
Jadi, kemarin aku hanya diminta menjaga jodoh orang?
"Mau rujuk katanya? Cepat lah! Tak panas kah, tengok mantan balik sama pacarnya dulu? Terus langsung sebar undangan nih."
Ardi Fadlan dan Farikhatul Aini.
Rasanya, aku seperti dipermainkan oleh mereka. Aku datang, seolah menjadi orang ketiga. Lalu, seolah-olah semesta memberiku karma karena telah menjadi orang ketiga di hubungan mereka.
Kemudian, mereka bersatu kembali karena kekuatan cintanya. Seperti di novel-novel, di mana orang ketiga sepertiku yang tengah sakit keras atau dipenjara, ada juga yang menjadi miskin, lebih-lebih malah meninggal.
Aku ini sebenarnya tokoh protagonis atau antagonis?
Tapi kenapa tepat sekali?
Aku seolah mendapat karma dari kisahku sendiri. Saat awal, aku dekat dengan Raka, tetapi aku lebih memilih Ardi. Di situ juga, Ardi lebih memilihku saat itu, kemudian meninggalkan Aini.
Lalu, aku break bersama Ardi karena kebenaran yang terungkap. Usahaku bangkrut, aku berjuang untuk mencari nafkah, lalu aku sakit keras kurang lebih dua bulan.
Kemudian, aku sehat dan datang kabar bahagia dari Ardi dan Aini.
Aku tidak akan memaki siapapun. Meski aku mungkin adalah tokoh protagonis, tetapi kalian tetap disajikan cerita dengan karma turun pada siapapun. Author tidak pandang bulu.
Hanya saja aku sudah lelah, Author. Aku ingin ditamatkan saja. Novel Canda Pagi Dinanti terlalu berat, biar Author saja yang merasakan pusingnya. Tolong jangan bawa-bawa aku, Thor.
Aku tidak kuat, aku adalah beban keluarga dan beban suami. Tolong kawinkan aku saja, dengan siapa atau siapa yang baik untukku dan keturunanku.
Aku ingin dinafkahi, Thor.
Aku ingin suamiku saja yang menanggung dosaku, biar dia yang mendapat karmanya, jangan aku.
"Ngebatin kau?!"
Aku tersentak, kemudian meluruskan pandanganku pada sosok sempurna itu.
"Mas.... Aku pengen jadi pengantin juga." aku menunduk lesu.
Mas Givan malah tertawa lepas.
"Sana lah sama Lendra! Kemarin kau tolak aku." mas Givan bersedekap tangan begitu sombong.
"Oh, bisa. Aku ajak dia nikah cepat-cepat. Biar kau yang jadi bridesmaidnya." aku menaikan kesombonganku.
Mas Givan tertawa, dengan menutupi wajahnya.
"Aku ini tampan, Bodoh. Bukan cantik." ia terpingkal-pingkal dengan menekan ujung matanya.
"Tampan-tampan bodoh!"
__ADS_1
"Bodoh-bodoh selamitan!"
Kenapa kita malah saling memaki?
"Kau lah, Mas!" aku menunjuknya.
"Kau pun sama!" ia memberiku senyum menyepelekan.
"Udah tuh, berisik! Bikin pusing aja! Apa ada yang mikirin gimana aku nikah, dengan gak ada akte lahir ini? Aku bakal nikah siri, dengan anak-anak yang gak punya akte lahir lagi. Begitu terus siklusnya, sampai aku jadi nenek buyut."
Aku dan mas Givan menoleh serentak pada remaja yang duduk di bangku panjang, yang terletak di teras ruko paling kiri ini.
Ceria Skalane Waktu.
Aku dan mas Givan saling memandang. Kemudian, mas Givan langsung undur diri tanpa sepatah katapun. Aku pun, hanya bisa terdiam. Karena, aku baru sadar hari ini tentang masalah terbesar adikku.
Ria benar, ia mau tidak mau hanya bisa menikah secara siri karena ketidakadaan akte kelahirannya. Membuatnya harus melahirkan kembali keturunan, yang tidak memiliki akte kelahiran.
Masalahku belum rampung, sudah disusul dengan kenyataan tentang Ria kelak. Hanya masalah Ardi Fadlan saja yang happy ending di sini.
Cepatlah, Author! Aku sudah akan meledak, menghadapi permasalahan yang tidak ada ujung p*ngkalnya.
Ini seperti kehidupan asli, di mana permasalahan silih berganti. Memang ini hanya bacaan, cerita fiktif belaka. Namun, tidak mungkin author menulis tanpa pertimbangan dan hasil pemikiran yang tidak masuk akal. Penulis, diwajibkan menulis dengan mengikuti pedoman hidup yang nyata.
~
Malam hari ini, mamah Dinda melakukan panggilan video call denganku. Aku merasa rinduku terpecah belah, melihat kondisi bang Daeng.
"Dua hari yang lalu, abis operasi lagi." suara mamah Dinda seperti berbisik-bisik.
"Kau liat Adi Riyana? Ke mana dia? Dari tadi ditelpon tak diangkat satupun." lanjut mamah Dinda, dengan urat wajah yang tegas.
"Ke Giska dari sore, Mah. Papah tuh kesepian, Mah." aku mendengar ini beberapa kali dari papah Adi.
"Ck...." hanya itu yang terdengar ke telingaku.
"Mamah sama bang Lendra kapan pulang?" tanyaku kemudian.
"Nanti lagi observasi. Dari sadar, sampai sekarang, Lendra banyak tidur. Kin sampai khawatir. Semoga tidur untuk pemulihan pasca operasi, bukan karena hal lain."
Aku tidak siap mendengar kabar itu.
"Mah, aku mau rujuk sama bang Lendra. Buat bang Lendra sembuh, Mah." aku sudah terisak-isak.
"Lendra pun bilang begitu. Kau bilang lah sama yang nulis cerita kau, jangan sama Mamah."
"Aku udah tak percaya sama author, Mah. Alurnya lempeng, adem, tiba-tiba langsung nyekik aja. Harap-harap cemas aku, Mah."
__ADS_1
"Itu Canda kah, Mah?" suara itu begitu lemah.
"Ah, iya. Kau udah bangun?" aku bisa melihat bang Daeng dengan jelas, sepertinya mamah Dinda memutar kameranya dan berjalan mendekati bang Daeng.
"Aku cuma tidur-tiduran, Mah."
"Kau tak beres, Lendra. Tidur-tiduran, tapi kau tak tau apa-apa tentang aktivitas orang-orang di ruangan kau sendiri." kamera diputar kembali, mamah Dinda sepertinya berada di kursi samping brankar bang Daeng.
Wajah bang Daeng terlihat jelas. Ia semakin kurus, dengan bibir yang begitu pucat.
"Bang.... Kapan sembuh? Aku udah pengen jadi pengantin." aku mencoba membangkitkan semangatnya, meski memberi kesan seolah aku sudah tidak sabar.
Garis bibirnya tertarik, "Mau ngadain resepsi juga kah?"
"Iya, Bang. Dipajang gitu, ada prasmanan juga." suaraku tidak stabil, karena air mataku terus mengalir.
"Boleh. Lusa Abang sembuh, nanti langsung siapin semuanya. Adek list aja temen-temen Adek yang mau diundang, Abang juga bakal ngundang rekan bisnis yang dekat aja." ia selalu tersenyum, saat mengatakan kabar baik itu.
Ia memiliki semangat untuk sembuh.
"Siap, Bang. Abang cepet pulang, biar kita bisa ngobrol kosong lagi." air mataku tak hentinya mengalir.
Sangat menyakitkan. Melihatnya selemah ini, dengan semangat yang setinggi itu. Apa aku berdosa, memintanya rujuk semata-mata hanya agar ia memiliki semangat hidup lagi?
Jangan tanyakan cintaku, karena cuma dialah pemenangnya memperlakukanku.
"Pasti, Dek. Abang pasti pulang. Abang pasti pulang. Adek tenang aja."
Aku menggigit bantal tidur Ceysa. Karena tangisku sudah tidak bisa dikendalikan. Aku takut, aku belum siap, jika sampai kehilangan dirinya. Yang lebih aku takutkan, makna lain dari ucapan pulang yang terus ia ulang.
"Udah, Canda. Jaga kondisi, kau pun masih rutin cek up kan? Jangan nangis sampai segitunya, Lendra pasti sembuh." aku bisa melihat jelas wajah mamah Dinda.
Beliau memfokuskan layar ponselnya pada wajahnya saja.
"Cuma abses pada umumnya. Insya Allah, ini operasi terakhir buat Lendra. Udah tak ada nanah lagi di luka bagian dalamnya. Udah bersih. Mamah berani bilang begini, karena Kin ikut di meja operasi juga."
"Iya, Mah." aku cukup tenang mendengar penuturan mamah Dinda.
"Aku mau liat bang...."
Aku belum selesai berkata, tetapi Kin langsung memangkas ucapanku.
"Awas, Mah! Lendra.........
...****************...
Woy, kenapa itu 😱
__ADS_1