Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD52. Hadiah


__ADS_3

Ia menciumi seluruh wajah bang Lendra.


"Jangan mulut." bang Lendra seperti tidak terganggu dengan aktivitas wanita itu.


Namun, wanita itu keras kepala rupanya. Ia malah mengecup bibir bang Lendra.


Aku sampai tidak bisa berpura-pura tidur, kala tubuh wanita itu terbanting ke atas tempat tidur.


Aku langsung bangkit dari posisiku, "Jangan di sini dong! Ada anak kecil tidur!" aku memberi pelototan tajam pada dua orang dewasa itu.


"Kan udah bilang, jangan mulut!" bang Lendra tidak menyahuti ucapanku.


"Kasar betul sih kau, Len!" ia mencoba bangkit dari posisinya.


Aku sedikit paham. Sepertinya bang Lendra mendorong tubuh wanita itu, agar tidak mencium mulutnya lagi. Sepertinya bang Lendra keberatan dengan aktivitas ciuman seperti itu.


"Minggu lalu aku abis medical check up. Aku gak mau cium-cium lagi, aku sering cium-cium anak kecil. Aku takut tertular penyakit dari kau, nanti aku malah nularin ke anak kecil." ungkapnya dengan mendelik tajam pada wanita itu.


"Sana bersih-bersih!" lanjut bang Lendra, pada wanita yang tak aku ketahui namanya.


Aku memperhatikan langkah gontai wanita itu. Sepertinya ia kesal, atas penyambutan kurang menyenangkan dari bang Lendra.


"Itu Venya." ucap bang Lendra yang fokus pada ponselnya.


"Udah kau tidur lagi aja. Ranjang kita aman, kau tenang aja." tambahnya kemudian.


Ia seperti tidak ada masalah saat mengatakan hal itu. Ia hanya fokus pada video dewasa saja.


Aku baru menemukan ada laki-laki yang sering menonton video dewasa secara terang-terangan. Ghifar memang seperti ini, malah ia pernah mengajakku menonton film dewasa. Hanya saja, Ghifar tak sesering ini setahuku. Mas Givan apa lagi. Ia selalu bersembunyi dan menyendiri, saat melihat koleksi film dewasa. Bahkan aku pun dimarahinya, kala mengintip isi layar ponselnya.


Venya sudah muncul kembali. Rambutnya diikat seperti ekor kuda, dengan kerudungnya yang lenyap entah ke mana.


Ya, Venya berkerudung.


Ia mengenakan pakaian yang modis, sepertinya ia adalah orang yang paham style.


"Kau gak asik, Len." bibir Venya mengerucut tinggi.


"Udah kau istirahat sana!" sepertinya mood bang Lendra sedang tidak bagus.


Tadi bekerja pun, kami begitu serius. Bang Lendra tak menyelipkan gurauan seperti kemarin hari. Entah apa yang membuat pikirannya kacau.


Aku memilih untuk tidur saja, agar tubuhku fresh setelah bangun tidur nanti.


~


"Sini HP kau, Dek." pagi ini, bang Lendra sudah rapi berpakaian.


"Buat apa, Bang?" tanyaku kemudian.


"Udah, mana?" ia begitu pemaksa.


Aku menyerahkan ponselku yang sudah retak bagian layarnya. Kemudian ia pergi begitu saja dari kamar hotel ini.

__ADS_1


Entah apa yang menjadi beban pikirannya. Ia tengah mudah marah dan tidak mau diajak bercanda.


"Canda... Bang Lendra baru putus cinta kah?" kak Venya menyenggol lenganku.


Ya, kami sudah akrab. Aku sudah berkenalan, aku pun tahu dia siapa dan berapa usianya.


Venya Al-Sidqia, dia adalah mantan pacar bang Lendra semasa sekolah menengah atas dulu. Ia sekarang berstatus janda tanpa anak, usianya pun sebaya dengan bang Lendra.


"Tak, Kak. Tak paham juga kenapa, menyendiri terus dari kemarin pagi." aku kembali menyuapi Chandra makan.


"Hei, Dek. Kau gak berangkat kah? Ada jadwal lima belas menit lagi." seru kak Raya, yang baru ke luar dari dalam kamar mandi.


Aku panik, apa lagi tadi bang Lendra berangkat mendahului.


"Lendra udah duluan malah, Ya." kak Venya menimpali pembicaraan ini.


"Lah, gimana sih?" kak Raya menggulung rambutnya yang basah, lalu ia berjalan mendekati nakas di sebelah ranjang.


Ternyata ia tengah mencari keberadaan ponselnya. Sejurus kemudian, ponselnya menempel pada telinganya.


"Hmm...." kami semua terpusatkan pada suara laki-laki dari ponsel kak Raya.


Sepertinya ia menspeaker panggilan teleponnya.


"Kenapa Canda ditinggal?" kak Raya membawa ponselnya, dengan berjalan ke arah kami.


"Biar aku aja yang handle. Aku lagi pengen sendiri." suaranya begitu datar.


Apa aku membuat kesalahan?


"Bisa." sahutan dari bang Lendra di seberang telepon.


Aku harus mencari kesalahanku, lalu memperbaikinya. Sepertinya, pekerjaanku tidak sempurna. Membuatnya kesal telah memilihku sebagai sekretarisnya.


"Boro-boro liburan, fresh pikiran. Ehh, sampai sini Lendra malah lagi badmood." kak Venya hanya mengaduk-aduk makanannya saja.


Aku mengingat kembali setiap waktu yang terlewat. Perasaan, aku tidak membuat salah padanya.


Ya sudahlah, biar nanti aku tanyakan secara langsung saja.


Aku beraktivitas lebih banyak dengan Chandra. Ia lebih aktif sekarang, ia pun sudah berani melangkahkan kakinya satu dua langkah.


Satu yang aku ingat, ketika melihat pertumbuhan Chandra.


Mas Givan selalu memaksa Chandra agar cepat bisa jalan. Karena anak-anak kecil di rumah itu, hanya Hamerra yang terlambat berjalan. Umumnya, anak-anak yang tumbuh di rumah megah itu. Mereka bisa berjalan pada usia di bawah satu tahun.


Menurut cerita mamah Dinda pun, delapan anaknya bisa jalan kisaran usia sembilan bulan sampai satu tahun. Sedangkan Icut, ia sampai tiga tahun baru bisa berjalan dengan lancar.


"Aku mau ke luar. Nanti tolong kasih tau Lendra ya?" kak Venya malah meninggalkan sarapannya.


Terlihat ia tengah bersiap-siap dengan cepolan rambutnya dan hijabnya. Ia benar-benar modis dan cantik. Wajahnya mirip seperti Yuki Kato.


"Aku juga mau ke luar, Dek. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan." kak Raya bersiap dengan pakaian kerjanya.

__ADS_1


Jadi, hanya aku dan Chandra di kamar hotel ini?


Ok, sip. Baiklah.


Semoga tidak ada penampakan di sini.


~


"I love you. I miss you."


Dalam sekejap, aku membuka mataku karena mendengar suara yang berbisik tersebut.


Rupanya laki-laki dewasa itu sudah kembali dari bekerja. Ia tengah menciumi Chandra yang tengah terlelap.


"Cepet besar, Nak. Nanti Mangge ajarin caranya bikin ammak kau bahagia." tambahnya lagi.


Sepertinya, ia belum menyadari bahwa aku sudah membuka mata.


Ia memutar lehernya perlahan.


Hingga.....


"Ehh..." ia terkejut kala melihatku yang tengah memperhatikannya.


"Sampai minta kunci kartu dari resepsionis, karena pintunya gak dibuka-buka." ia menegakkan punggungnya, lalu duduk di tepian tempat tidur.


Ia menarik tas kerjanya, lalu menaruhnya di atas tempat tidur.


Ia mengambil sesuatu dari dalam tas kerjanya, "HP kau udah Abang jual, ini Abang belikan baru." ucapnya kemudian.


Ia menyodorkan ponsel dan charger padaku.


Ponsel berwarna biru dongker, dengan layar yang lebih lebar dari ponselku yang sebelumnya.


"HP kau cuma laku tiga ratus. Ini pun second, satu juta lima ratus. Tapi masih mulus sih, gak ada minusnya. Udah ada kartu sama kuota. Udah masuk Gmail baru, password-nya angka empat enam kali." ungkapnya yang membuat hatiku senang.


"Makasih, Bang." aku langsung mengambil alih ponsel tersebut, lalu memutar-mutarnya untuk melihat tampilan ponsel ini.


"Makasih doang, cium dong!" ia menunjuk pipi kanannya.


Aku teringat akan gurauan ini.


Ah, aku akan coba mengerjainya.


Aku mengulurkan tanganku, lalu mendaratkannya dan melingkar di lehernya. Perlahan aku tarik, agar pipinya sedikit mendekat padaku.


"Hei, hei, hei! B*nal!" makinya dengan mendorong tubuhku.


Aku tertawa begitu lepas. Hiburan untukku, kala melihat ekspresi wajah kagetnya.


Pasti ia tidak mengira, bahwa aku akan bertindak demikian.


Sebenarnya pun, tadi aku tidak bersungguh-sungguh. Aku hanya mengerjainya saja.

__ADS_1


...****************...


Yey, kali ini gak gantung 😆


__ADS_2