Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD338. Menemani Jasmine tidur


__ADS_3

Hanya Jasmine yang ikut kami ke kamar. Chandra sudah pulas, Ceysa asik dengan Hadi. Hadi adalah teman terasik untuk Ceysa.


"Mangge...." Jasmine bersandar manja pada dada bang Daeng yang berada di tengah ranjang.


Aku masih duduk manis bersandar pada kepala ranjang. Aku tengah memainkan ponselku yang penuh kenangan ini.


"Hmmm." bang Daeng mengusap-usap kepala Jasmine.


"Mangge kapan sehat? Katanya mau liburan ramai-ramai ke Waterboom."


Aku hanya diam, dengan memasang telinga.


"Mangge udah sehat kok. Gimana mau renang, kan lagi puasa. Nanti sambil berenang, minum air."


Jasmine terkekeh geli, "Tapi kenapa Mangge gak mau minum obat lagi?" tanyanya kemudian.


"Minum kok."


Aku merasa, bang Daeng tidak memiliki semangat hidup. Pasti ia hanya mengaku telah meminum obatnya, padahal tidak.


"Aku sayang Mangge. Mangge sehat terus, cari uang terus."


Bang Daeng sampai tertawa lepas. Aku pun, tertular tawa darinya.


"Kak Jasmine yang sayang adek Chandra, Zio, Ceysa ya?" ujar bang Daeng.


"Aku sayang semuanya." Jasmine tertawa renyah.


"Tinggal bobo, nanti abis lebaran Kak Jasmine udah mulai sekolah. Seneng gak?" bang Daeng masih asik berdialog dengan anaknya.


"Ya, Mangge. Aku seneng."


Cup...


Aku melirik sekilas. Aku bisa melihat Jasmine tengah menciumi wajah ayahnya.


Bukan aku cemburu. Aku terharu melihatnya.

__ADS_1


Meskipun bang Daeng tidak selalu ada di sisi Jasmine. Tapi cinta pertama Jasmine, tetap jatuh padanya.


Semesta memberikan kebahagiaan sesuai porsinya. Cukup adil untuk posisi Jasmine, di mana orang tuanya tidak menikah. Namun, ia mendapat kasih sayang yang berlimpah.


Bagaimana keadilan untukku?


Dari kecil, aku tidak mengenal sosok ayah. Sejak kelas dua SD, aku tidak merasakan lagi kasih sayang seorang ibu. Lalu, datang Ghifar yang menjadi cinta pertamaku. Sayangnya, hal itu membuatku terjerembab dalam kepasrahan di balik cinta buta. Hingga kebodohanku yang tak terkira, membawaku ke dalam pelukan mas Givan dengan terpaksa. Tidak sampai di situ saja, dua kali kegagalan rumah tangga, sudah menyelimuti kisah kelamku tentang sosok laki-laki.


Lengkap sudah.


Jadi kapan aku bahagia, Author?


Begini rasanya jadi tokoh utama dalam cerita fiksi. Tidak sembarang cerita fiksi biasa. Aku merasakan, kenyataan dan hal ini banyak terjadi di sekitar kita.


Tidak banyak sosok perempuan yang kuat seperti mamah Dinda. Namun, di dunia nyata. Banyak sosok perempuan malang sepertiku. Banyak perempuan yang memiliki sifat dan banyak kesamaan sepertiku. Ya, di mana perempuan hanya mampu menangisi nasibnya saja.


"Anging mammiri ku pasang... Pitujui tontonganna... Tusarroa takkaluppa... Tusarroa takkaluppa... Eaule...... Namangngu’rangi... Tutenayyatutenayya pa’risi’na... Tutenayyatutenayya pa’risi’na.... Battumi anging mammiri.... Anging ngerang.... dinging-dinging... Namalantang saribuku.... Eaule..... Mangerang nakku.... Nalo’lorang.... nalo’lorang je’ne mata.... Anging mammiri ku pasang... Pitujui tontonganna... Tusarroa takkaluppa..."


Aku mendengarkan bait demi baik, meski tidak aku mengerti artinya. Jasmine pun sampai lelap, mendengarkan alunan yang begitu pelan nan meresap itu.


"Sini bobo." bang Daeng menepuk dadanya.


Aku khawatir Jasmine belum pulas. Lalu tidurnya terganggu karena suaraku.


"Abang pengen sama Adek. Selamanya...."


Apa ia mengigau?


"Kita bisa sama-sama." aku mengusap bahunya.


Ia melirikku, raut wajahnya terlihat kaget.


"Rujuk? Mau? Beneran?" tanyanya cepat.


"Memang bang Ardi gimana? Dia ada bilang apa tadi?"


Hembusan nafasnya begitu lelah, "Ardi lagi yang ditanyakan. Udah jelas dia mendua."

__ADS_1


"Hei.... Gimana Abang kemarin?!" aku sedikit tegas padanya.


Bang Daeng terkekeh kecil, "Abang kan cuma pura-pura, dalam misi morotin Putri. Kalau Adek jadi Abang, memang ikhlas lenyap uang dua puluh milyar gak jelas gitu? Diambil baik-baik, gak boleh. Masih disuruh nyicil panai aja. Abang udah capek nyicil, kaya gak, miskin iya."


"Tapi kenapa Abang malah milih morotin Putri, setelah udah nikah sama aku?"


Ia menggeser posisi Jasmine. Lalu ia memberi beberapa bantal, sebagi sekat untuk Jasmine.


Ia menarik cuping telingaku pelan, "Dengerin makanya! Dari awal dijelaskan, masih keliru aja!" suara lirihnya penuh kesal.


Aku terkekeh geli, "Memang iya kan?"


"Bukan lah!" ia memandang lurus wajahku, "Enam bulan sebelum nikah, balik sama Putri, dengan tujuan mau morotin Putri. Terus Abang minta putus, setelah kita akan menikah. Udah kan adem, untuk beberapa saat. Tapi Putri gak terima tuh, denger kedekatan Abang sama Adek. Udah pasti, sumber pertamanya ini si Raya. Nelpon kan Putri, ngancam. Nah, setelah itu. Abang punya etika baik, datangin Putri di rumah, ngomong baik-baik. Dia gak mau terima alasan apapun. Terus, dia bawa iming-iming walet itu. Abang ingat Adek pengen rumah, pengen ini, pengen itu. Okehlah, Abang setuju. Toh, yang terpenting untuk Abang kan. Abang gak bagi perasaan Abang, diri Abang ke Putri. Adek pun, udah Abang kasih paham, untuk apa-apanya obrolin ke Abang dulu. Jadi Abang tenang aja, masanya Putri siapin ini itu. Abang pikir, Adek bisa diajak kerja sama dan lebih percaya suaminya. Toh, Abang pun bermaksud korek uang Abang keluar lagi. Karena kan, Abang sama Putri gak jadi nikah. Jadi, aturannya sih uang cicilan panai itu gak hangus. Tapi ya udahlah, kita udah jadi janda sama duda juga." ia menyugar rambutnya ke belakang.


Aku tidak mengerti proses uang itu.


"Udah jelas kan?" tanyanya kemudian, karena aku hanya diam dan menyimak.


"Memang, Abang bener-bener gak pernah nidurin Putri lagi?" aku penasaran mengenai ini.


"Ya, Dek. Kewarasan Abang masih ingat Abang bahwa Abang gak pernah nidurin Putri lagi. Terakhir nidurin Putri itu, masa Adek masa iddah dari Givan. Adek di kos Enis, terus Putri ngintilin Abang pulang ke kos."


"Memang Abang masa itu belum ada rasa sama aku kah?"


Bang Daeng malah memainkan jemari tanganku.


"Bang." aku menepuk tangannya dengan tanganku yang terbebas dari tangannya.


"Udah. Tapi Abang laki-laki, Dek. Dada besar, rongga s*mpit, aktif, bisa ng*mpot ayam juga, jadi kan Abang langsung bangkit masa ingat rasanya Putri."


Aku langsung manyun. Lalu aku bersedekap tangan.


"Ya Adek juga enak, s*mpit, dada besar, ****** besar, pinggang nukik, minus gak berani minta ke Abang aja. Padahal setiap sebelum tidur, masanya Abang bilang tidur duluan, Adek jangan begadang itu, Abang harapin Adek naikin Abang. Bang, gatel. Atau gimana gitu kan. Masa pengen dapat serangan, harus terus terang aja, kan gak enak rasanya. Pengennya tuh, Adek ngerti sendiri. Tapi bukan karena itu juga, Abang ambil keputusan buat nikahin Putri setelah kita nikah. Kan kembali lagi, ada kesepakatan. Di mana uang Abang kembali, Abang dapat walet, Jasmine dapat akte, Putri dapat status janda. Meski Adek gak aktif dan harus diajarin aja, tapi Abang gak keberatan."


Inikah isi hati setiap suami?


...***************...

__ADS_1


🙈 bulan puasa


__ADS_2