
"Ini nih Nalendranya." ibu memperkenalkan bang Daeng pada bibi Hana dan om Carman.
"Ohh, ini." bibi Hana manggut-manggut.
Apa maksudnya mengatakan hal itu? Buat tersinggung saja!
Bang Daeng tersenyum, lalu ia menyatukan kedua tangannya di depan tubuhnya.
"Salam kenal Om, Bibi." sapa bang Daeng sopan.
Alasannya ia memilih menyapa seperti ini, karena keadaan luka operasinya. Bang Daeng belum bisa merunduk dan jongkok.
"Ya, salam kenal. Orang mana? Beda budaya ya?"
Hadeh, tahu apa sih tentang budaya?
Jangankan budaya bang Daeng. Budaya tempat aku tinggal sekarang saja, entah beliau mengerti atau tidak.
"Kenapa memang, Bi?" bang Daeng terlihat kaget.
"Kan biasanya sungkem gitu, cium tangan." terang bibi Hana, "Givan juga dulu gitu kok." tambahnya kemudian.
Namun, bang Daeng lebih memilih menyibakkan kemejanya.
"Maaf, Bi. Aku gak bisa ngelakuinnya, aku punya luka operasi yang belum kering." jelas bang Daeng langsung.
Pasti, ia mencoba menekankan kesopanannya sejak tadi. Hanya saja, keluarga luar mana tahu keadaan bang Daeng sekarang.
"Ohh..." bibi Hana manggut-manggut, "Sakit apa? Atau kena tusuk sajam?"
Aku yakin bibi Hana tidak benar-benar perhatian. Ia hanya kepo saja.
"Sakit." jawab bang Daeng singkat, dengan tersenyum lebar.
"Mangge.... Nene uttu datang." seru Jasmine dengan begitu gembira.
"Siapa, Bang?" aku takut bang Daeng malah mengundang keluarga Putri.
Bisa jadi kan, yang Jasmine maksud adalah family dari ibunya.
"Datonya Abang. Kan, untuk Ceysa sama Jasmine ini buyut."
Oh, iya. Aku mengerti.
"Sebutannya nene uttu, mau perempuan atau laki-laki." lugasnya kemudian.
Aku manggut-manggut, lalu aku mengalihkan pandanganku pada bibi Hana.
"Tinggal dulu ya, Bi. Aku mau sambut keluarga bang Lendra dulu." aku menggandeng tangan bang Daeng.
Bibi Hana hanya manggut-manggut. Urat wajahnya terlihat begitu judes.
__ADS_1
Eh tunggu dulu. Aku melihat mimpi seseorang di ujung sofa sana.
Aku cekikikan, dengan meninggalkan ruang tamu minimalis itu. Mas Givan terlelap, dengan bersandar pada Ria yang sibuk bermain ponsel.
Sepertinya, putra sulung mamah Dinda itu benar-benar kelelahan. Namun, ia tidak enak meninggalkan acara sidang dari bibi Hana ini.
"Malu, Dek. Belum sah, gandeng-gandeng terus." bang Daeng menurunkan jemariku dari lengannya.
"Maaf ya?" tambahnya, saat aku memandangnya datar.
Aku nyaman menggandengnya. Aku suka melakukan hal itu, bahkan sejak dulu.
"Kalau udah sah, tidur pun aku mau gandengan tangan." tuturku, yang malah membuatnya cekikikan.
"Bisa-bisa, jadi serasa tidur di zebra cross. Pilihkan juga sprainya yang belang-belang gitu."
Aku mencubit pinggangnya pelan.
"Akhhhh...." bang Daeng malah mengaduh cukup heboh, dengan mata yang terpejam rapat.
Bang Daeng langsung bersandar pada tiang penyangga teras. Sungguh, aku merasa sangat bersalah sekarang.
"Maaf, Bang." aku menyentuhnya, mencoba untuk membantunya.
Bang Daeng mengangguk, ia menahan tanganku yang tengah menyentuh bagian yang ia sentuh.
Ia menyingkirkan tanganku dari sana, "Jangan disentuh, Dek. Ini bener-bener sakit." bang Daeng masih meringis kesakitan.
"Maaf, Bang. Aku tak sengaja. Aku kira, itu tak nyakitin Abang." aku sudah berkaca-kaca melihat respon kesakitannya.
"Gak apa, Abang paham. Cuma keadaan Abang aja, yang memang belum fit." ia menyentuh punggung tanganku, lalu mengusap-usap punggung tanganku dengan ibu jarinya.
"Hadeh....." seruan papah Adi.
Aku menoleh pada beliau yang duduk di salah satu kursi lipat, untuk para tamu undangan itu. Beliau duduk dengan memangku Adib di sana.
Aku memamerkan gigiku yang sudah kembali ke warna normal. Karena tak pernah kembali perawatan, setelah melakukan veneer gigi.
"Sambut dulu tamu kau! Bukannya mesra-mesraan dulu." papah Adi menunjuk kerumunan yang berada di teras rumah minimalis, yang berdiri di sebelah kanan rukoku ini.
"Iya, Pah." aku berjalan lebih dulu, dengan bang Daeng mengikutiku.
Aku bisa melihat hadirnya Dikta yang tengah menggandeng anak yang sudah cukup besar. Aku juga bisa melihat Ferdi, yang berdiri di sebelah dato.
Dato itu, kakeknya bang Daeng. Sedangkan istri dato, sudah almarhum beberapa tahun silam. Aku mendengar itu, dari cerita bang Daeng.
Beliau sudah terlihat menua dan renta. Tetapi, beliau masih bisa berjalan tegap dan masih mampu berbicara keras.
"Serius ini, minta nikah." gurau dato, saat melihatku dan bang Daeng berjalan ke arah mereka.
"Awalnya, akad tanpa wali. Sekarang, rujuk malah resepsi" celetuk Ferdi.
__ADS_1
Aku tersindir. Namun, aku mampu menyamarkannya dengan senyum ramahku.
"Biasalah." jawab bang Daeng begitu enteng.
"Hai, Ganteng." bang Daeng mencolek dagu anak laki-laki yang berdiri di sebelah Dikta.
"Kok gak mirip aku, Dikta?" tanya bang Daeng dengan memasang ekspresi keheranan.
Ini tentu lucu. Ditambah lagi, ucapannya yang nyeleneh itu.
"Kan ini bukan anak Daeng." jawab Dikta polos.
Gelak tawa bergembira, karena gurauan ringan ini.
Lalu, kami semua masuk ke rumah minimalis ini. Aku menyediakan beberapa suguhan untuk tamu-tamu ini.
~
"Nurut aja coba, Len. Dari hari ini, sampai nanti subuh sebelum kau akad nikah kau stay di rumah sakit dulu. Barulah nanti setelah resepsi, aku antar kau lagi ke sini." Ghifar sampai mengoceh hebat, saat baru sampai mengantarkan bang Daeng untuk cek kesehatan di rumah sakit terdekat.
Kinasya muncul dari dalam mobil. Hijabnya sudah tidak jelas. Ia sepertinya pun dilanda kefrustasian.
"Ghifar yang bukan orang medis aja paham, Len. Kau dikasih saran, selalu nolak terus. Ini semua, untuk kebaikan kau juga." tambah Kinasya dengan berjalan ke arah teras rukoku, mengikuti langkah kaki suaminya.
"Ini udah H-1, aku mau di sisi Canda, di sisi anak-anak aku." wajah bang Daeng terlihat begitu pucat. Bahkan, putih-putih matanya sudah terlihat begitu menguning.
Ya Allah, jangan kau buat aku panik melihat keadaan calon suamiku ini.
Ia duduk di sebelahku, di kursi lipat yang nantinya untuk para tamu undangan datang.
"Coba ikut saran Kin dulu, Bang." ucapku lembut, agar bang Daeng bisa menerimanya.
Bang Daeng menoleh ke arahku. Tatapan matanya begitu menyedihkan. Apa maksud di balik tatapannya ini?
"Abang masih kuat, Abang masih pengen di sini sama Adek." punggung tanganku merasakan hawa panas dari telapak tangan bang Daeng.
Demamnya pun tak kunjung menurun, meski obat-obatan telah ditelannya.
"Aku tak ke mana-mana, Bang. Abang di rumah sakit sejenak, cuma biar Abang fit pas akad." aku tetap mempertahankan suara lembutku, agar bang Daeng mau menurut.
Ia menggeleng, "Abang cuma butuh minum obat, terus istirahat."
"Ya udah! Sana lah kau tidur! Susah diatur, keras kepala!" Kin sewot, dengan meninggalkan teras rukoku begitu saja.
"Iya nih." tambah Ghifar menyudutkan bang Daeng.
Ia pun mengekori istrinya dalam sekejap.
"Abang ke rumah mangge dulu ya? Abang mau istirahat sejenak."
Aku mengangguk, membiarkannya berjalan pelan menuju ke samping kanan ruko ini. Aku tengah mengawasi anak-anak di sini. Jika aku mengikuti bang Daeng, aku takut ada tragedi anak-anak jatuh dari kursi.
__ADS_1
...****************...
Besok nikah dong 😍 ayo, siapa mau jadi bridesmaidnya 😄