Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD14. Ragu


__ADS_3

"Siapa itu, Nis?" tanya salah satu pemuda, saat kak Anisa tengah membuka kunci kamarnya.


"Saudara. Jangan berisik ya? Ada bayi nih." kak Anisa terlihat cuek pada para pemuda, yang nongkrong di depan kamar yang paling sudut.


"Ok, ok." sahut salah satu dari mereka.


Aku tersentak, ketika mendapat tepukan di bahuku.


"Eh, maaf-maaf. Ayo masuk, Kak. Cuma kos-kosan satu petak. Maklum, Kak. Ini yang paling terjangkau di daerah ini. Makannya masuk gang kecil, mana bebas lagi."


Aku melangkah perlahan, masuk ke dalam ruangan yang masih gelap ini.


"Bentar, aku nyalain lampunya dulu." ujarnya kemudian.


Lalu beberapa saat, cahaya dari lampu. Langsung menerangi ruangan satu petak ini.


Chandra terlihat begitu girang, saat melihat kasur. Ia sepertiku, begitu plong saat melihat tempat yang empuk.


Aku segera menurunkan Chandra. Chandra heboh sendiri, apa lagi dengan sprai karakter Doraemon ini.


"Aduh, gemesnya." kak Anisa mendekati Chandra, yang tengah tengkurap di atas tempat tidurnya.


"Namanya siapa ini, Kak?" tanyanya dengan menoleh padaku.


"Chandra, dia baru satu tahun." jawabku dengan tersenyum.


"Hei, Chandra. Kamu laki-laki satu-satunya di sini, jagain Ibu kamu sama Tante ya?" kak Anisa mencium pipi Chandra.


"Ehh, aku hapus make up dulu ya?"


Aku mengangguk, memperhatikannya yang tengah beraktivitas tersebut.


Aku meluruskan kakiku, duduk dalam beberapa jam membuat kakiku linu.


Pintu masih belum ditutup kembali, sedangkan kak Anisa tengah mencari sesuatu dalam tasnya.


Bukan hal aneh, karena sebelumnya aku melihat pemandangan ini setiap hari.


Mulutnya berasap, dengan ujung benda tersebut yang terbakar api. Ia merokok tembakau, berbeda dengan Kinasya dulu yang menggunakan rokok elektrik.


Saat hamil Kalista, Kinasya masih aktif merokok. Hingga usia kandungannya delapan bulan, Kinasya baru bisa benar-benar lepas dari rokok. Tentu dengan suaminya juga, Ghifar tidak lagi merokok sekarang.


Kak Anisa berjalan ke arah pintu, dengan menggosokkan wajahnya menggunakan kapas.


"Bang... Minta tolong dong." suaranya terdengar manja.


"Apa?"


Aku tidak tahu pasti, siapa yang ia mintai pertolongan.

__ADS_1


"Tadi aku lewat, nasi goreng di sana udah tutup. Tolong dong belikan di tempat lain. Sekalian mampir ke minimarket gitu, Bang. Belikan bubur bayi, keponakan aku kelaparan nih." aku merasa tidak enak padanya.


Saat tadi ia beraktivitas dengan remover make up-nya, ia terlihat tidak memperhatikan Chandra yang tengah makan ibu jarinya sendiri.


"Lebihkan uangnya, motor aku gak ada bensin." seorang pemuda melongok ke dalam kamar ini.


"Hai, Adek." laki-laki tersebut menyapa Chandra.


Chandra memperlihatkan giginya, pada orang yang menyapanya tersebut.


"Nasgornya dua, Bang. Bubur bayinya satu." kak Anisa berjalan menuju tasnya kembali.


"Dari mana, Kak?" aku melihatnya sangat tidak sopan, karena hanya kepalanya saja yang muncul di pintu.


"Dari Aceh dia." kak Anisa yang menjawab itu.


"Kakak pedas gak?" tanyanya, dengan memberikan uang tersebut pada pemuda yang masih melongok ke dalam kamar ini.


"Jangan pedas, nyusuin soalnya." jawabku dengan tersenyum ramah.


Ingin menolak, tetapi sudah terlanjur tidak enak.


"Ok." ia menghisap rokoknya kembali, dengan memberi uang lebihan pada pemuda tersebut.


"Sama apa lagi ini? Nanti ada yang kurang. Air minum ada gak?" tanya pemuda, yang sepertinya masih berada di depan kamar kos milik kak Anisa.


"Chandra sufor gak, Kak? Atau Kakak perlu yang lain?" tanyanya dengan menoleh padaku.


"Tak sufor. Tak perlu apa-apa kok, Kak." aku khawatir diriku terlalu merepotkannya.


Kak Anisa mengangguk, ia kembali fokus pada pemuda di depan kamar kos ini.


"Udah itu aja. Kalau Abang mau, Abang beli juga nasgor buat Abang. Bensinnya sepuluh ribu aja, biar cukup." sepertinya kak Anisa adalah orang yang royal.


"Ya." aku mendengar suara sandal yang berjalan menjauh.


Kak Anisa merokok di depan pintu, mungkin karena ada Chandra di dalam kamarnya ini.


Ia beberapa kali bolak-balik, untuk mengambil kapas dan cairan remover.


"Ehh, Kak." aku menoleh, ternyata ia sudah selesai merokok.


"Tasnya cuma ini?" ia seperti terheran-heran memperhatikan tas yang aku bawa.


Aku mengangguk, sembari melepaskan pakaian Chandra. Chandra biasa tertidur dengan menggunakan diapers saja, meski dalam ruangan ber-AC sekalipun.


"Kakak ini.... tujuannya ke mana?" ia sepertinya begitu penasaran.


Aku menghela nafasku, kemudian membiarkan Chandra bermain di atas kasur lagi. Chandra terlihat lucu, karena hanya mengenakan diapers saja.

__ADS_1


"Ke Jawa?" lanjutnya kemudian, karena aku tak kunjung menjawab.


"Bukan, Kak." aku ragu untuk bercerita, meski aku merasa kak Anisa adalah orang baik.


"Kakak bawa baju ganti gak? Lagi liburan, terus ketinggalan rombongan?" aku yakin, pasti dibenaknya penuh dengan pertanyaan.


Apa baiknya aku menceritakan masalahku saja kah?


"Aku cuma bawa baju satu, Kak. Baju anak dua, sama minyak telon, diapers, cuci muka aku, sama deodorant aja." akuku jujur.


"Duh, di sini pompa airnya suka ngadat. Kalau gak inisiatif sendiri, buat benerin. Yang punya kos gak mau peduli, Kak. Karena di sini sebulan tiga ratus lima puluh ribu, udah air, udah listrik. Jadi kalau ada komplen, gak diladenin. Nanti gimana pakaiannya?" aku tiba-tiba merasa tidak enak hati, dengan ucapannya seperti itu. Ia merasa dibebani.


"Maaf, Kak. Besok aku cari tempat kok." aku sudah akan menangis.


"Hei, kok." mungkin ia melihat mataku yang sudah berkaca-kaca.


"Orang yang gampang tersinggung, biasanya punya luka di tempat lain. Jadi, pas tersenggol sedikit. Langsung Kakak tersinggung kek gitu." ia menutup sedikit pintu tersebut, lalu duduk di depanku.


"Kakak kenapa? Kenapa langsung tersinggung, pas aku cerita keadaan kos aku?" tanyanya dengan menyentuh lenganku.


Aku masih ragu untuk bercerita padanya. Sedangkan, keadaanku malah menangis tidak jelas seperti ini.


"Kakak boleh tinggal di sini, sama anak Kakak juga. Tadi aku cuma cerita, keadaan kos-kosan di sini aja. Bukan maksud hati, buat ngusir atau bagaimana." ternyata kak Anisa adalah orang yang peka.


Aku tak tahu, harus ke mana lagi. Yang jelas, aku benar-benar tidak ingin pulang ke Jawa. Aku tidak mau dipaksa rujuk kembali, oleh bibi Hana.


Sudah cukup penghinaan yang mas Givan berikan padaku. Aku ingin bahagia, aku ingin dicintai, aku ingin dimuliakan.


"Kakak ragu buat cerita masalah Kakak sama aku? Ok, gak masalah." helaan nafas kak Anisa begitu berat.


"Kakak berhak kok tak percaya sama aku. Bahkan, aku pun tak percaya sama diri aku sendiri. Kalau memang Kakak besok mau cari tempat sendiri, biar aku bantuin. Kakak ada dananya berapa? Biar aku carikan yang sesuai."


Aku masih enggan untuk membuka mulutku. Aku khawatir tangisku semakin menjadi.


"Kak..." ia menggoyangkan lenganku.


Aku memandangnya lurus, bagaimana aku mulai bercerita? Apa aku tak perlu bercerita, tinggal jelaskan saja niatku untuk merantau di sini?


"Kak Anisa..." suaraku terdengar bergetar, sudah kuduga.


Aku begitu cengeng sekarang.


"Ya, Kak. Gimana?" ia fokus menantikan jawaban dariku.


"Begini, Kak......


...****************...


Kasih semangat dong 😁🙏

__ADS_1


__ADS_2