Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD378. Kalimantan Timur


__ADS_3

"Ammak bilang apa?" aku mengusap punggung kakaknya Ceysa ini.


"To.... Ge nana?"


Aku langsung menoleh pada Ceysa yang masuk ke rumah mangge Yusuf ini.


Ya Allah, Nak. Rupanya kau masih dalam misi mencari manggemu.


"To...." suaranya makin meninggi.


"Hmm, bentar. Dato ambil kembalian dulu." mangge Yusuf tengah melayani seorang pembeli beras.


"To! To! To!!!" Ceysa malah melepaskan suaranya.


"Ya, Nak. Gimana? Gimana? Gimana?" mangge Yusuf memutar jalannya, kemudian ia langsung menggendong Ceysa.


"Ge, nana? Dek jajan." matanya sampai mekar sempurna.


Mangge Yusuf malah melirikku. Aku hanya mengedikan bahuku, karena sebelumnya Ceysa tidak pernah menanyakan ini.


"Mangge udah meninggal, Adek Ceysa."


Aku sukses dibuat melongo dengan jawaban Jasmine.


"Udah mangge aku meninggal, ayah direbut Biyung. Ammak aku sedih terus, aku gak boleh ikut ammak sama Dato." Jasmine sengaja menyindir atau menggerutu?


"Jasmine besar nanti kelak pasti paham. Gih main, Nak. Tapi pas waktu makan nanti pulang ya?"


Jasmine mengangguk, "Ya, To." ia melangkah santai.


Sungguh, aku shock mendengar ucapannya. Biar aku adukan ke mas Givan, tentang ucapan Jasmine tersebut. Karena jelas, Jasmine di sini seperti didoktrin dengan pengertian yang salah.


"Jangan dipikirkan, Canda. Namanya juga omongan anak-anak."


Aku hanya mengangguk, dengan tersenyum manis. Aku pun ingin tidak memikirkan, sayangnya terus terpikirkan.


"Bu....." Ceysa melangkah ke teras ruko ibu.


Hufttt....


Si Unyil ini.


"Ke ibu dulu, Mangge." aku bangkit, lalu melangkah mengejar Ceysa.


"Ya, Dek." aku sempat melihat mangge Yusuf yang tengah menyapu teras.


~


Tiga hari setelahnya. Aku kini tengah singgah di Pintu Rame Gayo, sebelum kami melanjutkan perjalanan ke bandara.

__ADS_1


Benar sekali, aku akan terbang ke Kalimantan. Entah di mana tepatnya, aku belum banyak bertanya pada mas Givan.


"Mas.... Jauh dari perkampungan tak rumah Mas yang di sana?" tanyaku, dengan mengusap-usap lengannya.


Aku gemas melihat ototnya, dengan kulit bersih itu.


"Dekat, Dek." mas Givan malah merapatkan tubuhnya denganku.


Aku menyikutnya pelan, "Ngap, Mas. Biar aku yang peluk."


Namun, wajahnya langsung masam.


Mas Givan melepaskan pelukannya, "Aku juga ngap kau pepet terus tuh, Canda." mas Givan sampai menggeser posisi duduknya.


Aku terkekeh geli, kemudian memeluk lengannya.


"Enak begini, enak ngusel-ngusel tuh." aku segera mencium pipinya.


"Tetap aja, kita tak nampak romantisnya." mas Givan malah menggerutu.


Iya ya, konsep romantis itu bagaimana?


"Di Kalimantannya di mana sih, Mas? Nanti aku takut ada harimau." aku sudah kembali memangku Ceysa.


Ia tadi berkeliling sejenak, di rumah minimalis yang dibangun oleh bang Daeng ini. Aku mengetahui hal ini pun, dari mas Givan.


Chandra sudah diasuh oleh kak Devi. Dengan Zio yang diambil alih oleh kak Lia. Tentu mereka semua diawasi oleh ibu dan mamah Dinda.


Aku teringat akan rumah-rumah mewah, mendengar kata mansion itu.


"Jauh kah jarak rumah ke tambang, Mas?" tanyaku kembali.


"Lumayan." ia bangkit, kemudian memakai sandalnya kembali.


"Ke depan dulu ya sebentar?" ia menyempatkan untuk menoleh ke arahku.


"Ya, Mas." aku meladeni tarikan tangan Ceysa, yang menginginkan untuk masuk ke dalam rumah dua kamar ini.


Entah beberapa jam perjalanan. Aku kini sudah sampai di tempat tujuan, di Kalimantan Timur. Hal pertama yang aku lakukan adalah, rebahan.


Biarkan saja Ceysa yang tengah mengitari ruangan itu, ada ayahnya yang galak itu tengah mengawasinya.


Pinggangku rasanya begitu lelah dan sakit. Aku akan merencanakan tidur dua belas jam setelah Ceysa terlelap nanti.


Brukhhh....


Mataku langsung melek sempurna, karena di atas perutku ditaruh barang hangat di dalam kantong plastik.


Aku langsung terduduk, dengan mengucek mataku.

__ADS_1


"Mas, yang lembut kalau bangunin aku." aku mendongak pada pelaku yang iseng ini.


"Aku kira kau tak bisa bangun. Bentar lagi aku mau panggilkan ambulance ceritanya." mulut suamiku memang tidak ramah.


"Ya Allah, Mas. Bentar aja tuh jagain Ceysa." aku sudah mewek-mewek di sini.


Mas Givan tidak pengertian.


Ceysa muncul dengan bakso yang ditusuk dengan garpu. Menggiurkan sekali bakso tersebut. Berukuran sedang cenderung besar, dengan bulatan yang tidak sempurna. Biasanya, bakso dengan bentuk seperti itu. Pasti rasanya sangat enak.


"Jangan bikin aku malas ngajak kau pergi-pergian ya, Canda! Kau tidur jam empat sore, bangun-bangun jam sebelas siang, itu pun aku bangunkan kau setengah mati. Aku ini berangkat kerja jam setengah tujuh. Kau jangan bikin tambah aku kerepotan, karena boyong kau ke sini! Aku ini bawa kau, biar aktivitas aku ini mudah. Bisanya aku sekarang malah gagal berangkat kerja, udah gitu ngurus anak segala." mas Givan mengusap-usap dadanya sendiri.


Masa iya aku tidur selama itu?


Aku melirik ke dinding, berharap menemukan jam dinding.


"Mas.... Perasaan, aku tidur lepas petang." aku kembali memandangnya.


"Lepas petang kau bangun, cuma buat kencing aja. Lepas itu kau langsung molor lagi, Cendol!" mas Givan bangkit, "Cepat bangun! Mandi! Makan bakso tuh!" ia melangkah ke arah pintu kamar.


Lumayan juga, meskipun ia mengomel. Setidaknya, ia tetap memberiku makan. Aku ingin tertawa jahat saja rasanya.


Setelah penampilanku rapi dan menyantap bakso sedap itu. Aku kini ikut serta dalam perjalanan mas Givan menuju ke tambangnya.


Aku ingin seperti istri-istri CEO, yang berlagak sombong saat mengunjungi kantor suaminya. Seperti yang ada di novel-novel.


Tapi, rasanya aku tidak bisa sombong.


"Mikirin apa kau?" tanyanya mengagetkan.


"Mikirin jalanan, heran aja gitu. Di Aceh aja, di tempat kita itu. Aspal masuk kampung kok." maaf, bukannya aku menyindir pemerintah sini.


"Ini jalanan tambang, Cendol! Gemes betul, Ya Allah." mas Givan malah merengek seakan menangis.


Memang kenapa kalau jalanan tambang?


"Memang apa bedanya sama jalanan kampung?"


Mas Givan menghirup udara lebih banyak, "Kalau jalanan tambang, milik swasta. Milik Gue, jadi terserah Gue, mau diaspal atau tak. Lagian, ini jalan punya Gue. Jalanan ini, untuk lalu lalang kendaraan besar. Nanti deh aku tunjukkan, kalau udah sampai di lapangan. Bukan untuk lalu lintas warga, bukan untuk lalu lintas umum, karena keamanannya tidak terjamin. Kendaraan tambang itu alat besar, Haul Truk contohnya, kek itu tuh." mas Givan menunjuk beberapa mobil berwarna kuning, yang berada sangat jauh.


Siapa yang baru tahu sepertiku, bahwa jalanan tambang tidak di aspal dan milik swasta?


"Terus kita mau ke sana?" aku menoleh ke arah mas Givan yang tengah mengemudi kembali.


"Ke kantor, Canda. Gue tak kerja di lapangan, Gue punya pekerja. Gue di sini bos, Canda. Lebih tinggi dari CEO kedudukan Gue, Canda. Di sini Gue owner pemilik perusahaan, Canda. Meski istri Gue dodol betul, tapi Gue yang punya usaha besar ini, Canda." mas Givan merengek lepas, membuatku terbahak-bahak.


Mas Givan memukul setir mobilnya, "Ah, kaku betul hati ini. Kesampaian dapat yang nurut, polos mendarah daging betul. Apa dosaku, Ya Allah? Masa iya suhu dapatnya yang cupu?"


...****************...

__ADS_1


🤣😂😆


__ADS_2