
"CEYSA DI MANA?"
Papah Adi berteriak begitu lepas.
"Dek duk, Kek." Ceysa ikut berseru saja. Namun, tidak selepas papah Adi.
"Ceysa jangan di belakang pintu. Kakek mau buka pintunya."
Terdengar suara pintu seperti tengah dirusak. Bukan didobrak, tapi seperti dirusak.
"Dek duk kusi, Kek."
Aku selalu mengajarkan mereka untuk menjawab ketika ditanya.
"Ibu udah bikin susu buat Ceysa. Ceysa tunggu ya? Pintunya lagi dibuka Kakek." ibu bersuara masih dengan suara yang bergetar saja.
"Linggis loh ini, Bang! Patah lah obengnya. Bodohnya!!!"
Kenapa bisa mamah Dinda sempat mengomel?
Aku jadi tertawa, mendengar amarahnya itu.
"Abang seadanya barang aja." sahut papah Adi.
Suara pintu tengah dirusak kembali.
"Ada barang Abang. Kenapa tak gunakan batang itu buat nyongkel pintu?! Kesel betul! Tak pakai otak betul. Obeng sama pintu diadu. Berakal lah sedikit, Bang."
Aku tertawa geli.
"Iya, Adek. Iyaaa." papah Adi sepertinya geram pada istrinya yang berisik saja itu.
"Papah udah tua ya? Tenaganya gak kuat ya? Sini aku bantu." itu adalah suara Ria.
"Bukan masalah tenaga. Tapi ini sempit loh! Sana lah pada turun dulu." papah Adi sewot.
Kenapa jika ada mereka? Pasti mereka malah heboh sendiri. Segala berdebat. Padahal mereka tengah khawatir.
Ya, aku yakin mereka khawatir.
Brakkhhhhh.........
Dughhh.....
Suara pintu terbuka, kemudian suara pintu yang terbanting ke tembok.
"Kek....." aku bisa melihat Ceysa turun dari kursi. Ia cepat-cepat berlari.
"Aduh, Sayang."
Cuppp....
Papah Adi sepertinya tengah menciumi Ceysa.
Aduh, ini papah. Aku malu, rokku tersingkap sampai lutut.
"Gimana, Dek?" papah muncul dengan menggendong Ceysa.
Di dahi dan pelipisnya banjir keringat.
Aku sudah tidak bisa menahan air mataku lagi.
"Papah...." aku mengulurkan kedua tanganku seperti anak kecil.
Papah Adi duduk di pinggiran ranjang.
"Iyung alas." Ceysa menunjukku.
Papah Adi mencium pipi Ceysa kembali.
Ia memandangku dengan berkaca-kaca. Tangannya menarik rokku yang tersingkap, lalu beliau menutupi betis kakiku.
Sepertinya bulir bening membasahi mata tajamnya. Beliau cepat-cepat mengusap matanya, lalu kembali menatapku.
Aku memegangi tangan beliau yang tidak menggendong Ceysa, "Papah, aku tak bisa bangun." akuku dengan tangis yang tidak bisa mereda.
"Kau yang nurut sama Mamah." tiba-tiba punggung beliau condong, lalu beliau mengecup pucuk kepalaku.
__ADS_1
Aku rindu sosok ayah sepertinya.
"Papah...." aku tidak bisa berkata-kata lagi.
"Sabar, Nak. Papah usahakan kesembuhan kau." ia mengusap air mataku.
Beliau bangkit, lalu berjalan ke arah sofa.
Kamarku leter L. Dengan ranjang, yang berada di bagian garis kecil.
"Dek... Ibu... Ini pintunya udah kebuka." seru papah Adi.
Derap langkah kaki seperti menyerbu kamarku.
Tiga orang bermunculan, dengan Zio berada di gendongan ibu. Dot botol yang dinanti Ceysa, langsung ditangkap oleh Ceysa.
"Ndhukkkk..." ibu langsung menubrukku, setelah menurunkan Zio di dekat ranjang.
"Mbak....." Ria langsung memelukku juga.
Ibu berada di pinggir ranjang, sedangkan Ria naik ke atas tempat tidur. Ia menginjak-injak bekas sarang tidur Ceysa.
"Ibu.... Aku kenapa?"
"Apa yang dirasa, Ndhuk?" ibu membingkai wajahku.
Ibu mengusap air mataku dengan ibu jarinya.
"Kaki aku kaku sampai ke dada. Yang bisa gerak bahu sama tangan aja, itu pun linu kali." aku begitu lemah sekarang.
"Mana HP kau, Dek?"
Aku mengalihkan pandanganku pada mamah Dinda yang bersandar di tembok. Ekspresinya wajahnya terlihat begitu bingung. Namun, yang membuatku terharu adalah matanya yang basah.
Beliau pernah berucap. Saat aku meninggal nanti, beliau tidak akan menangisiku. Tetapi, aku baru seperti ini saja. Mata beliau sudah terlihat sembab.
"Ini, Mah." aku mengulurkan ponselku.
Mamah Dinda langsung mengambil alih. Beliau bisa langsung mengoperasikan, karena aku tidak menggunakan kunci layar khusus.
"Hallo...." beliau beranjak dari tempatnya semula.
"Bu... Tolong urus Ceysa sama Chandra sampai aku sembuh." aku beralih memandang wajah ibuku yang sudah menua ini.
"Pasti, Ndhuk. Yang penting kamu sembuh." ibu mengusap-usap rambutku.
Aku baru bangun tidur. Aku tidak tengah berhijab sekarang.
"Siapin aja!" mamah Dinda sudah berada di dekatku.
Ia menaruh ponselku ke nakas.
"Kita ke rumah sakit dulu." ujar beliau.
Mata beliau berair. Hidungnya pun sampai memerah.
Ibu bangkit, ke berdiri sejajar dengan mamah Dinda.
"Apa gak ke tukang pijat aja dulu, Mah? Atau ke orang pinter?"
Ibu memiliki pemikiran kejawen yang dominan menurutku. Saat aku hamil Ceysa saja, ia selalu menyarankanku untuk menggunakan jimat seperti gunting kuku.
"Kalau di rumah sakit tak kebaca, kita cari alternatif. Kita harus rujuk Canda ke rumah sakit dulu, biar tau kondisinya." mamah Dinda merapihkan hijabnya.
"Di rumah Chandra sama Key dijaga Gibran sama Gavin aja, Bu. Ifa lagi pulang ke suaminya, karena hari minggu. Biar aku sama Dinda urus Canda, Ibu sama Ria urus anak-anak." papah Adi ikut merapat dalam kerumunan.
Ibu mengangguk, "Saya percayakan Canda sama kalian." ibu menatap mamah Dinda dan papah Adi bergantian, "Nitip dia ya, Mah? Tolong jagain dia di rumah sakit."
Mamah Dinda langsung mengangguk cepat. Lalu ia beralih menatapku.
"Kasih tau Mamah, di mana kau simpan dokumen kau? Pakaian kau, satu atau dua set buat jaga-jaga aja. Di mana kau simpan?"
Mamah Dinda jika tengah serius, beliau tidak banyak berbasa-basi.
"Di lemari semua, Mah. Dokumen di paling tengah, ada laci kan itu? Nah, di dalam laci itu." jawabku dengan memperhatikan beliau.
Mamah Dinda berjalan, mungkin ia ingin mengambil keperluanku.
__ADS_1
"Ini Ceysanya." papah Adi memberikan Ceysa pada Ibu, "Gibran puasanya nyambung, Bu. Dzuhur nanti dia buka puasa. Nanti setelah dzuhur dia puasa lagi. Tolong urus makan Gibran, Bu. Kalau kerepotan, bawa anak-anak ke Kin aja." lanjut papah Adi kemudian.
Drtttt.....
Ponselku yang berada di atas nakas bergetar.
Aku sulit meraih. Karena jika mengulurkan tangan terlalu jauh, aku merasakan sakit.
"Telpon." ujar Zio, dengan mengambil ponselku.
"Sini, Nak." papah Adi mengulurkan tangannya pada Zio.
Namun, bukannya memberikan ponselku. Zio malah tertunduk takut.
Papah Adi mengusap kepala Zio, "Kakek tak marah. Kakek minta telpon itu." terang papah Adi kemudian.
Zio mengangguk, lalu memberikan ponselku pada papah Adi.
"Ghifar." papah Adi menarik nama itu, ketika melihat layar ponselku.
Ponselku langsung berpindah ke telinganya.
"Ya, biar Papah bawa turun. Kau suruh Kin dulu, minta dia bantu ibu urus anak-anak."
"Okeh." papah Adi fokus menggulirkan layar ponselku, kemudian beliau langsung mengantonginya.
Papah Adi berbalik arah, "Dek... Abang bawa turun dulu, Ghifar udah di bawah." ujarnya kemudian.
"Ya." sahutan itu lamat-lamat.
Mamah Dinda sepertinya masih berada walk in closed milikku.
Papah Adi berbalik kembali, ia tersenyum samar. Namun, ia celingukan seperti mencari sesuatu.
"Mana hijab kau, Dek?" tanya beliau kemudian.
"Ini nih, Pah." Ria memberikan hijabku pada papah Adi.
"Dek, tolong bawain bantal ke mobil." perintahnya turun pada Ria.
"Ya, Pah." ia segera turun dari ranjangku.
"Lain kali nurut ya sama mamah?" ia mulai menundukkan punggungnya. Ia memasangkan hijabku, dengan mengangkat kepala bagian belakangku.
"Papah aku nyesel." aku mengalungkan kedua tanganku pada leher beliau, saat tangan beliau sudah berada di belakang lututku dan di punggungku.
Aku terisak kembali. Karena papah Adi tidak cuma sekali mengatakan, agar aku menurut pada mamah.
Ternyata, kesehatanku yang menjadi taruhan. Karena aku tidak mendengarkan peringatan beliau. Namun, aku masih menunggu titik terang dari kejadian ini semua.
Entah karena teracuni pemikiran ibu. Aku berpikir, bahwa aku tidak sehat sekarang karena permainan santet antar pedagang.
"Bismillah." tubuhku mulai melayang.
Urat leher papah Adi terlihat menonjol, ketika otot-ototnya terbebani diriku seberat lima puluh kilo ini.
"Bisa tak, Pah?"
Aku langsung celingukan.
Ghifar menunggu di lantai dua, di bawah tangga penghubung kamarku.
"Bisa. Kasih jalan! Sempit!" ujar papah Adi.
Aku semakin mengeratkan pelukanku pada leher beliau.
"Bang...."
Derap langkah cepat seperti tengah menuruni tangga dengan terburu-buru.
"Ya."
Aku malu pada Ghifar. Ia memberi jalan pada papah Adi. Matanya terlihat tersorot padaku. Semburat khawatir bisa aku baca dari sana.
"Canda, kau.....
...****************...
__ADS_1
Ghifar tuu nanti punya novel sendiri. Makanya kenapa, jarang muncul di Canda. Kalau banyak scene tentang Ghifar, takut kebaca tentang kerangka di novel terbaru nanti 😌 Buat informasi aja nih ya 🤗 Mohon maklumnya 🙏 Canda sama Ghifar tak mungkin sama-sama lagi ✌️ Meski di novel baru, Ghifar bakal jadi duda, tapi dia bukan nikah sama Canda. Kejadian Ghifar duda itu, sekitar tiga tahun dari novel Canda ini 🤗 Mohon maklumnya ya kak 😁🙏🙏🙏