
"Len... Aku nanti resign, kau sama Canda dapat libur satu bulan."
Masa kerja di Sulawesi ini akan berakhir satu minggu mendatang. Hubunganku dengan bang Daeng masih seperti biasa saja. Namun, aku bisa memaklumi tangan usilnya sekarang. Karena itu adalah kebiasaan isengnya yang tidak bisa dirubah. Dirubah pun jangan, kelak nanti kita berjodoh. Aku pasti merasa kehilangan, jika dirinya malah berubah.
"Kok banyak kali, Kak?" ini libur kerja atau cuti melahirkan, pertanyaan yang mengerubungi hatiku.
"Iya, kan kita di sini dihitung kerja terus tanpa libur. Tanggal merah, cuti nasional pun nanti dihitung kalau trip udah selesai." jelas kak Raya kemudian.
Ia tengah mengutak-atik laptop dan buku catatannya.
"Ke Papua yuk? Pernah belum?" bang Daeng tersenyum, dengan memeluk pinggangku. Kami tengah duduk bersebelahan, dengan bang Daeng menekuk satu kakinya untuk memangkas jarak denganku.
"Mending nikah lah kau! Lepasin itu si Putri."
Kak Raya mengingatkanku tentang hubunganku dengan bang Daeng kembali. Sudah dua bulan lebih, aku dekat tetapi tidak memiliki status yang jelas.
"Dari hari itu Putri gak pernah hubungi aku lagi." ucapan bang Daeng terdengar jelas di telinga sebelah kananku.
"Bohong!" kak Raya melirik sinis pada bang Daeng.
"Mentang-mentang belum pernah kau aku telan*angi, keknya ragu betul sama pengakuan aku."
Aku dan kak Raya saling menebar tawa. Aku sudah terbiasa dengan mulut dan kalimat frontal dari bang Daeng.
__ADS_1
"Kok bisa sih Kak, gak pernah dimesumin bang Daeng gitu?" fokusku pada kak Raya yang tengah mengetik di laptopnya.
"Pernah. Tapi aku bilang sama dia, kalau berani lebih jauh sama aku, aku minta komitmen yang kuat. Karena, di negara kita keperawanan itu penting. Di lingkungan kita itu banyak yang pacaran langgeng sampai bertahun-tahun, bahkan sampai nikah. Itu bukan karena cinta yang kuat, apa lagi sayang yang tiada batasnya. Karena sayang aja perawan kita, doi yang ambil. Rugi dan malu kita sebagai perempuan, kalau sampai gak nikah sama yang udah bobol kita."
Ohh, jadi ini alasannya.
Aku baru tahu, saat bang Daeng memintaku mengeluarkan sesuatu dari mulutku. Saat ia hendak mengobrak-abrik diriku, padahal nyatanya itu hanya gertakan saja.
"Tuh!!! Jadi perempuan yang kek gitu!" bang Daeng menunjuk kak Raya dengan dagunya.
"Aku pun begitu." sahutku penuh yakin.
"Halah... Diteken sedikit aja kau udah minta nikah aja. Nikah aja, Bang. Aku gak mau zina." bang Daeng menirukan suaraku.
Aku tertawa geli, lalu mencubit kulit bagian perutnya.
Aku melotot tidak percaya. Namun, tawa renyah membuat suasana begitu rileks. Kak Raya hanya bergurau.
"Tenang." bang Daeng seperti membuat ilusi pelangi dengan tangannya.
"Aku yang gak tenang, Len." sahut kak Raya kemudian.
"Tapi, Bang... Ke Lombok aja yuk. Aku mau tau sirkuit Mandalika itu. Katanya deket laut juga kan? Pasir putih kan? Aku seneng mainan pasir pantai." aku teringat akan ajakannya untuk berlibur.
__ADS_1
Bang Daeng mendekati telingaku, "Nikah aja dulu yuk? Kita ke mangge, buat gelar acara di sana. Mangge ada di Jawa, sekalian kita ketemu sama keluarga Adek." bisiknya yang menebarkan kebahagiaan.
Aku menoleh ke arahnya, dengan menyunggingkan senyum lebarku.
"Kita obrolin dulu aja sama mangge. Nikah atau taknya, biar gimana nanti aja. Aku tak minta pesta mewah kok, nikah di kantor KUA juga tak apa."
Bang Daeng tersenyum, ia mengangguk menyetujuiku.
"Pantesan bilangnya tenang. Gak taunya." suara kak Raya menarik atensi kami.
Terlihat ia tengah geleng-geleng, dengan senyum kecutnya.
Aku belum begitu yakin dengan perasaanku sendiri. Aku takut, ini hanya untuk pelarianku semata. Dari panasnya hati, karena mas Givan sudah menikah lagi, sedangkan aku masih sendiri.
Ya, kadang pikiranku terlampau buruk.
Aku takut, aku tak benar-benar mencintai bang Daeng. Karena, rasanya begitu beda saat aku mencintai Ghifar.
Dulu aku begitu terobsesi dengan Ghifar. Ia seperti duniaku, dia seperti siang dan malamku. Ia seperti waktuku yang terus berjalan. Ia pun seperti makanan pokok untuk hatiku.
Entah karena bang Daeng selalu ada di depan mataku, membuatku tidak begitu mengejarnya. Namun, aku merasa amat bahagia bisa berdekatan dengannya. Ia seperti pelengkap kehidupanku.
...****************...
__ADS_1
Jadi nikah gak mereka? 🤔
Pada setuju gak nih mereka nikah?