
"Kau hamil?" pertanyaan itu lolos dari mulut mamah Dinda.
Aku tak berani memandangnya. Aku pun tak bisa menjawab apa yang beliau pertanyakan.
"Jadi Mamah gagal ngelindungin kau?! Baru juga Mamah berencana buatin kau usaha, biar kau tak pergi jauh. Biar tak begini. Biar kebodohan kau, kepolosan kau tak buat bumerang untuk diri kau sendiri!" suara mamah Dinda menurun dengan isakan kecil.
Beliau menangis?
Mamah Dinda kecewa padaku?
Aku meluruskan pandanganku, mencoba memberanikan diri untuk memandang beliau yang selalu mengasihiku ini.
"Maaf, Mah." aku menggenggam tangannya yang masih memegang alat tes itu.
"Kau hamil anak siapa?" aku dan mamah Dinda menoleh bersamaan pada Ghifar, yang berada di antara kami.
"Maksud kau gimana?" mamah Dinda menggoyangkan lengan anaknya.
"Mah, aku lagi bawa Kaf. Jatuh dia nanti." Ghifar memundurkan posisinya.
"MAKSUD KAU APA??? KENAPA KAU TANYA KEK GITU? DARI HARI ITU KAU NGAKU AMBIL KAMAR BARENG CANDA, UDAH MUNCUL KECURIGAAN MAMAH TENTANG INI. JANGAN BILANG INI ANAK KAU?!"
Aku terpojok di tembok, aku begitu syok mendengar suara menggelegar dari mamah Dinda. Tangis Kaf langsung pecah, ia seperti kaget dengan bentakan neneknya.
Mamah Dinda murka.
__ADS_1
"Aku cuma nanya Canda hamil anak siapa, Mah." Ghifar menggulir sorot netranya ke arahku.
Kin muncul, ia segera mengambil alih anaknya.
"Kau tau, Far? Mamah paling tak suka yang namanya pengkhianat! Baik-baik lah kau sama istri kau. BUKAN KEK GINI!!! GIMANA KALAU UDAH BEGINI?! KAU BISA APA?! DENGAN CANDA POSITIF, YANG KUASA TELAH MEMBUKTIKAN TINGKAH KAU DI BELAKANG ISTRI KAU?! KENAPA TAK PERNAH ADA YANG BELAJAR DARI CERITA ORANG TUA KAU! CUKUP ADI RIYANA, CUKUP GIVAN. JANGAN JUGA KAU!!! TIDAK DENGAN CERITA YANG SAMA! TIDAK DENGAN PENGKHIANATAN! TIDAK DENGAN PERSELINGKUHAN!"
Aku menangis di pojokan, semua orang berkumpul di sini. Aku malu mendapat penghakiman yang keliru ini. Kenapa mamah Dinda tak bertanya dulu padaku?
"Papah ke mana, Tik?" itu adalah suara mas Givan.
"Anter anak-anak tahfidz." Tika berada di belakang Kin yang memandangku dengan begitu marah. Matanya merah, wajahnya basah.
Aku mengedarkan pandanganku, menatap orang-orang yang menatapku bengis. Aku seolah pelaku yang berhak mendapat hukuman berat di sini.
Ia selalu manis, ia selalu lembut, ia selalu terlihat matang jika dihadapkan dengan ibunya.
Ia sepertinya baru datang. Ia pulang untuk mandi, lalu setelah ini ia langsung pergi lagi. Itu yang aku tahu dari rutinitas mas Givan setelah tidak pulang semalam.
"Aku nanya karena aku ngerasanya tak terlalu jauh sama Canda, Mah. Mamah kenapa sih langsung murka kek gitu?"
Ya, aku harap Ghifar menjelaskan.
"Aku kurang apa sih, Yang?" pertanyaan itu sungguh menyayat hati.
"Udah, Kin!" mas Givan mencoba melepaskan tangan Kin yang mencengkram erat lengan Ghifar.
__ADS_1
"Kin!!! Suami kau bisa luka." suara mas Givan terlihat panik.
Jemari Kin begitu menusuk lengan Ghifar. Meski setahuku, kuku-kuku itu tidaklah panjang. Namun, pasti itu sangat menyakitkan.
"Tik... Tolong panggil papah." mas Givan merangkul pundak Kin dan mamah Dinda.
"Nad..... Pegang dulu itu Aksa!!" seruan mas Givan pada orang-orang yang berada rumah ini.
Langkah kaki mas Givan berhenti. Ia menoleh padaku dan Ghifar.
"Sini Canda. Kau ikut juga, Far." pintanya kemudian.
Ghifar melangkah mendahului, sedangkan aku masih diam di tempat. Aku bersalah di mata semua orang. Tapi sepertinya, tidak ada yang ingin mendengar penjelasanku. Mereka semua sudah termakan pemikiran dan penghakimannya sendiri.
"Hei...."
"Hei... Canda...." bahuku ditepuk-tepuk oleh seseorang.
"Itu......
...***************...
Hamil sama siapa?
Anak Ghifar kah? 🥺🥺🥺🙄
__ADS_1