
"Mamah Dinda pernah bilang kek gitu, waktu dia siaran langsung." ucapku dengan tersenyum lebar.
Agar rasa was-wasku, tersamarkan dengan senyumku.
Bang Lendra manggut-manggut, "Padahal suaminya cuma tukang ladang ya? Tapi perasaan pada bucin-bucin betul." ujar bang Lendra kemudian.
Dia tidak tahu saja, berapa jumlah ladang yang mampu papah Adi kembangkan.
"Perempuan kalau masalah uang sama masalah ranjang terpenuhi, keknya bakal bucin Bang." ini pernah dikatakan oleh papah Adi.
Papah Adi pernah menasehati anak-anaknya, agar memenuhi kebutuhan lahir dan batin istri mereka. Apa lagi pada Ghavi yang gila kerja. Papah Adi pernah menekankan Ghavi untuk memenuhi kebutuhan biologis Tika. Karena Ghavi sering tertidur di ruang tamu, karena kelelahan pulang bekerja.
Jika Ghava, dia adalah tipe orang yang bekerja secukupnya. Ghifar lebih lagi, ia bekerja hanya untuk tanggung jawab saja. Ghifar pernah berucap, bahwa pabrik kopi bukanlah pilihannya untuk mencari nafkah. Ia merasa lebih cocok pada travel, ketimbang pabrik pengolahan biji kopi yang ia dapat dari warisan keluarga mereka.
Satu ayah, tapi mereka cenderung berbeda-beda sifat dan keminatannya.
"Oh kek gitu ya! Ukuran juga penting kah?" urat wajahnya terlihat genit. Senyum dan permainan matanya terlihat begitu menggoda.
"Mungkin, tapi menurut aku sih skill juga penting. Buat apa panjang besar, kalau cuma paham keluar masuk aja?" aku menjawab lurus. Tidak menyinggung soal ukurannya atau mengingat ukuran yang mas Givan miliki.
Bang Lendra manggut-manggut, lalu ia menoleh ke arah lain.
"Putri lagi perjalanan mau ke sini. Tapi dia ada singgah di kota neneknya dulu, mungkin lusa dia baru sampai."
Kenapa aku merasa runyam sendiri?
Aku takut Putri memberiku pelototan tajam seperti Venya.
"Nanti dia kek kak Venya tak, Bang?" tanyaku kemudian.
"Putri lebih cemburuan. Udah diundur-undur padahal sih, udah dicegah juga. Tapi dia maksa, karena lama gak ketemu, dia kata kangen. Kadang Abang bingung, kangen itu rasanya kek mana?" ia sepertinya tengah galau.
Tatapannya kosong, dengan urat wajah yang murung.
"Rasanya kek kehilangan. Terus nanti ketemu kek mana? Abang cek in kamar sebelah? Atau satu tempat sama aku sama kak Raya?"
Jarak dari awal operasi sampai sekarang, mungkin sekitar tiga jam. Padahal aku sempat puasa, tapi sampai saat ini aku belum lapar ataupun haus. Mungkin saat ini, aku masih dalam pengaruh obat.
"Satu tempat aja lah. Cek in, nanti malah hubungan."
Kenapa spesifikasi kege'eran padanya kini muncul kembali?
Ia melirikku sekilas, lalu pandangannya lurus kosong kembali.
__ADS_1
"Abang udah males sebenarnya. Entah kenapa, se*s tuh udah gak menarik lagi. Ada rasa seneng sama seseorang, tapi toxic keknya buat diri Abang. Karena orang tersebut, kek masih sengketa. Kalau barang sengketa, nanti kek Enis lagi." lanjutnya kemudian.
Apa maksudnya?
Apakah itu aku?
Bukannya kege'eran, tapi aku merasa seperti yang ia katakan. Aku masih sengketa, aku masih berstatus sebagai istri orang.
Bahkan tadi saat mengurus data diriku untuk di rumah sakit ini, bang Lendra mengaku sebagai suamiku.
"Terus kek mana, Bang?" aku tidak tahu harus menimpali apa.
Ia menoleh sekilas padaku, "Ya, gak gimana-gimana. Cuma mau mantepin diri sendiri, biar tahun depan bisa ambil komitmen sama perempuan. Putri... Mungkin Abang lepas dia pelan-pelan. Putri bukan pilihan Abang, dia pun kek ada main sama orang sana. Bilang dia mau tidur, tapi gak lama bikin story lagi di coffe shop sama teman-temannya. Kata Abang sih udah aja ya? Hubungan gak sehat gini tuh. Bikin capek hati masing-masing, buang-buang waktu cuma buat tukeran kabar aja. Mending bebasin aja satu sama lain. Tapi kemarin Abang minta putus, bapaknya langsung telpon. Ya gimana gitu? Ekonomi Abang belum stabil." ungkapnya kemudian.
Ia seperti tengah bercerita pada kak Raya. Mungkin ia sudah percaya padaku, untuk menjadi tempat keluh kesahnya.
"Memang tak ada cara lain kah, Bang? Maksudnya, Abang ikhlasin aja bisnis walet itu. Abang sabarin gaji sama usaha pintu apartemen itu." hanya itu yang ada di kepalaku.
Ia menggeleng, "Gak bisa, Dek. Abang belum bisa lepas dari walet, Abang belum stabil."
Bang Lendra adalah orang yang sulit diberi nasehat.
"Maaf ganggu."
"Ibunya sudah boleh makan dan minum. Silahkan dinikmati. Bapak diminta untuk mengambil obat segera." ia menatapku dan bang Lendra secara bergantian.
"Iya, Kak. Saya mau bantu istri saya makan dulu." sahut bang Lendra, dengan mengambil alih senampan makanan yang ia berikan.
Petugas tersebut mengangguk, lalu pamit pergi dari ruang kamar inapku.
"Miring kepalanya aja, Dek. Jangan dulu bangun."
Aku menuruti perintahnya.
Aku minum lewat sedotan yang terhubung dengan air mineral kemasan botol. Aku makan pun, dalam posisi miring kepala saja.
Rasa sakit di intiku, seperti luka jahit saat aku melahirkan Chandra dulu.
~
Ini sudah hari keempat, sejak aku melakukan perombakan pada bagian intiku. Aku sudah bisa berjalan, sekarang pun aku sudah berada di kamar hotel kembali.
Kini, tamu bang Lendra tengah bergelayut manja pada lengan bang Lendra. Mereka tengah duduk di salah satu sofa panjang, yang berada di dekat jendela.
__ADS_1
Tv yang tergantung di tembok tengah menyala dan menjadi perhatian kami semua.
Aku dan kak Raya tengah merebahkan tubuh di atas tempat tidur, sedangkan Chandra ia tengah rambatan pada tepian ranjang. Ia sudah semakin ahli mencari benda untuk berpegangan, hanya saja nyalinya masih belum kuat.
"Sini, Dek. Nanti Mangge kasih cicis." bang Lendra menunjukkan selembar uang berwarna biru, untuk menyemangati Chandra berjalan.
Namun, Chandra malah tertawa layaknya anak kecil sembari bertepuk tangan.
Sayangnya, Chandra belum bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
Blukkkk...
Alas duduk itu terhentak di lantai kamar hotel ini.
Aku, bang Lendra dan mata yang menyaksikan. Reflek mengeluarkan suara meninggi, karena kaget melihat Chandra terduduk.
Aku masih sedikit sulit untuk bangun. Tetapi, dengan cepat bang Lendra melepaskan cekalan tangan wanitanya. Lalu ia berjalan mendekati Chandra.
"Empat belas bulan, belum bisa jalan? Hmm... Lemah!" bang Lendra berbicara layaknya konten-konten yang ramai di sosial media.
Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Chandra bangun.
"Sini yuk? Kita main HP aja." bang Lendra duduk kembali di samping Putri itu.
Hanya saja, di pangkuannya terdapat Chandra yang begitu manja bersandar pada dadanya.
"Coco Melon? Baby Bus? Little Angel? Chandra mau apa?" terlihat bang Lendra menggulirkan ibu jarinya pada layar ponselnya.
"Ya ampun... Sampai hafal." timpal kak Raya dengan tertawa lepas.
"Hafal, tiap mau tidur jadi harus HP aja akhir-akhir ini. Biyungnya lagi sakit, Mangge gak punya ASI, Chandra gak bobo-bobo pakai nen dot, jadi HP deh yang beraksi."
Memang belakangan ini, Chandra sering bermain ponsel sepengawasan bang Lendra. Karena aku belum boleh untuk mengangkat beban yang cukup berat, seperti Chandra. Ditambah lagi, obat dari rumah sakit membuatku lebih sering tertidur.
"Baby Jhon lagi?!" ujar kak Raya, saat mendengar suara dari ponsel bang Lendra.
Setahuku, baby Jhon adalah artis dari Little Angel. Aku hanya memiliki lagu anak-anak, dalam video animasi. Sedangkan bang Lendra, berseluncur dalam dunia animasi anak-anak berbagai cerita.
"Aku cemburu, kamu main sama dia terus Yang!" seru Putri dengan bersedekap tangan.
Tatapannya tak kalah menakutkan, dari pemeran film-film horor.
...****************...
__ADS_1
Ada yang menantikan crazy up ya 😁 segera ya kak 🤗