
Mas Givan tidak sabaran seperti bang Daeng. Aku sampai mengeluarkan air mata tidak sengaja, karena ia terus menekan kepalaku.
Apa ia tidak sadar, bahwa miliknya cukup panjang? Kan aku jadi kelolodan.
Meski milik bang Daeng tidak begitu panjang, ia pengertian saat meminta servis dariku.
Mas Givan mendongakkan kepalaku, kemudian mengusap air mataku. Perlahan, ia merebahkan tubuhku dengan indra pengecap kami yang beradu.
"Makasih, Sayang. Udah mau nurutin." netra menawannya berbinar.
Apa seperti ini kebahagiaan laki-laki?
"Sama-sama, Mas." aku membingkai wajahnya.
Senyumnya tak lekang oleh waktu.
"Kalau dari dulu kau begini, Canda. Tak akan aku putar video dewasa. Tak ada waktu buat scroll Tiktok. Aku tak masalah mau longgar kah, atau bagaimana. Yang penting, kita ngelakuin dengan rasa yang kek gini. Aku jamin, tiket surga lebih dari satu untuk kau." ucapnya dengan mengungkung tubuhku.
"Tapi jangan dipegangi kek tadi kepalanya, aku kelododan." aku mewek, dengan langsung mengusap air mataku.
Mas Givan terkekeh samar, ia menopang berat tubuhnya dengan siku tangannya. Jemarinya mengusap wajahku.
"Maaf ya?" hembusan nafasnya sampai menerpa wajahku.
Aku mengangguk, kemudian memeluk lehernya. Aku malah menangis, mendengar permintaan maafnya.
Aku cengeng sekali, Ya Reader?
Aku malah terharu, mendapat permintaan maaf darinya.
"Aduh, Canda Pagi Dinanti lagi sedih nih." mas Givan masih tertawa tipis.
"Jadi lanjut tak?" ia menegakkan punggungnya kembali, membuat pelukanku pada lehernya terlepas.
"Aku boleh jujur tak, Mas?"
Mas Givan mulai mengusap-usap pahaku, karena dasterku ia sibak dengan sengaja.
"Apa sih, Istriku?" tatapannya terlihat begitu buas.
"Aku tak mood, pengen pelukan aja." aku menahan tangannya, yang kian naik mengusap tengah-tengah tubuhku.
"Tadi aku udah on fire, Canda. Kau kan tau, tadi aku belum sempat dikeluarkan."
Ya memang benar, bahkan baru tahap pemanasan.
__ADS_1
Entah kenapa, rasanya aku ingin lanjut menangis saja.
"Tapi aku pengen pelukan, Mas." aku terisak tidak jelas.
Aku tidak teringat akan ayahnya Ceysa. Tapi, aku begitu cengeng tiba-tiba.
Mas Givan menutup kembali pahaku dengan daster tanggung ini. Kemudian, ia membawaku lebih ke tengah ranjang.
"Ya udah, ya udah. Aku ngalah, sok nangis." mas Givan menepuk bahunya untuk tempatku menangis.
Benar saja, aku sampai sesenggukan seperti anak kecil yang dilarang makan permen.
Mas Givan tidak mengatakan apapun, ia hanya mengusap-usap lenganku dengan pandangan kosong menatap plafon kamar. Sepertinya, ia mencoba menenangkan dirinya sendiri dari gejolak rasa inginnya.
Hingga tidak terasa, aku terbangun dengan mata yang bengkak.
Seperti biasa, pagiku direpotkan dengan mengurus kepentingan anak-anak dan mas Givan.
"Ke Pintu Rame Gayo yuk, Canda? Kau ikut, sekalian liburan kan? Terus, kita langsung ke Kalimantan." ujar mas Givan, dengan mengantarkan piringnya yang sudah kosong.
"Malas, Mas. Lagian, Putri masih nuntut uang dua puluh milyar."
Aku menoleh ke arah suamiku, karena tak mendapat sahutan darinya. Aku ikut bingungnya saja, saat mas Givan memperhatikanku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kau percaya?" ia malah melempar pertanyaan padaku.
"Memang Mas ngerasanya gimana?" aku mencuci piring bekas makan suamiku.
"Aku tak pernah nerima uang dia, selain keperluan perusahaan. Uang dua puluh milyar untuk apa? Terus, kenapa dia tak kunjung pulang? Beberapa kali dia singgah. Harusnya kan, kalau memang cuma dua puluh milyar, berarti udah lunas dong. Jelas-jelas, setiap bulannya aku ini nyicil sekitar dua puluh lima milyar. Meski mamah yang cover awal."
Aku bingung.
"Coba deh ngobrolinnya sama mamah juga." aku mengambil opsi ini, karena aku sadar bahwa aku bodoh.
"Udah kebaca." mas Givan melirikku, kemudian ia membawa teh manis yang baru saja aku buatkan untuknya.
"Kau makanlah dulu, Canda." ucapnya sembari meninggalkan area dapur.
Kenapa ya aku tak kunjung diajak pindah ke rumahnya? Aku pun, ingin tinggal di rumahnya dengan anak-anak. Bukannya apa-apa, aku sedikit segan tinggal bersama mertua seperti ini.
"Yung.... Au isang." Ceysa muncul dengan dress bunga matahari itu.
Bunga matahari di dada bagian kirinya, sebesar kepalanya. Ya, kepalanya saja yang kekecilan. Karena Ceysa tidak kunjung gemuk.
"Pisang?" tanyaku dengan memperhatikannya yang berjalan mendekat itu.
__ADS_1
Ceysa mengangguk. Biang keringat pun, memenuhi tubuhnya. Ceysa masih tidak begitu doyan makan, selepas bang Daeng meninggal.
Sebenarnya aku khawatir dengan kesehatannya. Hanya saja, menurut mamah Dinda tak apa. Yang penting Ceysa doyan susu, doyan air putih, doyan ngemil juga.
Ceysa makan, hanya ketika melihat orang-orang di sekitarnya tengah makan.
"Macih ya?" Ceysa berbalik pergi kembali.
"Sama-sama." aku tersenyum melihat Ceysa yang selalu kebesaran dengan pakaiannya itu.
Padahal Ceysa menggunakan pakaian ukuran anak dua tahun.
Aku segera menyendokkan sarapan untukku sendiri, lalu menikmati sarapan pagiku di halaman belakang rumah. Aku kira ini adalah tempat yang aman, karena aku menyantap petai mentah. Ternyata, ada papah Adi yang tengah membenahi dedaunan kering.
Malu sekali aku. Makan petai pagi-pagi, dengan dicocol dengan sambal. Jika ketahuan mas Givan, pasti diledek. Jika ketahuan papah Adi, malah aku yang malu.
"Tumben sarapan di sini." tegur beliau, dengan memperhatikanku sejenak.
"Iya, Pah." aku tersenyum kaku.
Papah Adi hanya mengangguk, kemudian ia berjalan ke sisi lain tumbuhan yang ia pelihara itu. Papah Adi penyuka tanaman. Tidak cuma tanaman hias, tanaman obat dan tanaman estetik pun ia miliki.
"Heh! Makan petai sih!"
Hampir saja piringku terbang.
Aku segera menelan makananku, lalu mendongak menatap seseorang yang mengagetkanku.
Ghifar tertawa geli, melihat keterkejutanku karenanya itu.
"Kau dulu diajak ke rumah makan Sunda, kek sungkan betul pas ditawarin lalaban petai. Padahal, waktu itu petainya direbus dulu. Tak mentah begitu." lanjut Ghifar kemudian.
Tak mungkin kan aku masuk ke kamar mandi untuk melanjutkan sarapan pagiku dengan petai ini?
"Lagi pengen aja." aku pura-pura cuek, dengan menu sarapanku.
"Canda.... Sini dulu!"
Aduh, ditambah dengan mamah Dinda yang memanggilku. Bagaimana caranya aku menyembunyikan petai ini? Aku masih ingin memakannya, tapi aku malu.
Rasanya ingin menyembunyikan wajahku saja.
"Canda...." seruan itu semakin meninggi.
"Ya, Mah." aku panik dan pusing mengurus piringku.
__ADS_1
...****************...
Ngerasain sendiri malunya ðŸ¤