
Malam itu, kami bercakap-cakap tentang banyak hal. Sampai Kaf pulas, karena seperti mendengar dongeng dari obrolan kami. Kemudian, kami pun tertidur di ranjang ukuran king size ini.
~
"Halah! Memang kau yang gatal." tuduh Nadya, ketika mendapatiku dan mas Givan tengah mengobrol.
"Kau kenapa sih, Nad? Tak sadar diri kah? Awal pun kau yang gatal sama suami orang. Segala kau tuduh Canda begini begitu."
Aku melongo tak percaya, melihat mas Givan seolah tengah membelaku. Aku ingin seperti ini saat dulu. Bukannya ia diam saja, saat aku dimaki-maki oleh Nadya dulu.
Nadya menunjuk mas Givan, "Keterlaluan ya kau, Van! Kau yang hancurkan rumah tangga aku, kau perusak rumah tangga aku, tapi seolah aku yang bersalah di sini." bola matanya hampir melompat.
"Kau yang tak waras, Nad. Harusnya kau udah tau resikonya, masa aku bilang aku tak mau tanggung jawab. Kenapa segala kau pertahanan kandungan kau? Seolah-olah kau begitu ingin jadi istri aku. Hari itu kau pun udah tau, hubungan kau sama suami kau bakal membaik. Tapi kau runyamkan segalanya, dengan ngajak aku ambil kamar. Dari awal aku tekankan, aku tak mau tanggung jawab, aku beristri dan aku punya anak. Aku seolah alasan dari runtuhnya rumah tangga kau. Nyatanya, kau sendiri yang pengen rumah tangga kau pun hancur." mas Givan mengeluarkan suaranya yang menggelar
__ADS_1
"Aku pikir, kau sehebat dulu Van. Kau pelit, kau kikir, kau kenyang sendiri, kau egois, kau galak, kau tukang bentak, kau tak sayang anak kau sendiri. Aku benci kau, aku nyesel hidup sama kau." Nadya nangis tergugu di depanku dan mas Givan.
"SENGAJA! BIAR KAU MINTA CERAI. AKU UDAH CAPEK, NAD. AKU PENGEN SENDIRI. AKU HANCUR SEKARANG. AKU TAK BISA BENAHI KEHIDUPAN AKU, AKU TAK BISA PULIH DARI RASA TERPURUK AKU. AKU TAK PUNYA TUJUAN HIDUP. AKU TAK PENGEN APAPUN SEKARANG. AKU TAK PEDULI KAU, MAUPUN ANAK-ANAK KAU. PULANGLAH KAU KE ORANG TUA KAU. AKU CAPEK, NAD! DENGAN ADANYA KAU DI KAMAR AKU, AKU NGERASA RISIH, AKU SESAK, AKU PUSING, AKU MALAS PULANG."
Setelah memberikan kata-kata yang menohok, mas Givan langsung pergi begitu saja.
Aku tidak tega, melihat Nadya begitu hancur. Ia terduduk menangis sembari mendekap dua keturunannya.
"Masuk, Dek!" aku menoleh cepat ke arah pintu samping ini.
Aku hanya mengobrol, membahas Key yang akan bersekolah nanti. Tapi Nadya langsung kebakaran jenggot. Alhasil, mas Givan langsung mengeluarkan kata-kata mutiaranya.
Sepertinya, Nadya ingin hidup enak dengan mas Givan. Sayangnya, mas Givan tengah berada di fase kehilangan arah angin.
__ADS_1
Aku memandangnya. Satu yang aku takutkan darinya. Aku takut Nadya bunuh diri, lalu hantunya bergentayangan di rumah ini.
Semoga saja, Nadya tak pendek pikir. Ia terlihat begitu terpuruk, ia menciumi wajah Ziyan dan Zio. Pasti ia sangat menyesal sekarang, karena telah mengembangkan kebodohannya yang tak berfaedah itu.
Kalau saja dari awal, ia mau memperbaiki rumah tangganya dengan ayahnya Ziyan. Pasti ia bahagia sekarang. Aku bukan mengatakan Zio adalah kehancurannya. Tapi sayangnya, ayahnya Zio bukanlah laki-laki yang pantas diharapkan.
Satu nama perempuan yang tersemat di otakku sekarang. Harusnya, wanita itu yang bertanggung jawab dari kehancuran hidup mas Givan.
Yaitu, Ai Diah.
...****************...
Ai Diah atau Fira 😏
__ADS_1
Ditunggu jam 3 sore ya 😉