
Alhamdulillah, doain bisa up panjang lagi 😁 terima kasih yang masih menunggu sampai sekarang 🙏🤗 yang masih bersabar ngikutin alurnya 🥺
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau sering chatting sama dia?" tanyaku kemudian, dengan mengikuti langkah Ria.
Ia menoleh ke arahku, "Siapa, Mbak?" ia melanjutkan langkah kakinya, lalu ia duduk di sofa tamu.
Seperti biasa, Ria langsung mengeluarkan jimatnya. Yaitu, ponsel.
"Bang Ardi." aku pun duduk di sofa tersebut.
Ria menggeleng, ia melirikku sekilas.
"Aku numpang aja. Dia awalnya lewat, kek tak nampak aku. Terus aku teriakin, abang numpang ke rumah. Gitu, Mbak." terang Ria kemudian.
"Mbak cemburu?" tanyanya kembali.
Aku menggeleng, "Bukan cemburu. Tapi kalau bisa, kau jangan pacaran sama mantan Mbak." aku hanya menjelaskan yang gampang dipahami Ria.
Tidak mungkin aku mengatakan break, atau istirahat sejenak.
Ia menatapku dengan bibir yang begitu lancip, "Ya gak lah!"
Aku terdiam, memperhatikan Ria yang masih memainkan ponselnya. Bukannya cepat membuka belanjaan, agar aku mengetahui apa yang kurang.
"Ibu belikan sepeda aja ya? Biar kamu ke pasar, ke warungnya pakai sepeda. Biar gak usah numpang lagi, Mbakmu udah manyun aja tuh."
Aku dan Ria menoleh serentak, pada ibu yang keluar dari dapur dengan membawa semangkuk makanan.
"Yuk, Inces mam sama bang Iyo." ibu melambaikan tangannya dengan tersenyum lebar pada Ceysa.
"Mam pa?" Ceysa langsung mencoba turun dari gendonganku.
Ibu menilik isi mangkuk yang ia bawa, "Mam sayur asem, kesukaan Inces." ibu menggulirkan pandangannya pada Ceysa kembali.
"Mau, mau." Ceysa langsung nyeruntul ke arah ibu.
"Ayo." ibu menggandeng tangan mungil Ceysa, "Ke dapur dulu yuk? Ibu tambahin nasi, biar bang Iyo sama Adek Inces makannya kenyang." ucap beliau kemudian.
"Ceysa belum mandi itu, Bu." timpalku cepet.
__ADS_1
"Biar nanti setelah makan." seru ibu dari dalam dapur.
"Buuu... Sepeda gunung aja ya, Bu? Yang kek punya papah." Ria menyerukan suaranya.
Tak lama, ibu muncul dari dapur. Dengan membawa mangkuk makan. Sedangkan Ceysa, ia sudah asik menikmati air mineral kemasan gelas yang terlihat begitu sejuk.
"Sepeda yang ada keranjangnya aja, buat taruh belanjaan." jawab ibu kemudian.
"Tapi...." Ria seperti tengah berpikir keras.
"Apa, Dek?" tanyaku kemudian.
"Aku tak pernah belajar sepeda. Memang bisa ya aku naik sepeda?"
Humor receh.
Aku dan ibu kini tengah mentertawakan Ria.
"Belajarlah dulu itu punya Gavin. Sepeda BMX." timpalku kemudian.
Ria menjentikkan jarinya, "Ahh, iya ah. Aku ke papah dulu." Ria mengalungkan ponselnya di lehernya, dengan strap yang menyatu softcase ponselnya itu.
Drama strap dengan softcase seharga lima puluh ribu itu, terjadi beberapa hari yang lalu.
Ia sadar tak memiliki uang. Ia paham kakaknya tengah kelabakan uang. Segala COD barang tersebut, yang membuatku dibuatnya kelabakan seketika.
Mana saat itu, pendapatan toko belum mencapai lima puluh ribu. Jika harus mengambil ke ATM dulu, kasian kurirnya menunggu lama.
Alhasil, kurirnya menerima dengan lapang dada pembayaran yang kurang tujuh ribu rupiah itu. Aku doakan, semoga pekerjaan abang kurirnya lancar.
Aku anak yatim, ayah kandungku sudah meninggal. Mana lagi, aku wanita yang terus-menerus tersakiti. Pasti doaku untuk abang kurir diijabah. Meski abang kurirnya malah cekikikan sendirian, saat aku doakan itu.
Ibu tertawa samar, dengan geleng-geleng kepala.
"Mbuuuuu, mam." suara Ceysa sudah melengking saja.
"Ayo-ayo." ibu menggiring Ceysa ke teras toko.
Aku sudah makan, mandi pun sudah. Tapi, kakiku masih saja terasa pegal-pegal. Biasanya berapa hari ya? Penyesuaian dengan kelelahan baru ini.
~
__ADS_1
Tidak terasa, kini sudah satu bulan saja aku berjualan. Tidak hanya seblak yang aku jajakan. Ada cilok kuah, cirambay dan cimol setan.
Harganya bervariasi. Jika cilok kuah, mulai harga enam ribu sampai dua belas ribu. Cirambay, hanya seharga tujuh ribu saja. Lalu, cimol setan tergantung membelinya. Dua ribu rupiah pun, aku layani.
Karena modal cimol setan, tidak begitu banyak seperti menu yang lain. Hanya tepung tapioka, atau tepung kanji. Lalu dicampurkan dengan air panas dan dibentuk bulat pipih. Aci gepeng, biasa dikenalnya. Setelah itu, aku memotongnya tidak beraturan dan menggorengnya setengah matang, lalu diberi bumbu sesuai selera. Ada sambal terasi, cabe giling original, rasa jagung manis, balado, atau rasa keju.
Tempat penyajiannya pun begitu praktis, hanya dimasukkan ke dalam plastik PP. Plastik PP, adalah plastik polipropilen. Plastik ini agak kaku, tidak mudah rapuh dibanding plastik pembungkus lainnya. Apa lagi, untuk membungkus makanan yang masih panas seperti cimol setan ini.
Sedangkan cirambay adalah singkatan dari aci rambai. Yang merupakan jenis mie yang terbuat dari tepung tapioka dan tepung terigu. Ciri khas makanan ini adalah cita rasanya yang pedas ditambah sedikit rasa manis, seperti makanan Sunda pada umumnya.
Kemasan pembungkusnya, aku menggunakan styrofoam yang dilapisi kertas pembungkus tahan air dan minyak. Aku tidak pernah memasukan langsung makanan ke dalam styrofoam, karena styrofoam gampang meleleh jika terkena panas. Ditambah lagi makanan panas yang aku buat, aku khawatir styrofoam yang meleleh itu bercampur dengan makanan buatanku.
Awalnya aku menggunakan plastik untuk es yang aku gunting. Namun, tidak aman saat pembeli yang menggunakan motor.
Sebenarnya, mamah Dinda juga yang mengajarkan tentang ilmu pembungkus makanan dan plastik-plastikan. Beliau sudah tidak marah-marah lagi. Namun, ia tetap tidak suka aku berjualan makanan.
Kadang, aku merasa heran juga. Kenapa wawasan mamah Dinda begitu luas?
Padahal, beliau mengaku tidak pernah berjualan makanan yang dimasak olehnya sendiri. Tapi beliau bisa paham dan mengerti, tentang cara membungkus makanan dan plastik-plastikan ini.
Ya memang, membuatku semakin mengeluarkan banyak modal untuk pembungkus makanan. Tapi kenapa tidak? Karena mereka yang dari jauh, bahkan desa tetangga. Datang untuk membeli makanan dariku.
"Mbak... Masih cukup gak ya? Syarif pesen tujuh belas bungkus, macam-macam menu sih. Dia lagi ada belajar kelompok di rumahnya, pengen ngemil katanya." Ria berbicara, dengan menscroll layar ponselnya.
"Apa aja sih?" aku melihat bahan-bahan yang masih tersisa.
Ria menyebutkan semuanya. Dengan aku yang mengangguk mengerti.
Sebenarnya, pikiranku tengah terbagi. Aku memikirkan bagaimana untuk berjualan lusa nanti?
Karena lusa sudah masuk bulan Ramadhan. Kami akan berpuasa dan tidak boleh ada pedagang makanan di siang hari. Namun, aku masih membutuhkan uang. Ditambah lagi, berjualanku ini selalu habis. Membuatku candu, untuk terus-menerus berjualan.
Jika berjualan setelah ashar? Apa masih tetap dilarang kah?
Maksudku berjualan setelah ashar, agar selesai berjualan tidak terlalu malam. Biasanya sore hari di daerah ini ramai, saat bulan puasa. Karena banyak dari penduduk sini, akan berkeliling di sore hari. Ngabuburit, kata yang ramai disebutkan untuk berjalan-jalan di sore hari itu.
Tinnnn....
Aku menoleh cepat, pada motor yang berhenti di dekat meja dagangku ini.
Ia tersenyum menyebalkan, "Mau...
__ADS_1
...****************...
Ini noveltoon kah cookpad 😆 ya Allah, tulisanku kadang gak lazim kek novel lainnya 🤭 malu sendiri ya, Allah 🤣