
"Ayah... Liburan ayo." Chandra begitu semangat, saat melihat wajah ganteng ayahnya.
"Okeh. Ayah geser-geser jadwal nanti, buat liburan satu minggu sama Abang." mas Givan terlihat segar, dengan rambut yang masih basah.
"Ayah, Biyung ikut." aku mengubah suaraku seperti rengekan manja.
"Dek tut." Ceysa langsung nyempil, untuk melihat layar ponsel.
Mas Givan tertawa geli, "Adek Ces ikut juga?" tanya mas Givan pada anakku ini.
"Ya, tut Yah." Ceysa seperti tidak mengetahui siapa bapaknya. Ia hanya manut saja, ketika orang meminta dipanggil ayah atau semacamnya.
"Okeh, Adek Ces ikut. Iyo ikut tak?"
"Iyo...." mas Givan masih memanggil-manggil anak bungsunya.
"Iyo bobo, Yah." lapor pemilik nashab ini.
"Lah...." mas Givan seperti kaget.
"Arahin ke Zio, Canda!" suaranya sudah mulai tegas.
"Iyooo!!! Ziooooo!!! Bangun!!!!" penegasan mas Givan, malah membuat Chandra dan Ceysa saling memeluk.
"Zio tak boleh tidur lepas sarapan! Zio mandi!" pinta mas Givan kembali.
Zio menggeliat, ia mengucek matanya. Ia berkedip cepat, saat melihat layar ponsel menyala.
"Iyo bangun!!!" bentak mas Givan, membuat Zio langsung terduduk.
"Ya, Yayah." ia mengucek matanya.
"Berapa kali Ayah bilang? Zio jangan bobo, lepas sarapan. Zio bangun pagi kan? Sholat subuh tak? Mandi, sholat, sarapan, terus main. Zio belum sekolah aja gini, gimana nanti sekolah?" tegas mas Givan dengan suara lantang.
"Maaf Ayah." malah Chandra yang minta maaf.
Tepuk jidat aku dengan anakku sendiri. Siapa yang bersalah, Chandra yang malah meminta maaf.
"Iyo, Bang. Bukan Abang." aku mengulurkan layar ponselku lebih jauhl, agar mencangkup semua orang yang ada di sini.
"Ayah marahin Iyo, biar Iyo tak gitu lagi. Bukan marahin Abang." ujar mas Givan kembali.
"Ayah jangan marah terus. Nanti Abang dak punya Ayah lagi." suasana menjadi haru, karena ucapan Chandra ini.
"Punya. Sembarang kalau ngomong." merambat sudah amarah mas Givan.
"Udah coba, Mas. Jangan marah terus." aku memasang wajah memohon.
Mas Givan membuang nafasnya, ia terdiam memperhatikan kami semua di sini.
"Nanti Ayah telpon lagi. Ayah udah keburu bad mood."
Kan?
"Mas aku pengen ngobrol." tuturku perlahan.
"Nanti aku telpon lagi, kalau anak-anak tidur siang. Aku kaku sendiri, liat Zio tak disiplin."
"Ya udah deh."
Tut....
__ADS_1
Panggilan dimatikan dari mas Givan.
Mas Givan tidak mengerti, bahwa Zio masih anak-anak. Pastilah jam tidurnya belum teratur.
Jika ibu seumuran dengannya, atau di bawah umurnya. Pasti mas Givan tidak segan-segan memarahi ibu, lantaran tidak bisa merubah Zio menjadi anak yang disiplin.
Disiplin harga mati untuknya.
"Iyo mandi yuk? Terus main di bawah. Biyung mau beres-beres toko, masak, terus tunggu orang jualan sayur buat stok masak besok. Nanti cek Iyak datang, jaga toko. Tak ada orang di bawah, nanti cek Iyak balik lagi." aku menjelaskan panjang lebar, agar anak-anak mau mengerti.
"Ya, Iyung." Zio bangun, lalu melepas celananya.
"Bang Chandra temenin Adek Ceysa ya? Biyung mau mandiin Iyo di kamar ibu."
Chandra mengangguk, "Tonton tipi." bahasanya masih aduhai saja.
"Ya." aku menyalakan televisi kembali.
Lalu mencari tontonan kartun, sebelum aku membawa Zio ke kamar mandi ibu. Karena di sana perlengkapan mandi Zio berada.
Setelahnya, aku menggandeng Zio dan Chandra untuk menuruni tangga. Sedangkan Ceysa, ia nemplok bagai anak kangguru. Aku langsung membawa mereka, agar anteng dengan mainannya.
Setelah mereka terkondisikan, aku langsung membuka rolling door. Kemudian menyapu dan mengepel kawasan toko ini. Aku mengelap usaha air isi ulang ini, etalase dan lainnya.
Akhirnya, penjaga toko sudah datang.
"Nitip bentar ya? Mereka anteng di situ juga. Aku mau beli sayur, itu di depan rumah mamah." aku berbicara pada cek Iyak yang baru datang itu.
"Ya, Kak."
Aku masih dipanggil kak, lantaran aku dianggap keluarga juragan.
"Lagi apa anak-anak?" aku bertemu mamah Dinda, di pedagang sayur keliling ini.
"Lagi mainan, Mah. Tadi pagi mas Givan telpon. Ngamuk dia, tau Zio tidur lagi abis sarapan." aku berbicara, sembari memilih ayam yang sudah dibungkus seperempat.
"Disiplin itu anak." hanya itu yang keluar dari mulut mamah Dinda.
"Eit cieeeeee...."
Aku celingukan, untuk melihat pelaku yang meledekku itu.
Motor mereka berhenti. Mio automatic yang berwarna putih.
Zuhdi tersenyum jahil. Kemudian Giska turun dari motor, dengan menggendong anaknya.
"Cieee, mau dilamar." ejek Zuhdi kembali.
Mamah Dinda melempar ujung kangkung pada Zuhdi. Eh, malah tawa Zuhdi semakin menjadi.
"Sarapan belum, Had?" tanya mamah Dinda pada cucunya.
"Hadi, Nek. Had, Had, Had!" sewot anak dua tahun itu.
"Iya, Hadi." mamah Dinda mengulangi menyebut nama cucunya itu.
"Udah, sambil jalan-jalan. Beli jajan, beli baju, beli nanan." Hadi sampai melenggak-lenggokan kepalanya.
"Abis ke CFD, Mah." terang Giska.
"Abu main dulu ya?" Zuhdi masih anteng di motornya.
__ADS_1
"Main ke mana?" Giska yang nampak panik.
"Itu, ke Ghifar." Zuhdi menunjuk rumah yang paling jauh.
Giska mengangguk, "Jangan lama-lama."
"Eummm, empon lah kalo lama." celetuk Hadi.
Sepertinya Hadi sama-sama menyebalkan seperti Zuhdi. Bagaimana ya kehidupan Giska di rumah? Aku jadi ingin tertawa.
"Nah... Tos dulu dong, Hadi." Zuhdi mengangkat telapak tangannya ke arah anaknya.
"No! Abu nakal, sembelih." Hadi mengisyaratkan tangannya sebagai benda tajam, lalu ia menggosokkan ke lehernya sendiri.
Kami semua tertawa geli, melihat tingkah Hadi ini.
"Hadi aja lah yang disembelih." Zuhdi menarik kaos yang anaknya kenakan.
"No, no, no! Ma, Ma, Ma... Tolong Hadi." ia merengek ketakutan.
"Huuuu.... Cengeng!" Zuhdi menyoraki anaknya sendiri.
"Udahlah. Sana lah, Bang!" Giska langsung memberi suaminya pelototan tajam.
"Nanti empon aja ya, Ma?" ujar Zuhdi. Kemudian ia berlalu pergi dengan motornya.
Apa aku iri pada keluarga kecil Giska?
Ahh, rasanya tidak juga.
"Memang betul mau dilamar, Dek?" tanya mamah Dinda kemudian.
"Tak tau, Mah." aku menumpukan belanjaan yang aku pilih.
"Kata ma sama abu sih tadi bilang gitu, Mah. Ardi pulang-pulang joging, katanya minta nentuin tanggal aja. Ma sama abu cerita ke bang Adi."
Bang Adi adalah sebutan Giska untuk suaminya. Zuhdi dipanggil Adi oleh keluarganya.
"Terus?" mamah Dinda sepertinya tertarik mendengar obrolan ini.
"Ya Ardi keluar kamar tuh. Katanya sini ngobrol dulu, Bang. Tapi Hadi rewel, minta jalan-jalan terus. Jadi Ardi belum ngobrol sama bang Adi." terang Giska kemudian.
Mamah Dinda mendelik ke arahku, "Kok kau tak ada cerita apapun ke Mamah, Dek?" mamah Dinda mengerutkan keningnya.
"Memang belum ada obrolan apapun, Mah. Ardi cuma bilang tadi pagi katanya, udah kelamaan, udah tiga bulan, pengen disegerakan." aku memilih untuk mengatakan ini saja.
"Tadi pagi?" pandangan mamah Dinda menyudutkanku.
Apa yang salah dengan tadi pagi?
Aduh....
Aku lupa.
Ibu dan Ria kan tidak ada di rumah. Mamah Dinda pasti terpikirkan yang bukan-bukan.
Aku menggaruk kepalaku yang terlapisi hijab, "Anu, Mah....
...****************...
Mesti aja 🙄 gak bisa main rapih 🤣
__ADS_1