku jaketnya.


Sepertinya, Ghifar akan pergi menggunakan motor.


"Kalau mau ngasih sih ngasih aja, Far." sahutku yang membuat matanya membulat.


"Dasar!" ia terkekeh kecil.


Ia memberiku banyak lembaran berwarna biru, "Nanti belikan mamah buah tangan. Apel kah, atau sih buah pir. Biar kau tak datang orangnya aja." aku seperti mengulang kejadian, saat Ardi mengatakan hal yang sama.


"Ok." aku menerima uangnya.


Ghifar ingin aku memberikan ibunya buat tangan.


"Ya udah ati-ati." Ghifar membukakan pintu mobil berwarna kuning ini.


Aku segera masuk. Kemudian pintu segera ditutup kembali oleh Ghifar.


Ceysa, bang Dendi dan Rere sudah siap di dalam mobil.


"Yeye, mau?" Ceysa menawari jajanan, pada anak perempuan yang duduk di bangku depan bersama ayahnya itu.

__ADS_1


Rere menoleh, ia menggelengkan kepalanya. Ia cemberut saja sejak tadi, karena ia dilarang ayahnya untuk makan es krim. Rere alergi susu sapi, begitu pun kandungan susu di dalam es krim. Kulitnya langsung memiliki ruam merah, juga bentol yang berukuran besar jika mengkonsumsi susu sapi.


"Bang.... Mobil Ayla ini mahal tak?" aku bertanya, karena ingin memiliki target membeli mobil.


"Tak juga. Ini kredit, sebulan satu juta seratus. Kredit yang paling rendah ini tuh."


Aku akan menabung, dari sisa uang peganganku. Mas Givan memberiku uang lagi, meski uang peganganku belum habis. Hitungan kotornya sekitar lima ratus ribu, untuk dua hari. Itu dihitung biaya segala-galanya. Makanku dan Ceysa, jajan dan uang pegangan.


Jika untuk bayaran ibu Muna dan pengasuh untuk anak-anak, mas Givan mengirimkannya langsung. Untuk kebutuhan sehari-hari anak-anak pun, diserahkan pada ibu. Seperti untuk uang jajan dan uang saku. Anak-anak akan meminta pada ibu. Jika uang untuk makan, sudah dikirimkan beserta gaji untuk ibu Muna.


Sejak empat bulan di Kalimantan Timur. Setiap bulannya, kami belanja bulanan yang pembayarannya dari mas Givan. Aku tidak tahu menahu habis berapa dan jumlahnya berapa banyak.


Sembako, sabun, peralatan rumah tangga, kami stok selama satu bulan. Uang belanja untuk membeli sayur, aku diberi lima puluh ribu perhari. Namun, untuk peganganku sendiri. Aku diberi lima ratus ribu pertiga hari.


Cukup berbeda saat aku sendiri di sini, tanpa jatah sembako dan lain-lain. Dibandingkan dengan uang jatahku, ketika kami bersama-sama di Kalimantan, dengan sembako dan lain-lain.


Aku sudah membawa beberapa macam buah, dari uang yang Ghifar berikan. Semoga Ghifar tidak dimarahi istrinya, karena menitipkan uang untuk membeli buah sebagai buah tangan berkunjung ke rumah mamah Dinda.


"Bentar lagi sampai, Dek. Arahin aja mana jalannya." ucap bang Dendi, dengan menunjuk arah ke depan.


Aku mengangguk, kemudian aku melihat sekeliling. Ini sudah berada di jalan Kenari.


"Depan tuh belok kanan, Bang. Terus ada gang pertama, ambil kanan lagi." aku melongok dari tengah kursi depan ini.


Tidak butuh waktu lama. Kini, aku tengah berjalan ke arah pintu rumah mamah Dinda dengan menggandeng kedua anak ini. Sedangkan bang Dendi berjalan di depanku, dengan menenteng buah segar dan jajanan anak-anak.


Mobil Xpander itu sudah tidak ada. Kini, digantikan dengan mobil Chevrolet berwarna abu-abu yang berbentuk seperti mobil Pajero Sport Dakar.


"Chevrolet Trailblazer, empat ratus delapan puluh jutaan. Keren, keren." bang Dendi geleng-geleng kepala, dengan melirik mobil yang terparkir ini.


Halaman rumah ini sudah terlihat terawat. Hanya saja, rumah ini masih terlihat seperti rumah tua. Belum ada perbaikan di rumah ini.


Tapi hebat juga mamah, beliau bisa membeli mobil mahal. Dengannya yang langsung memiliki pekerjaan, bukannya berdiam diri meratapi nasibnya.


Tok, tok, tok.....


Bang Dendi sudah mengetuk pintu rumah ini berulang.


"Assalamualaikum." seruku kemudian.


Ceklek......


Biji mataku hampir menggelinding.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2