Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD102. Melihat intinya


__ADS_3

Aku merasa geli sendiri, saat bujang rasa duda ini menanyakan perihal doa untuk berhubungan.


"Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna." ucapku kemudian.


Bang Daeng mengangguk, "Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna." bang Daeng langsung bisa mengikutinya.


Jangan ditanya serangannya. Ia ahli dalam bidang menggigit, entah ini sejenis serigala atau pengerat. Tapi giginya begitu pandai memberi serangan yang bertubi-tubi.


Aku membuka mataku, saat tak mendapat serangan lagi di bagian dadaku. Ya, secepat itu ia mencapai gunung kembar milikku.


Bang Daeng bangkit, ia seperti mencari sesuatu dalam plastik minimarket miliknya. Selepas mengantar mangge ke PT, bang Daeng pulang mencangking plastik berlogo minimarket biru.


"Lubricant, k*ndom ribbed, delay, pleasuremax, buat variasi sama stimulasi Adek." ia menunjukkan beberapa barang dari kantong plastik tersebut.


Ya ampun.


Ini adalah gel pelumas, lalu beberapa k*ndom dalam satu merek D*rex.


"Apa biar aku tak hamil?" tanyaku kemudian.


Sejujurnya, aku sedikit tersinggung di sini.


Seumur-umur aku dengan mas Givan. Aku tidak pernah menggunakan yang seperti ini. Namun, saat pengantin baru dengan mas Givan. Aku pernah mendapat k*ndom yang masih terbungkus rapih di saku celana jeans-nya. Ia mengatakan, ini adalah stok lama. Ia tidak tahu, jika ia masih mengantongi benda itu di sakunya.


Entah benar, atau berbohong. Yang jelas, saat itu rumah tanggaku masih baik-baik saja.

__ADS_1


"Bukan juga sih. Yang ini, biar Abang tahan lama." ia menunjukkan k*ndom bertuliskan delay, "Kek ada obat kuatnya gitu." tambahnya kembali.


"Yang ini, biar Adek kegelian. Mau coba kah?" ia membuka dus k*ndom bertuliskan ribbed.


"Nanti deh. Aku masih takut yang tak pake k*ndom juga." aku mengambil alih barang itu, lalu menaruhnya di dekat bantalku.


Namun, bang Daeng malah melepaskan celana jeans pendeknya. Ia malah begitu eksis dengan segitiga berkaret itu.


Kepala keduanya, sampai mengintip di balik karet pinggangnya. Sepertinya, ia sudah merasa sesak di dalam sana.


"Udah sakit." bang Daeng langsung melepaskan segitiga tersebut.


"Aw..." aku menutup mataku dengan kedua tanganku.


Menyeramkan.


Aku merasakan goyangan di ranjang ini, lalu selimut tiba-tiba naik sebatas dadaku.


Aku membuka mataku perlahan. Bang Daeng sudah merebahkan tubuhnya kembali di sampingku, tubuh telan*angnya ditutupi selimut.


Matanya terpejam, tangannya seperti mengusap sesuatu di dalam selimut.


Aku harus bagaimana? Apa ia ingin aku naik ke atasnya?


Rasanya, tidak mungkin aku lakukan hal seperti itu.

__ADS_1


"Kenapa, Bang?" tanyaku kemudian.


"Udah tegangan tinggi aja, takutnya gak kuat lama." ujarnya dengan menoleh ke arahku sekilas.


"Bang, besar kali sih." aku meraba dadanya yang tidak tertutupi selimut.


"Iya kah?" ia menangkap tanganku, lalu membimbingnya ke arah bawah.


Hangat, suhu yang berbeda dengan suhu badannya. Keras dan panjang. Namun, tidak sepanjang milik mas Givan. Kepalanya besar, setara dengan besar batangnya. Sedangkan milik mas Givan, hanya besar di bagian kepala saja. Batangnya cenderung mengecil sampai ke pang*alnya.


Ini tidak, ia besar dari pang*kal sampai ujung.


Menyeramkan.


"Coba mainin pakai tangan Adek." ia membawa tanganku naik turun di batang itu.


"Coba Adek duduk. Coba tengok, cocok gak?" bang Daeng menyingkap selimutnya begitu saja.


Terpampang jelas di depan mataku. Bang Daeng tanpa malu, memperlihatkannya.


"Katanya skill itu penting. Coba, Abang pengen tau sejauh mana skill Adek mainin punya laki-laki."


...****************...


Hayo? Tertantang kah kalian sebagai emak-emak 😝 canda bisa gak nih.

__ADS_1


__ADS_2