Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD411. Makan bersama


__ADS_3

"Mah, ayo main ke Kin yuk?" aku mengajak mamah Dinda, untuk main ke rumah sebelah.


"Ngapain sih? Mamah lagi main HP." mamah Dinda sibuk dengan kedua ibu jarinya yang menari di atas layar ponsel.


Apalagi jika bukan mengetik untuk sebuah karya.


Aku sulit beralasan.


Ah, iya. Bagaimana jika aku menghubungi Kin saja, agar mau mengajak mamah Dinda main dengan alasannya.


Bisa juga kan?


"Mah, awas Ceysa. Aku mau pipis." aku meninggalkan Ceysa bersama neneknya di teras rumah.


Lingkungan yang aman, karena dikelilingi pagar beton dan pagar besi yang senantiasa dikunci. Konsepnya, mereka bebas bermain. Namun, tidak diizinkan keluar dari lingkungan ini.


Kanan kiri halaman rumahku pun, terdapat pintu besi. Pintu besi sebelah kanan, menghubungkan ke halaman rumah Ghifar. Pintu besi sebelah kiri, menghubungkan ke halaman rumah Ceysa dan Jasmine.


"Hallo, Kin." aku bersembunyi di kamar, untuk menelpon Kinasya.


Mas Givan ada di halaman belakang. Ia tengah membenahi taman belakang. Ia membuat kolam ikan hias, yang tutorialnya ia dapatkan di YouTube. Namun, tetap saja Zuhdi diminta hadir untuk membantunya membuat adonan semen.


"Ya, Kakak Ipar. Pendarahan lagi kah? Aduh, gimana nih? Ghifar lagi ke pabrik dari setengah tujuh. Sama aku aja yuk? Anak-anak biar sama papah sama ibu Bilqis dulu."


Heh?


Ibu Bilqis ada lagi di sana?


"Tak kok, Kin. Tenang aja, aku tak pendarahan." sepengamatanku, Kin menjadi manusia yang gampang panik. Setelah vonis, bahwa dirinya mengidap Sindrom Othello.


Dulunya, Kin tidak gampang panik. Apalagi, dirinya seorang dokter. Membuatnya lebih paham dan lebih mengerti keadaan medis seseorang. Namun, jika aku menelpon. Ia sudah panik saja, ia khawatir aku pendarahan lagi. Karena memang, tiap bulan aku menjadi sering pendarahan. Sudah seperti haid. Tetapi, tidak ada rasa sakit.


"Oh, syukurlah." sahut Kin dengan helaan nafasnya.


"Kin, coba jemput mamah di sini. Bujuk mamah buat main ke rumah kau. Tawarin masakan kau gitu, atau alasan lainnya." ungkapku langsung.


"Eummmm.... Bisa, bisa. Eh, mumpung ada ibu Bilqis juga. Jadi kan, bisa langsung ditanya gitu kan?"


Bagus kah jika seperti ini?


Aku jadi teringat, saat papah Adi merangkul biduan cantik di selingkuhan om Edi. Di situ mamah Dinda salah paham, kemudian mengamuk heboh.


Aku takut mamah Dinda memaki ibu Bilqis secara berlebihan, seperti saat dulu itu.


"Aku takut malah mereka berantem, Kin." aku mengungkapkan keraguanku.


"Kalau sampai berantem, nanti aku yang jadi wasitnya." Kin tertawa lepas.


Jika disebut gila, Kin bukan gila. Tapi, pikirannya memang kurang waras karena sindrom itu.


"Jangan lah, Kin." aku benar-benar takut mereka berkelahi.


"Biar, Kakak Ipar. Pasti suasana kondusif deh. Aku yakin, feeling aja sih." tuh, Kin saja terdengar ragu-ragu.

__ADS_1


"Ya udah, aku ke rumah kau ya? Aku mau ajak mamah main ke rumah."


Tut.....


Sepertinya, mengajak orang yang kurang waras briefing seperti ini. Bukanlah hal yang bagus.


Tawa renyah terdengar dari arah depan. Wah, sepertinya Kin sudah sampai di sana. Aku bergegas menuju ke depan, untuk ikut ke sana. Agar tidak terjadi, hal yang tidak diinginkan. Aku benar-benar takut, Kinasya menjadi wasit.


"Ayo, Kakak Ipar. Ada ikan bakar loh, ikan pedih. Ikan mahal, Kak." Kinasya mengedipkan matanya rapat.


Ok, aku paham.


"Mau dong. Jarang betul nih masak ikan." aku menutup pintu utama.


Mamah Dinda menoleh ke arahku, "Memang kau pernah masak? Dua hari ikut Mamah di Lhokseumawe, kau malah request masakan sama Mamah."


Tawa seorang laki-laki pecah.


Aku langsung celingukan, mencari sumber suara. Suamiku ada di halaman samping, ia berdiri dengan menenteng karung beras.


Tubuhnya berkeringat begitu seksi. Ditambah lagi, mas Givan bertelanjang dada dan menggunakan celana training panjang.


"Canda masak? Ya setahun sekali. Pagi aja, Mamah yang masak."


Sableng, suamiku memang. Ia malah mengumbar aibku.


Mamah Dinda dan mas Givan datang pukul tiga pagi. Lalu, saat jam enam pagi mamah Dinda sudah berada di dapur. Aku tak meminta beliau masak.


Sama-sama ibu dan anak ini.


"Ah, Mamah." aku bergelayut di lengan beliau.


Mamah Dinda mengusap-usap pipiku, "Ayo, katanya mau nyicipin masakan Kin."


Meski Kin mengalami sindrom itu. Tapi, masakannya masih sama seperti dulu. Masih enak, juga memiliki cita rasa yang khas.


Masakannya, seperti masakan di restoran. Ghifar keluar masuk dapur untuk memakan lauknya saja, Kin tidak komplain dan tidak marah. Bahkan, Kin mengatakan biarkan saja. Yang penting, Ghifar tidak makan di luar. Ia mencoba Ghifar tetap betah di rumah.


"Ayo, Mah." aku bergandengan dengan mamah.


"Bawa buat suami kau dan adik ipar kau juga Canda." ucap mas Givan, yang tengah memindahkan batu bata ke karung beras.


"Huuuuu...." Kin menyoraki kakak iparnya itu.


"Bawa lah buat Abang kau juga, Kin." mas Givan mengedipkan matanya genit pada Kinasya.


"Iya, Bang. Nanti aku suruh anak-anak anter ke sini." sahut Kinasya, dengan mendahului melewati pintu besi ini.


Setelah, Ceysa. Kemudian, mamah Dinda dan aku.


"Ada siapa itu, Dek?" tanya mamah Dinda, dengan memperhatikan Kinasya.


Bahkan, beliau tidak segera melepaskan sendalnya.

__ADS_1


"Tamunya papah. Udah biarin aja. Ayo, Mah. Apa mau lewat pintu samping?"


Mamah Dinda menggeleng, "Udah tak usah. Tak apa lewat depan juga." mamah Dinda tersenyum, kemudian melangkah kembali menuju teras rumah Ghifar.


Meski rumah di sini gedongan. Tapi, kami di rumah tidak memakai sendal. Tidak memakai sendal saja, lantai tetap berpasir gara-gara anak-anak berlarian. Apalagi, jika memakai sendal.


"Gimana, Bang? Karena pantasnya kek gini menurut aku."


Kami disambut suara itu, ketika baru menginjak ruang tamu. Ibu Bilqis tengah meminta pendapat papah Adi rupanya. Sedangkan papah Adi, ia hanya melirik dengan bersedekap tangan.


Aku ingin menanyakan isi pikirannya saja. Apa istimewanya kakek-kakek berusia lima puluh tahun lebih ini?


Jujur saja, yang menarik dari papah Adi sekarang hanyalah hidungnya. Karena hidungnya tetap gemuk, meski tubuhnya kurus.


"Dek Dinda...." papah Adi menoleh ke arah kami.


Papah Adi duduk di sofa yang berbeda dengan ibu Bilqis. Mereka tidak duduk di sofa yang sama. Ya, posisi mereka tidak cukup dekat.


Mamah Dinda hanya tersenyum. Kemudian, kami melanjutkan langkah ke area belakang tangga. Karena, dapur terletak di sebelah sini.


Mamah Dinda pun terlihat biasa saja. Ia tetap terlihat ber*afs* makan. Mamah Dinda bahkan membantu Ceysa makan, kemudian membantu memisahkan daging dan duri ikan.


"Nek.... Matematika aku dinilai sembilan puluh sama Mama." Kal menunjukkan buku tulisnya.


Mamah Dinda menajamkan penglihatannya pada buku tulis tersebut, "Wah iya sih. Nih aaa dulu. Makan ikan, biar tambah pintar." mamah Dinda menyuapi Kal makan.


Aku mengingat kebersamaanku dengan anak-anak. Aku tak pernah mengajari Chandra pelajaran. Apalagi, mas Givan pun tidak menekankan ilmu basic pada Chandra.


Mana kan, buku tulisnya selalu dikumpulkan ketika hendak pulang sekolah. Jadi, kami tidak tahu bagaimana kepintaran anak kami di sekolah.


Namun, aku sering bercengkerama bersama anak-anak. Dengan bernyanyi dan menghafal doa sehari-hari. Mewarnai sekalipun, aku membiarkan mereka mewarnai di tembok rumah mereka. Itu terlihat lebih estetik.


Jika di buku gambar, anak-anak hanya bisa menggambar rumah beratap segitiga dan sebuah pintu kotak. Belum lagi gambar pemandangan yang selalu gunung kembar, disertai matahari yang keluar dari tengah-tengahnya. Menurut mas Givan, gambar itu jorok.


Nah, jika menggambar di dinding. Gambarnya bagus-bagus. Ada karakter kartun, ada gambar saudara-saudaranya juga. Maksudku, seperti gambar kakak, adik, ibu, ayah, seperti itu. Belum macam-macam gambar lain, yang menggunakan cat air dan krayon.


Mas Givan segitu galaknya saja. Membiarkan mereka berekspresi dengan dinding rumah mereka. Mas Givan bahkan tidak menekankan ilmu pelajaran pada anak-anak.


Menurutnya, anak-anaknya belum waktunya untuk belajar. Biarkan mereka berekspresi dan mencari bakat dan keminatan mereka.


"Maaa.... Dek mau." Ceysa menunjuk air dingin berwarna oranye dalam teko beling tersebut.


"Iya, Mama ambil gelas plastik dulu ya?" sahut Kinasya, dengan kembali ke rak piring.


Kinasya adalah bibi yang asing untuk Ceysa. Namun, baru beberapa hari di sini, Ceysa sudah kenal akrab dengan Kin. Tapi tetap saja aku memantaunya terus menerus. Aku khawatir Ceysa dimasak menjadi sop iga oleh Kin.


"Wah, ikut dong makan bersamanya."


Kami semua menoleh pada sumber suara.


Hufttt.....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2