Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD99. Ilmu dasar


__ADS_3

"Dek, pernah ngul*m gak?" tanyanya tepat di samping telingaku.


K*lum apa?


"K*lum?" aku tidak mengerti arah pertanyaannya.


"Iya, ngem*t." bang Daeng mengisyaratkan tangannya di depan mulutnya yang terbuka.


Aku terdiam sejenak, masih memperhatikan dirinya dan isyaratnya. Apa ya itu?


Ya ampun, aku baru terkoneksi dengan jaringan.


"Pernah, tapi katanya kena gigi. Jadi dia tak pernah mau lagi." jawabku kemudian. Aku khawatir bang Daeng cemburu, atau moodnya berubah menjadi buruk.


Namun...


Tawanya lepas begitu saja. Ia sampai memegangi perutnya.


"Kenapa, Bang?" tanyaku heran.


Apa ini lucu?

__ADS_1


Bang Daeng menggelengkan kepalanya, lalu ia melirik ke arahku dengan senyum manisnya.


"Kalau kena gigi, luka batangnya, nanti bisa infeksi takutnya. Jadi usahakan, jangan kena gigi." jelasnya kemudian.


Aku teringat saat itu. Saat mas Givan pertama kali memintaku untuk memasukkan batangnya ke mulutku.


Ia sampai setengah berteriak, matanya terpejam rapat. Lalu ia cepat-cepat menariknya kembali. Ia mengatakan, bahwa aku salah melakukannya. Moodnya pun berubah, ia mengurungkan niatnya untuk berhubungan. Ia lebih memilih memintaku untuk menyeduh susu kambing etawa bubuk saja.


Aku hanya meringis kuda. Aku tidak tahu ingin menjawab apa.


"Kek gini, Dek." ia menarik tangan kananku.


Mataku membulat, karena ibu jariku langsung masuk ke mulutnya.


Aku mengangguk cepat, aku mengerti maksudnya.


"Memang harus kah, Bang?"


Jujur, rasa jijik terlintas di kepalaku. Karena batang itu adalah saluran kemih untuk laki-laki.


Bagaimana jika ia tidak cebok sehabis berkemih?

__ADS_1


"Yaaa... Gimana ya?" bang Daeng garuk-garuk kepala.


"Harus gak harus sih. Tapi pasti monoton, kalau langsung hajar aja. Lambat laun kek gitu, takutnya malah gak ada kenikmatan. Se*s itu bukan cuma penyaluran, Dek. Kadang kan, hiburan, imajinasi, angan-angan, fantasi, tertuang di situ semua. Mungkin dalam agama tidak diperbolehkan, karena bikin cairan putih bening lengket ke luar. Tapi, sesekali keknya gak apa. Biar kita gak bosen. Bosen itu manusiawi, Dek. Abang cuma bilang takutnya, karena daya tarik seseorang itu gak selalu terpancar. Terlepas dari Abang cinta Adek dan kita suami istri. Abang sekarang cuma lagi ngomong aja, tentang ruang lingkup hal penyaluran itu."


Menurutku, bahasanya tidak kasar. Tersampaikan, cukup jelas, tanpa membuatku tersinggung.


Mungkin mas Givan merasakan demikian. Ia bosan padaku, karena aku tak memahami cara penyaluran untuknya.


Tapi harusnya ia menjelaskannya seperti bang Daeng. Jika ia tidak berkata seperti ini, aku tidak akan mengerti.


Ada sesuatu yang tidak aku mengerti dari kalimat bang Daeng, "Cairan putih bening lengket itu apa?" tanyaku kemudian.


Dahinya mengkerut, ia seolah terheran-heran denganku. Aku malah jadi merasa bingung sendiri dibuatnya.


Nafasnya berhembus kasar, "Jadi tuh... Misalkan laki-laki udah gak tahan nahan has*atnya, batangnya itu keluarkan cairan pelumas namanya. Perempuan pun sama, tapi bedanya cairan perempuan adanya di dalam rongga. Kalau laki-laki, cairan itu keluar dari lubang kencing kita. Tapi itu bukan air kencing, bukan juga benih anak-anak. Kalau gak salah, itu namanya cairan pra*jakulasi." jelasnya kemudian.


Aku manggut-manggut mengerti, "Adek beneran gak tau? Atau cuma bohongan sih?" lanjut bang Daeng kemudian.


"Aku tak paham memang. Makannya aku nanya." ungkapku jujur.


"Masa? Pernah menikah kan? Pernah punya suami kan?"

__ADS_1


...****************...


Ada ya janda polos 😂


__ADS_2