
"Pah, punya saran nama yang mengandung unsur teman tak?" aku sedari tadi memancing pembicaraan dengan papah Adi.
Beliau melirik, terlihat sekali bahwa beliau risih dengan suaraku.
"Tidur lah sana! Lagi hamil, tak baik begadang." ujarnya pelan.
"Papah ngantuk kah? Biar aku belikan Kratingdaeng ya? Biar mata Papah jreng lagi." aku memajang senyum seluas samudera.
"Kau ada masalah apa sebetulnya? Bilang ke Givan, kalau kau kekurangan sesuatu."
Namun, tanpa canggung aku langsung bersandar pada lengan papah Adi yang menempel ke kasur ini. Biar saja aku tidak sopan. Aku adalah anak angkatnya.
Tak apalah mengaku-ngaku juga. Yang penting jadi anak teungku haji.
"Kangen Papah aku tuh. Mas Givan di sana cerewet betul, bikin aku inget cerewetnya Papah." aku berbohong.
Aku sebenarnya tidak sebegitu rindu juga akan kecerewetan papah Adi. Hanya saja, aku rindu sosok figurnya yang luar biasa itu.
Namun, papah Adi malah mengusap-usap kepalaku yang terjepit di siku dalamnya itu.
"Caera, artinya teman. Jadi anak-anak kau bisa mirip semua namanya, kek anak-anak Papah."
Alhamdulillah, beliau meresponku lebih banyak.
"Kalau laki-laki siapa, Pah?" aku berpangku dagu, dengan memperhatikan wajahnya.
"Ahmad Syailendra Samaratungga."
Aku cekikikan. Aku tahu siapa pemilik nama itu.
"Masa namanya mirip bang Lendra, Pah. Nanti mas Givan curiga lagi." aku tertawa geli.
"Tak apa. Bagus namanya."
Baiklah, akan aku keep nama tersebut.
"Ehh ngomong-ngomong, mana yang sakit Pah?" aku menyentuh ragu-ragu, perban yang menutupi luka bekas pemasangan baut dan piringan tersebut.
"Kalau nafas dalam, sakit. Batuk sakit, bersin sakit." jawab beliau kemudian.
"Papah tak kepengen pulang, terus ketemu mamah?" aku memperhatikan responnya.
Karena, papah Adi malah terdiam.
"Mau, lusa kan Papah boleh pulang. Mamah ada di rumah kah? Kenapa mamah tak nengok Papah ke sini?"
Apa aku perlu menyatakan, bahwa mamah pergi dari rumah juga?
"Menurut Papah gimana?" suaraku malah sudah bergetar.
Secara tidak langsung, aku mengisyaratkan bahwa mamah Dinda tidak ada di rumah.
__ADS_1
Papah Adi menggeleng samar. Naasnya lagi, air mata dari mata kanannya jatuh begitu saja.
"Mamah pergi. Papah tak bisa nahan."
Ikatan batin? Papah Adi merasa? Feeling saja, atau memang ada yang memberitahunya?
"Ya Papah berarti harus cepet sembuh. Kita jemput, kalau memang mamah pergi." aku menarik tisu di nakas, kemudian mengusap air mata beliau.
Sangat tidak pantas, melihat laki-laki menangis. Tapi mata kepalaku sendiri, memang melihat papah Adi yang tengah menangis.
"Papah takut mamah marah lebih dari ini."
Apa dengan ucapannya yang seperti ini, papah merasa bahwa dirinya bersalah?
Tapi aku tidak akan memaksa papah, untuk mengakui kesalahannya. Biar ia bercerita sendiri.
"Mamah tak mungkin marah, kalau kita tak salah. Kek aku aja pas jualan kemarin. Ternyata, begini loh tujuan mamah marah itu. Kan gitu sih, Pah?" aku tersenyum, mencoba menghibur beliau.
"Tapi Papah bersalah di sini." tangisnya sampai bersuara.
"Kalau kesalahan Papah tak fatal, Papah pasti bisa dapat maaf dari mamah." aku kembali mengusap air mata beliau.
Papah Adi menggeleng, "Papah takut."
Apa kesalahan beliau begitu fatal? Apa papah Adi sampai berhubungan badan dengan perempuan lain?
"Tapi Papah pengen mamah pulang. Papah tak bisa tanpa mamah." lanjut beliau kemudian.
"Papah takut dimaki mamah. Papah takut sakit hati sama mamah. Dengan tindakan ini aja, Papah berpikir bahwa mamah lebih ridho Papah meninggal."
Siapa yang tidak pilu, mendengar tutur kata dengan suara bergetar seperti ini.
"Kita tanyakan alasan mamah. Tentang makian mamah, kita kan sama-sama tau kalau mulut mamah memang tajam. Papah harap maklum aja, mungkin mamah masih emosi." aku malah seperti orang yang sok bijak, segala berani menasehati orang yang lebih tua.
"Mamah begitu pun beralasan."
Nah, padahal beliau tahu. Mumet sudah, jika sudah berputar-putar seperti ini.
"Ada hablum minannas, selain hablum minallah. Setidaknya, kita usahakan minta maaf dengan orang bersangkutan. Jangan sampai, kita belum sempat minta maaf, karena umur ditarik lebih dulu."
Namun, papah Adi malah memandang wajahku.
"Rencana kau gimana?"
Alhamdulillah. Senyum bahagiaku langsung mengembang.
"Rencananya, aku, Giska sama Ghifar mau ke Lhokseumawe. Mas Givan marah besar, dia nyuruh orang buat nyari mamah. Aku udah tulis alamatnya di HP." aku mengacak-acak tasku yang berada di nakas sebelah brankar papah Adi ini.
Aku mendapatkan ponselku. Lalu aku mencari alamat, yang aku tuliskan itu.
"Daerah Banda Masen, kecamatan Banda Sakti, kota Lhokseumawe. Papah tau tak?" aku menunjukkan layar ponselku pada beliau, "Mas Givan sebut, mereka dulu punya rumah di daerah ini."
__ADS_1
Papah Adi malah menghela nafasnya, "Daerah itu besar, Canda. Keliling satu kabupaten aja, kita butuh waktu lebih dari satu jam. Tepatnya di mana? Jalan apa?"
Aku memiliki ide.
"Papah jangan ngomong dulu ya? Aku mau nelpon mas Givan. Kemarin aku tanya soal mamah, mas Givan cuma jawab mamah aman. Berarti, mas Givan tau mamah di mana." aku mengajak papah Adi untuk sekongkol denganku.
"Kenapa Papah tak boleh ngomong?"
Apa harus aku menceritakan yang sebenarnya, bahwa anak sulungnya begitu marah padanya?
"Aku lagi hamil. Mas Givan minta aku di rumah aja. Mas Givan larang aku ke rumah sakit begini. Tapi, aku mau sama Papah. Aku mau nemenin Papah." berbual kembali mulutku ini.
"Ya udah sok telpon."
Aku langsung action.
"Mas...." aku sengaja menspeaker panggilan telepon ini.
"Ya, Canda. Kau belum tidur?" suara kendaraan lalu lalang, terdengar jelas di seberang telepon.
"Belum. Khawatir sama Mas, Mas hari ini tak ada kabar sih?" aku sengaja memasang nada manja. Agar mas Givan tidak marah, atau berpikir curiga.
"Iya, masih ngiring kendaraan proyek. Di jalan besar soalnya, mah masukin ke area tambang."
Aktivitas ini, dilakukannya sejak kemarin hari.
"Hm, gitu ya?"
"He'em, kenapa memang?" suaranya begitu lepas. Sepertinya mas Givan khawatir aku tidak mendengar suaranya.
"Itu loh, Mas. Tetangga pada ngomong, katanya mamah kabur sama laki-laki." aku mengada-ada.
Aku pun menutup mulutku dengan melirik papah Adi, mengisyaratkan bahwa aku tengah berbohong.
"Jangan main ke tetangga. Main ke ibu, ke ma Nilam. Ke Kin, atau ke Tika apa Winda." suaranya begitu tegas.
"Iya, Mas. Tapi kan aku jadi kepikiran nih." tak apalah, aku sedikit dibentak juga.
"Mamah ada di Banda Sakit, Lhokseumawe."
Kunci jawabannya.
"Jauh ya Mas? Di Banda Aceh kah?" aku bertanya pura-pura tidak tahu apa-apa, karena sengaja agar mendapat alamat yang jelas.
Karena jelas, mas Givan tadi mengatakan Lhokseumawe. Jelas jauh, jika ke Banda Aceh.
"Bukan, Canda. Mamah di daerah Pantai......
...****************...
Ayo pantai apa namanya yang di Lhokseumawe? Ayo kita bentuk massa buat jemput mamah 🤣
__ADS_1