Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD255. Persiapan jalan-jalan


__ADS_3

"Sama berarti, Canda. Aku pun belum cerita, tentang aku masih sama Putri. Pas tadi, aku lagi makan. Papah bilang gini. Tahun depan, Ria udah tujuh belas tahun lebih. Kalau kau sekarang bisa jadi lebih baik, kau bisa turun ranjang sama Ria." ia berbicara pelan.


Aku melebarkan mataku tak percaya. Lalu aku melirik gadis yang bermain ponsel di atas ranjangku itu. Gadis belia, ia harus mendapat duda ganas seperti mas Givan. Perbedaan umur saja, sampai berjarak dua puluh tahun.


"Tapi aku kasian sama Ria. Nanti aku udah jadi kakek-kakek, Ria baru sampai ke puber keduanya aja. Pas aku mati, repot lagi dia biayai anak-anak aku. Bisa-bisa, dia jualan kangkung keliling kampung." tambahnya yang membuatku tertawa tertahan.


Aku memukul lengannya pelan, "Kau mikirnya udah jauh aja." sahutku kemudian.


"Iya lah, kasian. Umurnya beda jauh betul, mana anak aku banyak lagi." ia melirikku, "Memang kau dijodohkan sama siapa?" tanyanya kemudian.


"Sama Raka, kau kenal kan?" aku memutar mataku malas.


Sebenarnya, aku tidak ingin membahas tentang ini.


"Kenal, mantan pacarnya sepupunya Zuhdi. Anak mami loh, Canda. Jangan sama dia deh."


Tuh, kan? Mas Givan saja langsung berpendapat jelek.


"Itulah, Mas. Mana aku dituntut ngasih dia minimal sepuluh keturunan." aduku kemudian.


"Hah?" mas Givan terdiam sejenak, "Jangan mau lah. Pasti bentrok nanti antara Chandra, Ceysa, sama anak kau yang dari orang lain nanti. Kata aku sih, kau lebih baik balik sama Lendra. Karena kita udah tak bisa bareng-bareng lagi. Untuk menghindari bentrok anak begini. Lain ayah atau ibu gitu, jangan dikira tak bawa pengaruh. Pengaruhnya besar, Canda. Kek aku, sama Ghifar."


Benarkah demikian?


"Lendra di sana sama siapa sih, Mas?" aku menunggu jawabannya.


"Dia masih sendiri, masih duda. Mungkin ya jajan-jajan aja kali, namanya laki-laki."


Sepertinya, bang Daeng makin menekuni bisnis gelapnya.


"Dia ini kerja apa sekarang?"


"Dia punya perusahaan, PT kecil. Kalau tak salah, distributor ikan tawar ke Singapore sama peti mati. Itu juga support kakeknya. Kakeknya ada di sana, pas aku jenguk."


Ternyata ia pulang ke keluarganya yang kaya raya itu. Ia memulai semuanya dari awal, dengan dato sebagai tempat ia berpegangan.


Aku sudah melamun saja. Karena tumbuh lagi harapanku, saat mas Givan menarik nama Lendra agar menjadi ayahnya anak-anakku.


"Tapi, Canda. Tunggu dia bener dulu. Maksudnya, biar dia suruh sadar sendiri. Dengan adanya anak sama kau, mungkin dia mikirin juga tentang anak kalian."


"Ya, harusnya dia mikirin Ceysa. Ceysa kek Chandra kecil, dia bingung mana ayahnya."


Mas Givan malah tertawa geli.


"Itu sih ulah Ghifar and the genk. Paman bibinya, dipanggil mak bapak semua. Jadi bingung lah anak kita."


Aku menoleh ke arahnya. Hal yang sangat tidak pernah diucapkannya.


Anak kita.

__ADS_1


"Kau jangan nikah sama Putri dulu lah. Kalau aku tak jadi sama Raka, Lendra tak ada kabar, aku balik aja sama kau lagi." aku hanya iseng saja.


Ia melebarkan matanya, dengan mulut yang dirapatkan. Satu detik kemudian, ia malah tertawa geli.


"No, no, no." telunjuknya bergerak ke kanan-kiri, "Putri bekas Lendra, kau bekas Lendra. It's not my dream."


Kami tertawa bersama. Aku memukuli lengannya, lalu aku ganduli.


"Jangan buru-buru. Kalau gatal, aku nanti belikan yang bisa bergetar." ia mengusap pipiku, dengan tangannya yang aku peluk ini.


"Apa itu yang bisa bergetar?" aku menegakkan kepalaku, lalu mendongak menatapnya.


"Itu loh, kek batang laki-laki."


Oh, alat bantu se*s maksudnya?


Aku langsung mencubit lengannya. Iseng sekali ayahnya Chandra ini. Masa iya, aku mau diberi alat bantu se*s?


Tawanya begitu lepas, "Ya makanya, jangan dulu nikah. Kalau kau tak cocok sama Raka, aku bantu ngacauin hubungan kau sama dia deh. Nanti kalau dia main, aku jelek-jelekin kau."


"Jelekin kek mana?" tanyaku kemudian.


"Canda males, harus aja dibentak baru nurut. Cuma bisa masak tumis, tak bisa ngolah kembang pepaya. Udah gitu, tak mau goyang, maunya digoyang aja. Suruh ny*p*ng, malah kena gigi. Aku udah cukurin, disuruh cukur balik malah kena kulit. Suruh bikin cap, malah kasih bekas gigitan vampir." tawanya begitu puas, karena aku terus-terusan memukuli lengannya.


Keterlaluan mas Givan ini.


"Wehhhhh, ngeeeee....." tangis Ceysa langsung lepas saja.


Aku langsung bangkit, untuk menghampiri Ceysa yang sudah terduduk dengan mengucek matanya itu. Tangisnya begitu lepas, ia sepertinya terkejut dengan suara mas Givan.


"Chandra tidur di sini ya? Aku mau keluar dulu. Mau main sama kawan. Chandra besok pagi aku bawa ke car free day."


Aku hanya mendengar suaranya saja, karena aku tengah membujuk Ceysa untuk menyusu kembali.


"Besok ikut, Bang." suara Ria.


Aku menoleh ke arah belakang. Mas Givan tengah memunguti sampah bekas cemilan Ceysa, yang ia habiskan. Sedangkan Ria, ia duduk di tepian ranjang dengan memperhatikan mas Givan.


"Aku ikut juga, Mas. Belanja dong, Mas." aku selalu selamitan pada mas Givan.


"Iya, bawa Zio. Key lagi sakit mata. Anak-anak jangan main ke sana dulu, Key juga besok jangan diajak. Kasian." ia menaruh beberapa bantal sofa kembali di dekat Chandra.


"Aku keluar dulu ya? Ikut Abang sini, Dek. Kuncikan pintu luar dulu." mas Givan berdiri tegap, dengan melambaikan tangannya pada Ria.


"Ya, Bang." Ria langsung bergegas.


"Canda, nanti kunci pintunya. Takut Chandra kebangun malam, takut turun sendirian." ia memutar jarinya, mengisyaratkan mengunci pintu kamar.


"Ya, Mas." aku tengah menepuk part belakang Ceysa, agar anak ini nyaman kembali.

__ADS_1


~


Pagi yang cerah. Mas Givan sudah bersiap di depan toko, dengan mobil Sigra milik papah Adi.


"Ikut aja, Bu." ucap mas Givan, ia masih mengusap-usap kaca mobil dengan kanebo.


"Gak lah. Ibu pengen masak banyak hari ini. Kamu bawa anak-anak jalan-jalan aja, biar Ibu punya waktu. Nanti kamu makan di sini ya?" ibu membenahi kerudung Ceysa, yang tengah aku gendong.


"Yo, ko nih!" Chandra mendorong tubuh Zio.


Mas Givan buru-buru menghampiri dua anak laki-lakinya, "Apa sih, Yo? Apa sih, Bang?" ia berjongkok di antara mereka.


"Iyo tarik rambut Abang." Chandra pandai mengadu.


"Bang akang Iyo. Iyo ninih." Zio mengisyaratkan dengan tubuhnya, bahwa ia tersenggol oleh abangnya.


"Iya, Abang tak sengaja. Maaf ya?" mas Givan menengahi.


"Ayah pasang bangku Abang sama Iyo dulu ya? Terus kita naik ke mobil." mas Givan masuk ke dalam bangunan rukoku.


"Udah siap belum, Ria?" seruku kembali.


"Udah nih." Ria baru turun dari tangga.


"Ayo Bang Chandra, Iyo." Ria berjalan ke dua anak yang berdiri di depan etalase toko.


"Bu, kalau kita belum pulang jangan buka toko dulu. Kalau ada yang beli gas sih, dilayani aja."


Ada dua rolling door di depan toko ini. Satu untuk menutup pengisian galon, satu lagi untuk bagian etalase ini. Jika gas, kardus mie dan air mineral kemasan gelas, disusun memanjang di tempat yang tersedia.


Mas Givan muncul, dengan membawa dua kursi duduk anak-anak. Mereka akan aman, di kursi yang dilengkapi sabuk pengaman untuk mereka itu.


"Yuk, masuk. Dah siap nih." mas Givan melipat bangku tengah.


"Kau dulu masuk, Canda. Anak-anak di tengah, Ria biar di depan sama Ceysa."


"Aku sendirian dong?" aku berjalan menghampiri.


"Di tengah aja, Mas. Aku takut."


Mas Givan malah terkekeh geli. Lalu ia membenahi kursi itu kembali.


"Ya udah. Ayo pada naik." ia mendahulukan Chandra dan Zio.


Alhamdulillah, mas Givan melunak berkat panci presto.


Eh, bukan. Berkat kesadarannya sendiri. Setidaknya, ia sayang pada anak-anaknya.


...****************...

__ADS_1


Setelah diberi surat terbuka, mas Givan langsung dipresto 😘😘😘


__ADS_2