Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD111. Sinyal untuk Daeng


__ADS_3

Bang Daeng merebahkan tubuhnya di sampingku. Pakaiannya masih lengkap, ia mengenakan celana jeans panjang, dengan ikat pinggang mahalnya. Belum lagi kemeja berwarna abu-abu gelap, yang lengannya digulung sampai siku.


Kami tadi hanya pergi untuk makan bakso, tapi penampilannya sesuai ekspektasiku. Membuatku merasa bangga, karena bisa digandeng-gandeng terus oleh laki-laki yang bisa menghormati sendiri penampilannya ini.


Ia malah asik bermain ponsel, senyum samarnya terukir di sana.


Apa yang ia lihat?


Aku menggeser posisiku, lalu kepalaku melongok ke layar ponselnya. Jika aku melakukan ini pada mas Givan, ia sudah langsung habis-habisan memarahiku.


"Tengok apa?" tanyaku kemudian.


Padahal dengan jelas, aku bisa melihat bahwa dirinya tengah melihat story sosial media seseorang.


"Mamah Dinda, post foto di rumah sakit beberapa hari yang lalu. Abang sibuk seru-seruan sama Adek terus, jadi gak sempet scroll-scroll sosmednya." ibu jari bang Daeng, menunjukkan waktu posting foto tersebut.


"Tapi bukan mamah Dinda yang upload ya, Bang?" aku bisa melihat, bahwa bang Daeng bukan melihat-lihat wall sosial media mamah Dinda. Tetapi tempat di sebelahnya, yang biasanya digunakan untuk siapa saja yang menandai mamah Dinda.


Ia tidak menjawab, matanya fokus pada bacaan yang ditranslet otomatis tersebut.


"Keren, keren. OTW empat puluh delapan, dia hamil lagi." bang Daeng masih fokus pada komentar yang menggunakan bahasa asing tersebut.


"Ehh... Keguguran?" urat wajahnya begitu kaget.


"Kalau hamil lanjut pun, keknya anaknya bakal cowok lagi. Benih-benih papah Adi, banyakan laki-lakinya. Padahal kan, gak apa nungguin salah satu anak gadisnya siap nikah juga." lanjutnya seperti menggerutu.


"Istri Abang mau Abang apakan?" aku menepuk dadanya.

__ADS_1


Ia melirikku sekilas, lalu tawanya terdengar begitu receh.


"Iya, lupa. Kirain tuh kita belum nikah." ia menahan pipiku, lalu mencium pipiku yang lain.


"Lupa! Lupa!" aku memandangnya dengan sengit.


Senyumnya tak kunjung pudar, "Apa sih? Adek cemberut terus, sensitif betul." sahutnya dengan fokus menscroll sosial medianya kembali.


"Tau ah!" aku kembali meluruskan punggungku, lalu melihat serial drama Indonesia.


Bang Daeng tidak mengerti sinyal yang aku berikan.


Aku harus apa jika begini?


Beberapa menit terlewat, sampai satu jam kemudian bang Daeng masih memainkan ponselnya saja. Entah apa yang merasukinya? Bang Daeng sebelumnya tidak pernah terlalu lama bermain ponsel.


Saat aku mengintip layar ponselnya, rupanya layar ponselnya diisi banyak bacaan tanpa gambar. Sepertinya, itu adalah salah satu platform novel online.


Huh!


Aku ingin diganggu olehnya.


"Bang..." rengekku sembari memeluknya dari belakang.


"Hmm." hanya gumaman saja yang ia berikan.


"Bang Daeng..." aku kembali merengek manja.

__ADS_1


"Apa, Sayang?" bang Daeng mengusap tanganku yang menjuntai ke perutnya.


"Aku udah bilang, aku udah selesai haid." sebenarnya aku malu, untuk menegaskan kembali tentang ini.


Aku bisa mendengar suara ponsel bang Daeng yang terhentak di lantai, karena ponselnya tak menggunakan softcase. Lalu, ia memutar tubuhnya.


"Iya, dengerrrrrrrr! Tadi pun kita jama'ah." ia menegaskan huruf R.


"Huh!!!" aku bersedekap tangan, sembari memandang plafon kamar.


Bang Daeng tidak peka!


"Ihh..." ia mencolek hidungku. Lalu dirinya bangkit dan berlalu pergi ke kamar mandi.


Aku berharap bang Daeng muncul, dengan pakaian yang tidak lengkap lagi.


Namun, harapanku meleset. Pakaiannya masih terpasang rapih di tubuhnya.


"Bang Daeng...." aku merengek kembali, dengan menghentak kakiku ke tempat tidur.


Aku kesal padanya, karena ia tak mau mengerti inginku juga.


"Apa???" ia merebahkan tubuhnya kembali di sampingku.


"Aku.....


...****************...

__ADS_1


Berani gak Canda nuntut haknya 🤔


Up satu lagi jam tiga sore.


__ADS_2