Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD427. Memarahi Ria


__ADS_3

"Kin, ini Canda boleh makan bakso sama teh kemasan tak sih? Kalau bilang perawat sih, katanya tak boleh dulu. Ini dia udah seharian ribut bakso sama teh kemasan terus." mas Givan melirikku, sembari berbicara pada ponselnya.


"Sebetulnya sih, tak ada yang perlu dipantang. Asalkan, jangan makan makanan yang mengandung gas. Biasanya kacang-kacangan atau soda. Jangan makan pedas, MSG jangan dulu, makanan yang terlalu manis, gorengan, kafein, alkohol, bersantan, makanan dingin atau makanan mentah pun tak boleh, makanan yang memicu sembelit pun tak dibolehkan. Intinya, BAB nanti jangan sampai ngejan. Udah pipis sama kentut belum sih?" ternyata panggilan telepon itu dispeaker. Pantas saja, mas Givan memasangnya di depan wajahnya.


Tapi ngomong-ngomong, aku tetap dipantang tidak boleh makan ini dan itu.


"Udah semua. MSG pasti ada di bakso itu, Kin." mas Givan menghela nafasnya.


"Pengen bakso betul kah? Masih dalam misi ngidam kah?"


Dasar, Kin. Aku tidak dalam misi ngidam, aku memang ingin makan bakso.


"Entahlah, Kakak Ipar kau memang agak-agak."


Aku langsung mencubit pelan lengan mas Givan. Bisa-bisanya, ia mengataiku agak-agak.


"Nanti aku buatkan aja deh, biar tanpa MSG. Bayinya udah di situ belum?"


Memang enak? Kin kan bukan pedagang bakso.


"Belum, tapi Abang udah adzanin. Besok pagi katanya sih, boleh dibawa pulang. Soalnya Canda sempat kolaps tadi, masa operasi dia malah tak sadar sampai baru sadar jam empat sore tadi. Jadi tak bisa IMD juga, bayinya juga perlu diobservasi. Karena badannya yang terlalu besar, sampai lima koma tiga, udah kek bayi satu tahun."


Heh? Benarkah?


Jadi aku tadi tidak sadar? Kenapa mas Givan mengatakan aku tertidur?


Aku jadi tidak sabar ingin melihat bayiku. Apa bayi itu mirip seperti bayi yang dalam mimpi bertemu bang Daeng tadi?


Ya, sepertinya tadi hanya mimpi.


"Aku besok ke sana sama ibu, Bang. Sekarang udah malam, tadi ibu pun handle anak-anak. Biasa Zio mogok makan, minta pulang ke ibu. Gara-gara sama kak Lia, dia dimarahin karena mainan sabun terus. Ceysa ya kaku betul sama si Shauwi, diliatin aja itu perempuan. Kek terheran-heran gitu, kenapa Shauwi ngikutin dia aja."


Ah, iya. Anaknya bang Daeng itu. Ia memiliki pengasuh baru yang mamah Dinda bawa, dia adalah perempuan yang ikut datang dengan mamah Dinda saat beliau diantar rekan kerjanya.

__ADS_1


Namanya Shauwi, dia gadis delapan belas tahun yang ingin bekerja. Saat mamah Dinda di Lhokseumawe, Shauwi sering membantu mamah Dinda packing dan mengambil barang. Itu kata mamah Dinda, karena aku tidak tahu. Yang jelas, Shauwi itu bekerja dengan mas Givan, yang entah kapan mulai membayarnya.


Mas Givan masih dalam tahap, kerepotan mengatur keuangan. Semoga dengan lahirnya bayi raksasa kami, rejeki kami dilancarkan dan dipermudah. Karena banyak pihak, yang bergantung pada suamiku. Belum lagi dua keluarga operator yang wafat, mas Givan bahkan menjamin mereka dengan berhutang.


"Bilang aja ke Shauwi, biarin kalau Ces keliling rumah. Dia cuma liat-liat aja, tak bakal ngacak-ngacak barang. Nanti dia capek sendiri, karena ngikuti aja Ces. Terus papah gimana? Masih di rumah Abang kah?"


Oh, iya. Pak tua yang penuh drama itu, ada di rumah kami sejak istrinya pulang dalam keadaan tidak bisa berjalan. Beliau selalu ada, untuk membantu mamah Dinda beraktivitas.


Untuk komunikasi di antara mereka. Setiap aku memperhatikan, mamah Dinda masih terlihat datar saja pada papah Adi. Meski papah Adi terlihat begitu ramah, dengan senyum yang senantiasa mengembang di wajah kecotnya.


Gara-gara enggan dipenjara karena ulahnya pada Bilqis, papah Adi malah mengorbankan rumah tangganya sendiri. Harusnya ia terus terang saja pada mamah Dinda, biar mamah Dinda membantu mencari jalan keluarnya. Karena, sehari sebelum aku berangkat ke rumah sakit. Si Bilqis datang ke rumah Kinasya kembali, untuk menanyakan keberadaan papah Adi.


"Masih. Tadi aku ke rumah, mamah lagi disuapin papah. Ghifar juga sekarang di sana sama Kaf, lagi main aja." sahut Kin dari seberang telepon.


"Ya udah ya, Kin? Besok kalau jadi buat bakso, bikin agak banyak terus ukuran jumbo juga ya? Canda suka bakso tuh yang gedenya, yang dalamnya ada daging cincangnya itu. Uang belanjanya minta ke Ghifar dulu, bilang aja tinggal catat aja dulu gitu."


Kinasya tertawa lepas, "Siap, Bang. Tenang aja. Udah ya? Assalamualaikum."


"Ya, wa'alaikum salam."


Aku belum ada kemajuan. Saat tadi dibilas oleh perawat pun, aku kesakitan parah. Aku tidak mau untuk belajar tidur menyamping, karena amat sakit sekali. Untungnya, mas Givan meminta perawat untuk tidak memaksaku.


Aku jadi trauma hamil dan melahirkan, karena sakitnya seperti ini. Aku akan KB suntik atau implan saja sampai tua. Aku tidak mau KB pil lagi, karena aku akan lupa meminumnya.


"Tidur, Ria! Udah malam ini." tegas mas Givan.


Sekarang pukul sembilan malam.


"Udah tuh! Jangan main HP terus!" tambahnya, dengan memperhatikan Ria.


Ia adalah abang ipar yang bawel dan berani memarahi.


"Ria!!!" bentak mas Givan, karena Ria masih diam saja.

__ADS_1


"Ya, Bang." Ria langsung mengantongi ponselnya.


"Lepas Mbak kau sembuh nanti, ikut Abang ke Kalimantan. Mau jadi apa kau, disekolahkan jahit tetap sih main HP terus? Buat kesibukan sendiri, beli bahan, jahit-jahit bikin rok kek, atau kemeja. Mesin kan udah punya, tinggal kau action. Tak ada kreatifnya betul, jadilah manusia yang produktif selagi masih muda. Kau punya suami, punya anak, tak bisa kau ngembangin lagi kreativitas kau, apalagi dengan modal yang tidak memadai." mas Givan melangkah ke arah Ria, dengan mulut yang nyaring bunyinya.


"Iya, Bang." Ria menunduk dengan mulut manyun.


"Mana HP kau? Sini Abang pinjam." mas Givan mengulurkan tangannya pada Ria.


Ria mendongak menatap mas Givan, "Buat apa, Bang?" Ria terlihat kesal.


"Mana?!" bentakannya, membuat perutku nyut-nyutan.


"Nih." Ria memberikan ponselnya.


Mas Givan langsung memasukkan ke saku ponsel tersebut, "Sana tidur!" mas Givan menunjuk spring bed single.


"Tapi, Bang." wajahnya memelas.


"Nurut! Sana tidur!" mas Givan berjalan kembali ke arahku.


"Bang Givan tuh kek apa betul. Kek tak pernah muda aja." Ria menghentakkan kakinya, dengan berjalan ke arah spring bed.


"Pernah muda, makanya membatasi kau. Biar masa muda kau tak sia-sia." urat wajahnya masih saja seperti Hulk.


Ria sudah tiga kali, diperingati untuk tidak bermain ponsel. Tapi, Ria tidak mau menganggap peringatan mas Givan.


"Heran sama anak jaman sekarang." mas Givan duduk kembali di bangku yang berada di samping ranjangku.


Mas Givan tadi meminta Ghava pulang. Saat Ghavi dan Tika berkunjung pun, maghrib tadi diminta pulang. Karena anak-anak Tika tidak mau diam, saat mendengar suara yang heboh, aku merasakan perutku nyut-nyutan. Giska dan Zuhdi belum bisa menengokku. Mereka malu, karena tidak bisa membawa apapun untukku.


Padahal aku tidak masalah, yang penting membawa bakso saja. Aku terngiang-ngiang, bakso yang berada di mimpiku tadi.


...****************...

__ADS_1


Menuju tamat


__ADS_2