Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD274. Orang tua Ardi


__ADS_3

"Bang Ardi...." aku mencoba menahan tangannya yang aktif bergerak menyelinap di balik rokku.


"Stttt.... Jangan berisik, Sayang." punggungnya bertambah tegak.


Ia kini mengungkungku di bawahnya.


Sialnya, tangan itu membuatku banjir keringat.


"Abang, udah...." aku memohon, aku begitu kelojotan karenanya.


Ia tersenyum mesum, "Abang selesaikan Adek dulu, terus kita mulai." punggungnya malah turun.


Wajahnya sejajar dengan tengah-tengah tubuhku. Kalang kabut, saat sapuan l*dah itu semakin membuatku segera ingin menuntaskan.


"Abang.... Abang..." aku dibuat semakin ingin meledak.


Aku menjambak rambutnya, "Abang...." kebebasan itu semakin dekat rasanya.


"ABANG......."


"Ngeeeeee..... Iyung...."


"Ngaaaaaaaaaaaaaa.........."


"Iyung........."


Mataku terbelalak. Aku langsung tersadar.


Ternyata tadi cuma mimpi.


Aku menoleh, untuk melihat keadaan Ceysa. Ia terduduk dengan menangis pilu.


"Biyung ada, Nak." aku membawanya ke pelukanku lagi.


"Nen...." ia langsung mengusel ke pabrik ASI-nya.


Aku segera memberikan apa yang ia inginkan. Ceysa mulai bisa dikondisikan, matanya terpejam kembali, seiring aktifnya gerakan bibirnya.


Ya ampun, sekian lama sendiri. Beginikah yang dinamakan mimpi basah?


Apa seperti ini juga, proses mimpi basah pada laki-laki?


Lututku ikut lemas, seolah-olah kejadian tadi adalah benar terjadi.


Aku mengusap keringat di pelipisku. Aku masih mengatur nafasku, dari kejadian mimpi yang seolah nyata itu.


Ardi Fadhlan, kau bahkan sampai terbawa mimpi. Bujang pengganggu, sialan. Bahkan, aku sampai terngiang-ngiang dalam kejadian mimpi tadi.


Aku menoleh ke arah nakas. Jam weker di sana, menunjukkan baru pukul dua dini hari.


Padahal sore tadi aku dikunjungi bang Daeng. Namun, malah bang Ardi yang terbawa mimpi.


Kenapa Ceysa menangis?

__ADS_1


Kan mimpiku jadi tanggung.


Aku cekikikan geli sendiri. Aku malah berharap mimpi itu bersambung.


~


Pagi hari ini, aku mendapat kunjungan pintas lagi dari bungsu keluarga Zuhdi tersebut. Ia sudah siap dengan helm berwarna merah, sedangkan si kakaknya menggunakan helm berwarna putih.


"Kok helmnya beda sih, Bang?" aku menunjuk barang di atas kepalanya.


"Aku safety officer." bang Ardi menunjuk dadanya sendiri.


Lalu ia menunjuk kakaknya yang duduk di bangku panjang, "Mandor, pengawas, insinyur, pakai helm putih." jelasnya kemudian.


Ia menarikku masuk ke dalam ruko, meninggalkan kakaknya di bangku panjang seorang diri.


"Nanti siang ada ma sama abu ke sini ya? Nih, uang." ia memberiku beberapa lembar uang berwarna biru, "Beli kue, buat ngobrol sama ma abu. Bawakan juga mereka buah apa gitu." suaranya begitu lirih.


"Aku ada lah, Bang." aku masih menggenggam uang ini.


"Biar ini aja. Abang kerja dulu." cepat-cepat ia langsung mengecup pipiku.


"Ekhmmmm..."


Aku langsung mendorong tubuhnya, agar berjarak denganku. Kemudian, aku menoleh ke arah sumber suara dekheman tadi.


"Ibu..." aku meringis kuda.


Aku mendapat usapan lembut di bahuku. Segera aku menoleh, pada pelaku yang senantiasa berdiri di sampingku.


"Kerja dulu ya?" ia memasang senyumnya amat manis.


Aku mengangguk, lalu mengikuti pergerakan langkahnya.


"Kerja di mana sih, Bang?" tanyaku kemudian, setelah sampai di teras toko.


Zuhdi menunjuk bangunan milik tiga saudara itu.


"Bang Givan bangun rumah." tambah bang Ardi.


"Hah?" alisku langsung mengkerut.


"Hah, hah, hah? Apa?" bang Ardi memakai sepatu safety kembali.


"Kok bisa?" tanyaku kemudian.


"Bisa, kan punya uang." ia berjalan ke motornya.


"Bye-bye." Zuhdi berdada ria padaku, seolah aku adalah anak-anak.


Lima tahun bersamaku, mas Givan tidak memiliki perubahan. Ia duda satu tahun, malah bisa membangun rumah. Aku jadi merasa, bahwa aku bukan wanita pembawa keberuntungan.


Aku berbalik, lalu melapor pada ibu tentang siang nanti ada kunjungan abu dan ma. Entah mereka akan membahas apa nanti. Tapi sepertinya tentang hubunganku dan anak bungsunya.

__ADS_1


Hingga, dua tamu pun datang. Mereka langsung kami sambut, dengan mempersilahkan mereka duduk di sofa tamu dekat dapur. Cukup nyaman, lagi pun tidak terlihat bahwa ruangan sebelah adalah dapur.


"Surat-suratnya udah beres kah, Dek?" tanya pak Zuhri, ayahanda bang Ardi.


"Udah, Bu. Udah diurus, sejak masih hamil Ceysa." aku paham, mereka menanyakan perihal surat jandaku.


"Ardi minta cepet, kau keberatan tak?" tambah ibu Robiah, mereka adalah besan yang suka berkunjung ke rumah mamah Dinda.


"Kalau bulan depan, siap tak?" aku cukup syok, mendengar pertanyaan abu.


"Kau pengen pernikahan kek gimana, Canda?" timpal ibu Robiah.


Aku memandang mereka bergantian, "Untuk pernikahan, aku tak muluk-muluk. Nikah KUA pun tak apa, terus makan-makan sama keluarga di rumah. Mungkin bang Ardi punya pernikahan impian, Ma. Dia pernah bilang, pengen ngundang kawan-kawannya gitu." aku mengutarakan akan hal itu.


"Ohh, iya. Jadi sebelum akad nikah, seminggu atau tiga hari sebelumnya acara akad, kita syukuran di rumah laki-lakinya. Lumayan buat pegangan mempelai laki-laki, karena umumnya yang datang pasti kasih amplop." terang ma begitu ramah.


"Memang..." aku ragu-ragu mengungkapkannya.


"Kenapa, Dek?" tanya abu, ia memperhatikanku kentara sekali.


"Memang Ma sama Abu ridho? Bang Ardi nikah sama aku? Aku tak sendiri, Ma, Abu." aku melihat mereka bergantian, "Aku ada anak dua. Ditambah lagi kan, mamah Dinda ngeberatin aku tetap di sini, karena beliau berat sama Chandra."


Sepenggal alasan yang aku tahu. Aku diminta bertahan di genggaman mereka, karena cucu emas yang suka mengadu itu. Menurutku tak apa, mungkin seperti itu cara mereka menyayangi cucunya. Mungkin seperti itu juga, cara mereka memuliakan anak perempuan orang lain, yang terpaksa pisah dengan putra sulung mereka.


Mereka tertawa samar. Memang ada yang lucu kah?


"Memang Ardi mau ke mana? Ardi pun kerja sama abangnya sendiri, yang notabene menantu dari mamah Dinda. Jangankan kau, Giska aja tak boleh dibawa jauh. Kami tak keberatan masalah Chandra atau Ceysa, toh mereka pun cucu besan kami. Ngomong jeleknya... Kalau memang Ardi kelimpungan ngasih makan dua anak kau, mamah Dinda sama juragan pun tak mungkin diam aja. Orang lain aja pasti ditolong, apa lagi ayah sambungnya cucu sendiri. Kan bukan begitu, Dek Canda?" ungkap abu kemudian.


Aku terdiam. Aku merasa, mereka tidak keberatan dengan anak-anakku karena memang nenek dan kakeknya tidak mungkin lepas tangan. Mereka seolah senang menjadi kerabat papah Adi dan mamah Dinda, hingga mengizinkan anak bungsunya menikah dengan mantan menantu mereka.


Aku tidak ingin berpikiran buruk. Namun, abu malah mengatakan hal tadi.


Aku tersenyum lebar dengan menganggukkan kepala, "Ya, Abu." aku harus terlihat ramah.


"Kau siap tak nikah sama Ardi? Kau tau kan, Dek? Kalau Ardi ini belum mapan. Masalah rumah tinggal, tak apa kau sama anak-anak tinggal di rumah Ma juga. Atau Ardi yang pindah ke sini. Ardi baru ada tanah mentah, itu pun cuma lima belas bata. Cukup lah untuk bangun rumah, dua kamar, tapi tak ada halaman. Tanahnya, yang di depan rumah Ma itu lah. Ke kiri kan, rumah Giska itu." ucap ma kemudian.


Satu yang aku harapkan. Semoga mereka tidak menjadi mertua yang menyebalkan. Mertua seperti mamah Dinda saja sudah tak apa, meskipun galak dan cerewet juga.


"Oh, ya."


"Bentar ya?


"Iya, iya. Nanti dipanggilkan."


Ada grasak-grusuk obrolan di depan.


Tiba-tiba, Ria muncul dengan tersenyum lebar.


"Mbak, itu ada.....


...****************...


Gemes, gemes 😩

__ADS_1


__ADS_2