Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CD399. Packing paket


__ADS_3

"Cuma beberapa kali, Mas." aku menarik lengan kanannya, kemudian aku sandari.


Bau badannya khas sekali. Tidak kecut, tidak bau ketiak juga. Mas Givan wangi, meski tidak kecanduan deodorant.


"Maaf ya, Mas?" aku menarik lehernya, kemudian menciumnya.


"Nih, Van. Pindahkan dulu."


Aku cepat-cepat melepaskan leher suamiku. Mamah Dinda geleng-geleng kepala saja, karena aku ketahuan menciumi suamiku sendiri.


"Iya, Mah." mas Givan langsung bangkit dan berjalan ke arah beberapa kodi pakaian yang ditumpuk itu.


Sepertinya, mamah Dinda berjualan pakaian juga.


Aku melepaskan jarum pengait hijabku. Kemudian kembali bersandar di kursi. Karena mamah Dinda sudah duduk di luar, sembari mengobrol dengan para laki-laki matang itu.


Mamah Dinda terlihat seumuran dengan mereka. Tapi aku yakin, laki-laki itu belum ada yang sampai berusia empat puluh tahun.


Karena terlihat dari mataku, bahwa mereka seperti seumuran dengan mas Givan. Ditambah lagi, rambut yang masih hitam merata. Tidak seperti papah Adi, yang sudah beruban.


Mas Givan kembali memindahkan pakaian tersebut, di tumpukan baju lainnya yang berada di depan televisi yang menggantung.


"Sini dulu, Van!" mamah Dinda berseru dari luar.


"Ya, Mah." mas Givan berjalan cepat ke luar rumah.


Aku bisa mendengar perintah yang mamah turunkan dari mas Givan. Intinya, mamah minta tolong membuatkan kopi untuk para tamunya.


Aku segera bergegas menyusul mas Givan yang berjalan ke dapur. Mumpung Ceysa tengah anteng memakan sosisnya itu.


"Mas aku bantu." ucapku, dengan mengambilkan termos stainless ini.


"Ambilkan kue kering aja tuh. Ada di lemari makan. Minta tolong ditoplesin katanya." mas Givan mengambil alih termos stainless dariku.


"Ya, Mas." aku berjalan menuju ke lemari makan ini.


Lemari makan yang terbuat dari alumunium dan kaca. Tidak begitu estetik, tapi berfungsi cukup baik.


Tak lama kemudian, aku mengekori mas Givan dengan membawa dua toples berisi makanan ini.

__ADS_1


"Wah, masa sih Mam? Katanya ini biasanya benar loh, Mam. Mamah suka berdalih soalnya." ujar laki-laki yang duduk paling ujung, saat aku dan mas Givan tengah menghidangkan mereka kopi dan makanan.


"Masa iya jual diri?" mamah Dinda tertawa geli, "Malah semalam aku yang beli." lanjut beliau, yang membuat mereka semua tertawa. Tidak terkecuali dengan mas Givan.


"Mamahnya gimana sih, Bang?" ujar laki-laki, yang duduk di dekat pintu ini.


"Ekstrim memang. Jangan dianggap, Bang." komentar mas Givan, dengan melirik mamah Dinda sekilas.


"Ini siapa ini, Mam? Anak gadisnya kah?" tanya laki-laki, yang tengah membuka toples makanan.


"Istrinya Givan ini. Istrinya yang sulung." mamah Dinda duduk di pagar beton setinggi paha itu, dengan mengemil makanan dari troples.


"Ada tiga puluh tahun, Bang?" orang tadi menanyakan pertanyaan, dengan memperhatikan mas Givan.


"Lebih, OTW tiga puluh tiga." jawab mas Givan dengan tertawa geli.


"Wah, berarti Mamah ada lima puluh tahunan ya?" laki-laki tersebut bergulir menatap mamah Dinda, "Duh, ya aku seanaknya. Tapi barangkali masih berminat, Bang? Biar samaan kek Varell Bramasta, punya papah sambung lagi." tawa pun menggema.


"Biar jadi janda kaya aja. Butuh laki-laki, Mamah bisa jajan kok." celetuk anaknya, yang membuat laki-laki tersebut semakin terbahak.


Ya ampun, jadi seperti ini gurauan mereka di luar rumah. Jika aku, sudah pasti tidak terkoneksi dengan gurauan mereka.


Hingga tibalah selepas isya ini. Aku tengah duduk di depan ruang TV, yang menggabung dengan ruang tamu ini. Aku tengah membantu mamah Dinda, untuk mempacking pakaian. Mamah Dinda benar berjualan pakaian, dengan sistem PO dan dengan penjualan secara online.


Bisa dibilang pakaian yang merakyat. Hanya seharga tiga puluh lima ribu, sampai tujuh puluh lima ribu saja. Bahannya cukup nyaman, tapi menurut mamah Dinda, ini bukanlah bahan yang awet. Cuci pakai lima kali pun, bahannya akan mudah sobek.


"Kau tau tak ini harga aslinya berapa, Dek?" mamah Dinda menunjukkan dress midi berwarna hijau tua ini.


Ini adalah baju, yang mamah jual seharga tiga puluh lima ribu.


"Dua puluh lima ya, Mah?" aku pernah membeli secara online pakaian yang seharga dua puluh lima ribu ini.


"Salah. Ini satuannya dua puluh ribu. Kalau beli perkodi, jatuhnya cuma tujuh belas ribuan aja."


Hah?


Kok bisa ada pakaian semurah ini?


"Kok bisa, Mah? Kainnya lumayan lebar loh, Mah." mamah Dinda berarti menjual dua kali lipat dari harga aslinya.

__ADS_1


"Iya, tapi ini bahan murah aja kalau beli perkilo. Beli bahannya bukan gulungan, tapi kiloan. Makanya ini modelnya kek tangga gitu kan, karena bahan dari sananya pendek-pendek. Satu kodi nih Mamah beli, tapi mix model dengan bahan yang sama. Harganya cuma tujuh belas ribuan aja. Ini untuk ulakan baju serba tiga puluh lima ribu. Kau tau kan?"


Aku mengangguk paham, karena banyak toko pakaian serba tiga puluh lima ribu ini.


"Ini Mamah beli di online lagi?" tanyaku kemudian.


Mamah menggeleng, "Dari konveksi rumahan. Makanya Mamah tau, kalau mereka beli kain kiloan. Kalau kau mau buka usaha kek gini, Mamah arahkan." mamah Dinda menjeda kalimatnya, "Makanya dulu Mamah marah, karena kau jualan makanan. Karena ada dagangan yang lebih gampang kau jajakan, juga tak nguras tenaga kau. Apalagi, jaman sekarang serba online." lanjutnya, dengan kembali membungkus pakaian.


"Tapi, Mah. Aku tak bisa jahit." aku tidak memiliki keahlian apapun. Aku the real beban keluarga dan beban suami.


"Kau bisa pekerjakan orang. Kalau tukang jahit kek Ahya, dia matok harga untuk jasanya persatu pakaian. Nah, kalau kau cuma rekrut pekerja yang bisa jahit. Kau cuma perlu gaji mereka, bukan patokan perbaju kek Ahya. Jadi, jatuhnya lebih terjangkau dan untung kau lebih nyata. Tapi memanusiakan pekerja kau juga. Jangan cuma kasih gaji. Tapi uang sembako, uang untuk pembalut, uang bensin juga. Karena penjahit ini, perlu kejelian dan ketelitian loh." ini ilmu, catat ya ibu-ibu.


"Nah, terus. Kau cari bahan kiloan aja kek gini. Macam-macam harganya perkilo ini, tergantung bahannya apa. Kek yang buat bikin dress midi tadi. Bahan yang kek gitu, perkilonya lima puluh empat dua ratus. Kalau kain, sekilo itu banyak. Karena kan ringan gitu loh, mana tadi kan bahannya tipis." lanjut beliau, dengan mensolatip paket tadi.


"Boleh, Mah. Ayo pulang ke rumah di sana, nanti bantu aku buka usaha itu. Biar Ria aja nanti yang pegang, kalau aku melahirkan. Ria pengen nikah aja katanya, Mah. Karena jenuh dengan aktivitas." sahutku dengan tersenyum penuh harap.


"Ria bilang gitu, Canda?" tanya mas Givan, yang tengah mengecek pesanan di ponsel mamah.


"Iya, Mas." aku sekalian menyampaikan pada mas Givan.


"Ria tuh tinggal nunggu ijazah SMA. Terus mau aku bawa ke Kalimantan." ungkap mas Givan dengan menyiapkan pesanan mamah kembali.


Aku mengangguk, "Aku udah tau. Tapi keknya lebih cepat, lebih baik. Laki-lakinya juga niat, Mas. Cuma dilarang ibu aja." agar Ria tidak menikah muda pikirku.


Karena aku yakin, Ria belum puas menikmati masa mudanya.


"Siapa laki-lakinya?" mas Givan mulai mempacking pakaian, sepertinya ia sudah selesai mengecek pesanan.


"Arman, anak pak Eki. Dia udah kerja, jadi kurir paket." aku menjawabnya dengan komplit.


"Nanti biar Mamah ngomong ke Ria." timpal mamah Dinda.


Apa ini artinya, beliau pasti kembali? Kemudian, melanjutkan rumah tangganya yang terjeda itu?


"Mamah bakal tinggal di Kenawat Redelong lagi kan?" tanyaku dengan senyum lebar.


Aku menunggu jawaban beliau.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2