
Ia mengangguk, "Cinta monyet masa SMA, dia kakak kelas aku. Namanya Pocut Rauzha, keturunan langsung kerajaan katanya sih."
"Seneng dong ketemu lagi?
Ia melirikku sekilas, "Tak juga. Cuma pangling aja, tau-tau sekarang dia udah jadi dokter aja. Soalnya tak pernah tau kabar atau keberadaannya lagi setelah putus." ungkapnya.
Aku manggut-manggut, "Katanya tak pernah pacaran?" tanyaku kemudian.
Ia memandangku dengan mata yang terbuka lebar, "Siapa bilang? Aku kan pernah bilang, aku pernah pacaran sama Fira. Nah, yang dokter tadi itu masa SMA."
Aku cekikikan, "Aku kira kemarin perjaka polos."
"Sana kau cari di pedalaman, ada tak perjaka polos?!"
Blaghhhh....
Papah Adi muncul, dengan beberapa tentengannya.
"Bantu Canda minum ini, Far. Papah buatin dulu mie cupnya. Sampai minta air panas di dapur rumah sakit. Muter-muter nyari warung nasi buka, tak ada juga."
Oh, pantaslah papah Adi membawa gelas yang berisi air yang mengepul.
"Ada pipetnya ini." papah Adi menyodorkan s*dotan dari dalam barang bawaannya.
Aku langsung dibantu untuk minum. Setelahnya, papah Adi memaksaku membuka mulut untuk memakan mie dalam cup yang disuapkan olehnya.
"Mamah nelpon aku. Bentar ya, Pah?" Ghifar menempelkan ponselnya pada telinganya.
Kemudian, ia berlalu pergi dengan langkah cepat.
"Miring aja kepala kau, Dek." papah Adi duduk di kursi yang tadi Ghifar tempati.
__ADS_1
Sesekali papah Adi meniup mie yang melilit garpu tersebut. Kemudian baru menyodorkan ke arah mulutku.
"Nanti malam Papah temani. Mamah nanti Papah minta pulang, kasian." ucap beliau memecahkan keheningan.
"Aku ikut pulang, Pah."
"Nanti kalau sembuh."
Aku hanya mengangguk samar, dengan melanjutkan kunyahanku.
"Tapi siang ini Papah pulang dulu. Papah mau ngasihin kerjaan Papah ke ayah Jefri, terus mau liat keadaan anak-anak. Papah juga sekalian beresin beberapa pakaian Papah sama kain yang kau perluin."
Aku mengangguk beberapa kali.
"Papah HP aku mana? Aku mau sambil main HP." telapak tanganku langsung menengadah.
Papah terkekeh kecil, "Kek Giska kau ini. Sayang, kemarin istrinya Givan. Kalau Papah kenal dari sebelum kau sama Ghifar, Papah angkat kau jadi anak. Kan lumayan, ada yang bantu-bantu Mamah beresin dapur."
Aku langsung mengerucutkan bibirku, "Masa mau dijadikan pembantu?!" aku mendelik sinis pada beliau, "Aku mau jadi istri angkat Papah aja."
Kemudian beliau terbahak-bahak begitu lepas.
"Wajib dikawin, tak wajib dipegat." tambahnya kemudian.
"Apa dipegat, Pah?" tanyaku dengan terasuki tawa papah Adi
"Dicerai, bahasa Cirebon kan itu?"
Aku mengangguk, karena tengah disuapi kembali.
"Banyak yang mau jadi istri Papah, author juga. Tapi Papah terlanjur digrebek sama mamah."
__ADS_1
Aku hampir tersedak, karena terlampau lepasnya tertawa.
"Papah kenapa sih kocak betul?" aku beralih menatap wajahnya.
Papah Adi mengusap pojok mataku, "Sampai berair mata kau, puas betul ngetawain mamah rupanya."
Mataku langsung membulat, "Eh, apa lah! Aku ngetawain Papah lah! Mamah denger kalau aku ngetawain dia nanti, yang ada aku disop." tegasku kemudian.
Papah terkekeh tipis, "Tapi perempuan Papah yang paling muda itu Mamah. Sejujurnya, Papah tak pengen cari yang terlalu muda. Takut jalan pikirannya kurang dewasa, takut pemikirannya tak sejalan. Ternyata, yang lima tahun lebih muda di bawah Papah itu. Perempuan tukang atur yang sempurna. Mantan-mantan Papah, tak ada yang beda sampai lima tahun lebih muda gitu. Banyakan seumuran, sebaya sama Papah. Tante Shasha aja yang beda tiga tahun lebih muda dari Papah, sisanya ya seusia."
"Tante Sheila sih, Pah?" aku sesekali membuka mulut, menerima suapan mie dari beliau.
"Seumuran Papah juga. Abi Haris, ayah Jefri, tante Sukma, tante Nurul, mereka temen satu kelas waktu SMA. Tante Salma, yang jadi rebutan Papah sama abi Haris dulu juga satu angkatan. Tante Revi, yang sering ngasihin undangan reuni itu?" aku mengangguk karena aku tahu orang yang dimaksud.
"Satu angkatan juga sama dia." lanjutnya kemudian.
"Yang orang Cirebon sih, Pah? Yang katanya ngirim santet ke Papah itu?" aku pun pernah mendengar cerita ini.
"Dia fansnya mamah. Beda tiga tahun atau berapa dari Papah, tapi dia manggil mamah kak, karena menghormati idolanya yang mungkin?"
Aku mengangguk kemudian.
"Papah mantan banyak, belum lagi ibunya Icut." tambahku kemudian.
"He'em, kalau bisa pun Papah tak mau banyak mantan. Risih. Apa lagi, kalau mereka malah akur sama mamah. Aib-aib Papah tuh, dibuka semua di depan mamah. Ibunya Icut itu, beda satu tahun sama Papah. Dia pun dulunya mantannya papah, terus kek ketemu lagi gitu."
Oh, aku kira papah tidak keberatan mantan-mantannya akur dengan istrinya. Ternyata, ia merasa risih juga. Pantas saja, papah selalu menghindar jika mantan-mantannya tengah mengobrol dengan mamah Dinda.
"Tapi kok mamah bisa tak cemburu ya, Pah?" aku masih terheran-heran, mengapa mamah Dinda bisa akur dengan mantan pacar suaminya.
...****************...
__ADS_1
Enak ya punya orang tua kek papah Adi sama mamah Dinda. Bisa aja ngobrolinnya, jadi pikiran kita gak stress mikirin penyakit kita gitu.
Ngomong-ngomong, kenapa ya mamah Dinda bisa gak cemburu gitu 🤔