Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD220. Masakan pagi


__ADS_3

"Maafin kesalahan aku, Bang. Bukan bermaksud berkhianat, tapi aku susah buat nolak pesona Ghifar. Godaan iblis tak ada apa-apanya, dari pada godaan Ghifar. Demi Allah, aku udah cegah. Aku udah nolak dia, aku udah ingetin dia. Hari itu pun, kami tak sampai berbuat jauh, karena ternyata Ghifar tak bisa ngelakuinnya." aku mengakui kesalahannya dengan memeluk dadanya.


"Udah, jangan nangis." bang Daeng menepuk-nepuk punggungku.


Namun, tangisku semakin pecah.


"Semoga dengan hadirnya buah cinta kita, Adek bisa kalah dengan godaan Ghifar. Entah apa yang ada di benak Ghifar, yang jelas Abang bakal lindungi Adek dari Ghifar. Abang baru paham hari ini. Godaan Adek itu bukan mantan suami, tapi mantan pacar. Abang yakin, ayahnya Chandra gak sampai bikin Adek lupa daratan kek gini." mata kami bertemu kembali.


"Tapi aku udah akrab sama dia. Aku suka bikin dia kesel, itu lucu." jujurku kemudian.


Bang Daeng tertawa tipis, "Dasar ibu hamil! Ada-ada aja!" ia meraup wajahku.


"He'em, aku tak ngerti juga. Tapi aku suka liat dia kesel sama aku. Aku udah biasa aja sama dia. Cuma, istrinya pernah pingsan gara-gara liat posisi aku sama mas Givan yang salah. Mas Givan peluk dari belakang, dia juga udah buka pintu kamar lebar-lebar, karena dia sadar sifat buas dia. Pas peluk, aku ngerasa badan mas Givan panas. Jadi aku ngehadap dia, mungkin masa itu tangan mas Givan masih di pinggang aku, terus istrinya tau, langsung pingsan, besoknya dibawa ke RS karena luka jahitannya ngebuka di ujung." aku menceritakan kejadian itu, agar bang Daeng tak mendengar cerita salah paham itu dari orang.


"Biar apa Adek hadap ke ayahnya Chandra?" tanyanya dengan sebelah alis terangkat.


"Cek suhu badannya, jidatnya gitu. Dia demam, terus dikasih obat sama mamah." terangku kemudian.


Bang Daeng mengangguk samar, "Yang udah, ya udah. Sekarang kita coba terbuka, perbaiki komunikasi kita, biar gak renggang lagi kek gini." ia tersenyum dengan mengusap-usap pelipisku.


Aku menurunkan pandanganku. Yang aku takutkan sekarang, adalah berhubungan badan.


"Tapi, Bang. Aku tak pengen hubungan badan dulu. Aku takut tak nyaman."


"Iya, gak apa. Waktu kita banyak. Adek tidur gih! Abang harus keluarin dulu, sambil nonton video. Adek tidur aja, jangan liat Abang, nanti malah Abang gak keluar-keluar." ia menegakkan punggungnya kembali, lalu bersandar dengan memainkan ponselnya.


"Abang jangan c*li di sini, aku terganggu."


"Okeh. Nanti di sofa. Sok, tidur dulu." pintanya kembali.

__ADS_1


Aku mengangguk, lalu memunggunginya untuk memeluk Chandra.


Chandra tengah batuk, pilek dan demam. Sore tadi, ia sudah diperiksakan oleh Kinasya. Papah Adi pun, sudah menebuskan obat untuk Chandra. Semoga esok pagi, Chandra bisa ceria lagi untuk bermain bersama manggenya.


~


"Masakin suami kau, Canda!"


Aku baru masuk dari berjalan-jalan di halaman belakang. Sungguh, mataku masih berat sekali. Aku bangun saat adzan subuh, kemudian aku melakukan sholat dan turun ke lantai bawah untuk berjalan-jalan.


Mamah Dinda memintaku rutin berjalan kaki, tanpa menggunakan alas kaki. Menurut beliau, itu lebih baik, dari pada aku lanjut tertidur.


"Ibu udah masak tuh, Mah." setiap hari pun, aku makan masakan ibu.


Aku yang berbelanja di tukang sayur, kemudian ibu yang memasak. Seperti biasa, aku belanja hari ini, lalu akan dimasak esoknya. Jadi aku memiliki stok makanan dan sayuran yang tak terlalu lama di lemari es. Aku memilih opsi ini, karena tukang sayur mangkal di depan rumah pukul delapan pagi. Sedangkan, setelah subuh di rumah sudah tengah sibuk di dapur.


"Kau dulu kan masak terus. Orang buat suami sendiri juga, spesial kan gitu." mamah Dinda ngeloyor pergi dari area dapur.


"Ya memang, Pah. Kita putar kan, kita pun harus pandai ngeluarin produk yang lebih saat harga naik." suara obrolan itu berasal dari ruang keluarga.


Aku berjalan menuju ke tempat tersebut. Terlihat papah Adi tengah memangku Ghofar, dengan bang Daeng yang berada di hadapan papah Adi dengan secangkir teh.


"Tanyakan lah, Dek. Mau dimasakin apa gitu." ujar mamah Dinda, yang berada di samping papah Adi.


Aku berjalan menghampiri, "Mau dimasakin apa, Bang?" tanyaku kemudian.


Bang Daeng menoleh ke arahku, "Gak usah masak lah! Macam enak aja."


Papah Adi dan mamah Dinda tertawa terbahak.

__ADS_1


Mengerti aku juga, aku memang tidak pandai masak. Bang Daeng pun pasti trauma, saat menyicipi semur telurku dulu. Saat kami, masih berkumpul bersama kak Anisa dan bang Dendi di kos Padang.


"Gak usah masak, Dek. Takut gak kemakan." terang bang Daeng kembali.


"Kenapa sih? Kok tak pernah mau aku masakin?" aku duduk, berbaur bersama mereka.


"Rasanya gak sesuai ekspektasi."


Jawaban bang Daeng, membuatku menjadi bahan tertawaan papah Adi dan mamah Dinda.


"Len... Kalau kau terus-terusan makan di luar, kau tak akan punya-punyaan. Apa lagi kalau udah punya rumah sendiri, listrik, gas, minyak, itu kebutuhan wajib. Nanti Mamah kasih bangunan sama modal usaha awal aja, kau sama Canda yang lanjutin. Yang bayar listrik sendiri, yang penuhi kebutuhan dapur sendiri." ungkap mamah Dinda.


"Iya, Mah. Makasih sebelumnya. Aku pun mikir kek gitu. Tapi liat Canda masak, tuang bumbu kering instan. Tanpa bawang-bawang lagi, itu tuh udah ketebak betul rasanya." papah Adi langsung terbahak-bahak, kala bang Daeng menyelesaikan kalimatnya.


"Tapi Givan betah loh. Tumis kangkung, tumis toge tiap hari, karena dulu pengen hamil betul. Tumis kacang panjang, wortel setengah matang. Kadang bikin sambel aja, sama lalab kol, daun kemangi." tutur mamah Dinda.


"Lalab itu, makan sayuran mentah dicocol sambel gitu nah Len." jelas papah Adi.


Bang Daeng mengangguk, "Aku gak bisa makan-makan begitu." ia tertawa sumbang.


"Tanya aja ke Canda. Aku sarapan pagi pun, pakai masakan olahan daging. Sayuran lengkap, daging-dagingan tiap hari. Ya mungkin karena itu juga, makanya celengan aku gak pernah kumpul."


"Berarti masuknya rewel ya makannya, kek Ghava. Dia begitu tuh, makan di luar terus sama istrinya. Givan, penyuka sayuran dari kecil. Ghifar, penyuka mie-miean dari kecil. Ghava, makannya rewel, tergantung mood dia pengen makan apa. Ghavi tuh yang dari kecil tubuhnya susah berisi, karena susah makan. Besar sampai punya istri pun, dia makannya masih milih-milih aja. Giska sama Icut sih, tergantung stok makanan yang ada di dapur. Gavin sama Gibran, yang kecil ini, mereka pemilih makanan juga. Masaknya apa, minta makannya sama apa." mamah Dinda menceritakan tentang anak-anak mereka.


"Ya mungkin, karena dari kecil aku biasa beli makanan Mah. Aku kan dari kecil, udah biasa cari uang sendiri. Jadi, waktunya makan ya masih di jalan, beli deh akhirnya." tutur bang Daeng dengan memperhatikan mamah Dinda.


"Kok bisa? Memang orang tua kau ke mana?" mamah Dinda seperti terheran-heran.


"Orang tua aku....

__ADS_1


...****************...


Menghangat kembali 🥰


__ADS_2