Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD316. Drama Jasmine dan Chandra


__ADS_3

Aku melongo saja. Melihat orang dewasa itu mengunyah di bulan Ramadhan ini.


"Abang a dulu." bang Daeng menyuapi Chandra.


Chandra dan Ceysa berada di dekapanku.


Sedangkan menggenya, berada di ujung ranjang dengan menopang piring dengan bau harum nugget goreng.


Suara televisi pun terdengar. Dari posisi dudukku, aku bisa melihat Jasmine makan sendiri di atas sofa.


"Kok tak puasa sih?" aku masih terheran-heran melihat manusia tersebut.


Ia melirikku sekilas, "He'em, makanya makannya ngumpet."


Jawaban macam apa itu?


"Adek puasa?"


Aku langsung menggeleng.


"Ya makan lah! Nih, aaaa....." ia langsung menyodorkan tangannya yang berisi nasi ke tanganku.


Satu piring, empat kepala.


"Aaa, Iyung." Ceysa menepuk-nepuk mulutku.


"Iye, lama Biyungnya."


Berapa lama bang Daeng pindah ke Makassar kembali?


Logatnya kali ini begitu kentara sekali.


"Cepet, Adek. Dikiranya Abang gak lapar juga kah?"


Aku terkekeh geli, kemudian membuka mulutku.


Bagus juga modusnya. Kalian perlu mencoba modus seperti yang bang Daeng lakukan.


"Kenapa tak puasa?" tanyaku kemudian.


"Gak kuat."


Hah?


Aku tidak mengerti. Kenapa orang yang cenderung cerdas, mereka tidak kuat untuk berpuasa. Apa asupannya dihabiskan oleh otak mereka? Sehingga perut mereka, tidak mendapatkan bagian konsumsi yang cukup.


"Ini, Dek. Ceysa." bang Daeng mengikuti Ceysa yang turun dari ranjang.


Beberapa saat kemudian. Sesi makan satu piring ramai-ramai ini telah usai. Bang Daeng langsung cuci tangan, kemudian membiarkan anak-anak bermain di kamarku ini.


"Nanti minta tanda tangan sama cap jari, Dek." bang Daeng mengambil posisi di sebelahku.


"Buat apa?" tanyaku kemudian.


"Buat Ceysa nanti, keperluan segel tanah." ia malah memainkan ponselnya.


"Ge.... Bang....." Ceysa memegangi tangannya.


Ia menangis pilu dengan menghampiri ayah biologisnya ini.


"Kenapa Abangnya, Dek?" bang Daeng langsung menaikkan Ceysa ke pangkuannya.


"Itu, Mangge. Chandra gak sengaja nyenggol Ceysa. Tangan Ceysa kepentok tembok jadinya." jelas Jasmine, ia masih anteng menonton televisi.


"Maafin Abangnya ya?" ucap bang Daeng, dengan mengusap air matanya anaknya.


Cup, cup.


Bang Daeng menciumi pipi Ceysa sampai berbunyi.

__ADS_1


"Dari kapan ada di sini?" tanyaku kemudian.


"Dari hari minggu." ia menggeser posisi duduknya lebih dekat denganku.


"Ini hari minggu."


Ia menoleh ke arahku, "Seminggu yang lalu berarti."


Kok bisa, ia tidak menjengukku di rumah sakit?


Padahal, ia sudah berada di sini seminggu yang lalu.


Apa ia tidak tahu kabarku?


Atau, memang ia sudah tidak menganggapku lagi?


"Mangge.... Ee." Chandra menekan perutnya dengan meringis kesakitan.


"Ayo." bang Daeng berlalu pergi, dengan meninggalkan Ceysa di dekatku.


Terdengar suara gemericik air di kamar mandiku.


Tak lama, Chandra bang Daeng sudah muncul kembali.


"Ambilkan obatnya Chandra, Kak." perintah bang Daeng turun pada Jasmine.


"Ya, Mangge."


"Sini, Bang." bang Daeng mengajak Chandra untuk naik ke ranjangku.


"Sakit perut, Biyung." anak yang akan berusia empat tahun itu, langsung naik ke atas pangkuanku.


"Sini, kasih minyak gosok Bang." minyak kayu putih sudah berada di tangan bang Daeng.


Chandra menurut. Ia diam saja, saat perutnya diusap-usap.


Pantas saja ia tak menengokku di rumah sakit. Ia dibuat repot, dengan keadaan Chandra yang melulu mencret.


"Mangge." seru Jasmine yang semakin mendekat.


"Ya, Kak." bang Daeng sudah memperhatikan satu sudut tempat yang terlihat ketika ada orang masuk.


"Ini ya?" Jasmine muncul, dengan menunjukkan botol obat.


"Iya. Makasih ya, Kak?" bang Daeng tersenyum lebar dengan mengulurkan tangannya.


"Sama-sama, Mangge."


Anak-anak berkumpul di atas tempat tidurku.


Ceysa tengah anteng dengan mainan boneka yang bisa berubah ekspresi. Chandra, masih anteng berbaring dengan usapan lembut dari bang Daeng. Sedangkan Jasmine, ia tengah memperhatikan Chandra.


"Adek Chandra gak sembuh-sembuh sih." celetuknya kemudian.


Namun, Chandra langsung memelototi Jasmine.


"Bang Chandra." tegasnya kemudian.


"Aku kan lebih besar, masa manggil kamu abang. Ya aku gak mau." ucap Jasmine.


Tiba-tiba, Chandra langsung menyerang Jasmine. Ia menarik kulit tangan Jasmine, kemudian menarik rambut lebat Jasmine.


Jasmine langsung kalap. Tangisnya pecah, dengan permintaan tolongnya pada ayahnya.


"Mangge, tolong aku." ia menangis hebat.


"Bang Chandra!" aku mencoba menarik tubuh Chandra.


Bang Daeng melepaskan rambut Jasmine dari tangan Chandra. Kemudian, bang Daeng langsung memeluk tubuh anaknya itu.

__ADS_1


Ya, Jasmine adalah anaknya.


Anaknya teraniaya sedikit, bang Daeng langsung menyelematkan anaknya lebih dulu. Entah mengapa, aku malah tersinggung.


Bukannya Chandra dulu yang selalu ia manjakan?


"Bareng dong, Nak." bang Daeng mengusap kepala Chandra, "Bang Chandra saudara sama Kak Jasmine."


Stop!


Aku ternganga bodoh.


Saudara?


Yang ada, Ceysa dan Jasmine yang bersaudara.


"Aku Abang, bukan adek." anak laki-laki yang akan daftar TK lepas lebaran ini, begitu marah menatap wajah Jasmine.


"Iya, maaf ya Bang? Bareng-bareng ya? Bang Chandra sama Kak Jasmine saudara, jangan berantem ya?" bang Daeng berbicara lembut.


Chandra masih menatap Jasmine penuh marah.


Sepele padahal, tapi anak-anak sampai berantem.


"Saudara dari mana coba?!" tanyaku lirih.


Bang Daeng mengalihkan pandangan matanya ke arahku.


Senyumnya terukir di bawah kumisnya, "Kan mau rujuk, anak-anak nanti saudaraan dong."


Aku langsung membuang wajahku, "Apa lah! Main rujuk-rujuk aja. Dikira aku mampu ngurus anak-anak, dengan keadaan gini." aku sudah menggerutu.


"Huft....." helaan nafas bang Daeng cukup mengganggu acara membatinku.


"Kak Jasmine main gih. Inget kata Mangge ya? Kalau gak ada kawan, balik lagi ya?" bang Daeng menciumi pipi anaknya.


Jadi, sebegitu sayangnya ia pada Jasmine? Bagaimana pada Ceysa?


"Aku boleh main ke Kal?" tanya Jasmine dengan mata yang berbinar.


Anak mana yang tidak berbinar-binar, saat melihat tempat bermain impian semua anak perempuan, nampak nyata di dalam rumah Ghifar.


"Tanya Kalnya dulu. Kal, boleh aku main? Gitu. Kalau gak boleh, Jasmine pulang lagi, jangan maksa. Jadi anak baik, Jasmine sama Mangge harus pandai, sopan, baik budi dan gak boleh ngomong keras-keras." bang Daeng mendekap erat tubuh Jasmine.


"Iya, Mangge. Aku main dulu ya?" nada ceria Jasmine, menandakan bahwa ia senang.


Pasti senang, saat orang-orang diperlakukan bak ratu oleh bang Daeng. Bahkan, pada anaknya pun, ia mencoba memberikan suasana nyaman untuk anaknya.


"Okeh. Ati-ati ya? Jangan ceroboh, tengok kiri kanan."


"Ya, Mangge." Jasmine turun dari tempat tidurku.


Tak lama, terdengar suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali.


Bang Daeng baru menoleh padaku. Namun, ia menggulirkan pandangannya pada Chandra.


"Sini, Bang." bang Daeng menepuk pangkuannya.


Chandra menggeleng, ia malah bersandar padaku.


Chandra adalah anak yang sensitif. Pasti di pikirannya sudah kacau, melihat manggenya terlihat lebih membela dan menyayangi Jasmine.


Ya, tidak tahu pasti juga. Aku bukan peramal, yang tahu isi pikiran anakku ini.


"Sana! Abang sama.......


...****************...


🙈🙈🙈 gak tau harus ngomong apa lagi 🤗

__ADS_1


__ADS_2