
"Canda, kau bangun tidur tadi gimana? Mati rasa kah di kaki kau? Atau, sakit di kaki kau?"
tanya mamah Dinda, yang berjalan di belakang papah Adi yang tengah menuruni tangga ini.
"Berat, Mah. Kek ketindihan, susah gerak. Aku ngerasa kek lemes gitu, jadi kek tak punya tenaga buat gerak. Tapi bahu, tangan, leher, kepala bisa gerak. Cuma linu, Mah. Kek pada sakit capek gitu."
"Okeh. Tunggu di mobil. Mamah mau ambil barang-barang Mamah sama Papah."
Aku ditempatkan di bangku kedua. Sudah ada bantal di sini. Ghifar pun, membantu papah Adi untuk memposisikan diriku agar nyaman.
"Tunggu dulu, Far. Papah ambil mobil lagi. Kau sama mamah ya?"
Dari suaranya, papah Adi tengah berjalan menjauh. Sepertinya, ia hendak pulang ke rumah dulu.
"Ini dokumen-dokumennya, Far. ATM Ibu bawa aja ini, Far." ibu tengah berbicara di luar mobil bersama Ghifar.
"Tak usah, Bu. Biar dokumennya aja. Setengah biaya biasanya dicover asuransi kesehatan, seluruh keluarga mamah punya, disimpan sama mamah biasanya. Program asuransi ladang, jadi kehitung semua anak, menantu, cucu yang sesuai KK. Mamah juga keknya belum perbaharui data itu, soalnya cucu yang kecil-kecil ini belum punya asuransi. Canda juga masih kedaftar, meski bukan menantunya lagi."
"Bang, aku boleh ikut gak?" itu adalah Ria.
"Ajak Kaf aja gih, biar kak Kin nyusul ke rumah mamah. Soalnya, Kal lagi les privat. Biar kau sama Ibu, ada yang bantu-bantu urus anak-anaknya. Kak Kin sih tanggap, refleknya bagus. Gavin sama Gibran juga pasti kehandle, tak berani main ke luar pasti mereka."
Sehebat itu Kinasya di mata Ghifar. Tidak denganku, yang lemah fisik seperti ini.
"Ya, udah." Ria menyahuti, lalu terdengar suara kerikil yang tertendang.
Blaghhhh....
Pintu kanan mobil ini, di mana posisi kepalaku berada di buka oleh seseorang.
"Mbak...."
Aku segera mendongak.
"Apa?" tanyaku lirih.
Cup.
Aku begitu terharu. Saat adik yang begitu asing untukku, karena kehadirannya dirahasiakan dariku ini mencium pucuk kepalaku.
"Semangat, Wanita hebat." suara Ria bergetar pilu.
Aku mengulurkan kedua tanganku, lalu memeluk lehernya semampuku.
"Nitip Chandra sama Ceysa, Dek. Maaf, mungkin dari hari ini, Mbak bakal banyak ngerepotin." air mataku tidak berhentinya mengalir.
Ria menurunkan tanganku yang membelenggu tengkuk lehernya. Netranya memandangku begitu miris, jemarinya terulur mengusap air dan keringat membasahi wajahku.
"Mbak harus cepet sehat. Aku gak mau direpotin terus."
Garis bibirku yang tadi turun ke bawah. Tiba-tiba datar dan menegang.
Adik sialan memang!
__ADS_1
Siapa lagi yang mengajari Ria menjadi seperti ini?
Ria menangis tertawa. Itu terdengar sangat menyakitkan. Ia seolah tertawa, agar menghibur suasana hati yang begitu dirundung kemalangan.
"Ayo, ayo." suara mamah Dinda perlahan mendekat dengan segala ocehan dan perintahnya pada Ghifar.
"Awas anak-anak ya, Bu."
Posisi Ria digantikan dengan posisi mamah Dinda.
Kemudian, beliau mengangkat kepalaku dan memindahkan bantal yang menyangga kepalaku. Beberapa saat kemudian, bantalku digantikan dengan pahanya.
Blumpppppbhhhh....
Bantingan pintu terdengar dua kali.
"Ke RSUD Muyang Kute aja, Far. Yang tak terlalu jauh." ucap mamah Dinda, sesaat setelah mobil berjalan.
"Lewat gang kiri aja, Far. Nanti kita keluar dari puskesmas Simpang Tiga, tempat Kin kerja dulu. Lurus sedikit, terus ambil kiri dari kantor PC PMII Bener Meriah." tambah mamah Dinda.
"Ya, Mah. Gayonesian coffe belok kiri itu kan RSUD Muyang Kute itu?" sahut Ghifar, ia bagaikan sopir mamah Dinda.
"Iya. Memang kau tak pernah ke RSUD Muyang Kute?"
"Hmmm, lupa-lupa ingat Mah. Aku lama di rumah aja." Ghifar tertawa sumbang.
"Ya, ngeramin telur. Biar lekas busuk."
Mamah Dinda menunduk, matanya tersorot tajam.
"Ketawa pula kau!"
Mamah Dinda tidak benar-benar sewot.
Tanganku terulur, lalu aku membelai wajah mamah Dinda dari bawah.
"Aku sedih terus. Tapi denger Mamah ngomel, Mamah gerutu, Mamah marah, aku bisa ketawa." ungkapku kemudian.
Mamah Dinda menghempaskan tanganku, ia bersedekap tangan dengan memalingkan wajahnya ke arah jendela kanan.
"Terus, Ane harus marah-marah terus gitu?!" tuturnya seperti logat anak muda yang sombong.
Aku mencerna ucapan mamah Dinda di atas. Ada hal yang mengganjal di hati, aku penasaran. Namun, aku pasti digetok jika bertanya.
Tak apa, deh. Yang penting rasa penasaranku hilang. Toh, aku sudah sakit juga. Sakit-sakit sekalian, dengan getokan dari mamah Dinda juga.
"PC PMII itu bank darah ya, Mah?" tanyaku pelan.
"Bukan! PC PMII itu, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. PMI, Palang Merah Indonesia. Tugas PMI, kasih bantuan buat korban konflik. Perang lah gampangnya, korban konflik itu. Tapi kalau konflik rumah tangga, PMI tak bisa bantu."
Aku sudah cekikikan di sini.
Mamah Dinda menatapku sekilas, lalu ia menarik nafasnya lagi. Sepertinya, ia akan berbicara lebih panjang.
__ADS_1
"Terus.... Bencana, kesehatan. PMI juga, punya unit donor darah di setiap kota, untuk memenuhi kebutuhan darah masyarakat." mamah Dinda meluruskan jemarinya satu persatu, "Kalau bank darah, biasanya ada di rumah sakit. BDRS biasa disebutnya, Bank Darah Rumah Sakit. Kalau ketersediaan mereka tak ada, keluarga diminta untuk cari di luar. Kek kerabat kita, rumah sakit lain, yang punya golongan darah yang kita butuh. Atau, bisa juga kita langsung cari ke PMI setempat." lanjut beliau, dengan menoleh ke arah jendela kanan kembali.
"Kalau konflik rumah tangga, kita cari Mamah baiknya." tambah Ghifar dengan tertawa tipis.
"Halah!!!" mamah Dinda seperti menyepelekan.
"Konflik antar saudara pun, Mamah juga diminta bantu selesaikan. Konflik usaha apa lagi, sampai nangis-nangis ulon." mamah Dinda menyindir Ghifar sepertinya.
Terbukti dari tawa Ghifar yang langsung pecah.
Ulon, dalam bahasa Aceh adalah aku.
"Tapi sebelum dibantu. Aku dimarahin, terus dimaki dulu."
Kini giliranku yang tertawa renyah.
"Ya kau bodoh soalnya. Basic kau tak punya, segala jadi pemilik pabrik kopi."
"Aku tak minta jadi bos kopi. Jadi supir travel aja, aku tak apa. Enak, bisa keluyuran terus. Dari pada bos, dikurung terus."
"Kau dikurung bukan karena jadi bos. Tapi karena milih Kin buat jadi istri kau, Bodoh!"
Aku kembali dibuat tertawa lepas, gara-gara ucapan frontal dari mamah Dinda untuk Ghifar.
"Iya ya, Mah? Buktinya, papah yang juragan ladang aja tiap hari bebas keluyuran." tambahku kemudian.
"He'em. Jam delapan pagi udah ngeluyur, pulang dzuhur, makan sholat, tidur sebentar, terus ngeluyur lagi sampai sore. Malemnya, kadang ngeluyur lagi atau ngobrol terus sama pengurus ladang yang datang." timpal mamah Dinda.
"Jadi duda aja, Far. Nanti kek mas Givan, abis maghrib udah ngilang, lusa pagi baru pulang."
Mamah Dinda cekikikan dengan menutup mulutnya.
Aku tidak tahu bagaimana reaksi Ghifar. Karena dari posisiku, aku tidak bisa melihat Ghifar.
"Kau doain bukan yang betul-betul! Tak pernah bermimpi aku jadi duda, amit-amit. Udah tak apa, jadi burung dalam sangkar aja. Dari pada jadi duda. Nanti anak aku mau diapakan? Nanti aku mau siapa yang urus?"
Ghifar menanggapi dengan serius.
"Tapi, Far. Enak Canda atau Kin?" mamah Dinda bertanya, dengan tertawa geli.
Kikkkkk.....
Aku hampir menggelinding ke bawah. Untungnya, mamah Dinda menahan dadaku agar tidak terjatuh.
Wajah Ghifar muncul dari tengah-tengah kursi depan, sorot matanya menyipit kepadaku.
Hei, mamah Dinda yang berkata. Kenapa aku yang mendapat ekspresi itu?
"Enak......
...****************...
Enak author dong 😆
__ADS_1