
Yey, crazy up.
Persiapkan nasi anget ya, Kak. Karena bawang di sini, sudah dimodifikasi menjadi siwang. Harap dinikmati dengan perlahan, takut keselek kalau buru-buru. 🤗
...----------------...
Karena keadaan, ditambah lagi keuangan kita bertiga tidak stabil. Kali ini, aku terpaksa menggunakan uang milik Ghifar. Karena kami butuh modal, untuk reservasi sebuah meja di restoran ternama. Untuk berbincang mengenai SDA, yang di dapat dari kota Samarinda ini. Khususnya rempah, karena PT bang Lendra lebih condong ke rempah-rempah.
"Tiga ratus cuma buat reservasi aja, Bang. Belum makanannya nanti." aku tengah duduk di sampingnya, dengan berusaha memasukkan kembali kartu ATM Ghifar ke dompet milikku.
"Iya. Minjem dulu ya? Nanti Abang ganti. Abang kemarin cover biaya rumah sakit, harganya udah beda. Jadi meleset jauh dari rencana awal." ia tengah merokok, sedangkan Chandra tengah bermain bersama kak Raya.
Di resto ini, terdapat ruang bermain anak-anak. Khusus untuk pengunjung di restoran ini.
"Terus besok kek mana, Bang? Biaya rumah sakit kemarin, dihitung hutang aja Bang. Nanti aku ganti." ungkapku kemudian.
Aku merasa tidak enak, karena uangnya sampai ludes tak bersisa.
Sarapan pagi pun, kami hanya mampu membeli dua nasi bungkus. Kemudian, kamu menyatukannya. Dengan kami yang berebut makanan tersebut, Chandra pun ikut serta meramaikan perebutan sesuap nasi pagi tadi.
"Abang udah minta sama mangge. Nanti mangge transfer sore nanti, soalnya dia lagi kerja sekarang. Mana kan orang tua, mereka gak paham mobile banking. Untuk uang rumah sakit, udah ajalah. Tak usah dihitung hutang-hutang segala, yang penting kau ada pedulinya kalau Abang kesusahan nanti." ujarnya dengan memperhatikan pengunjung yang lain.
Ia menginginkan timbal balik dalam bentuk budi.
"Ya, Bang. Insyaa Allah." sanggupku kemudian.
"Tapi, Dek. Abang kok ngerasa ada sesuatu, dengan adik ipar kau ngasih pinjam kartu ATM itu. Laki-laki itu ngegenggam loh, Dek. Kau harus paham itu."
Aku menoleh padanya, yang sekarang menjadi pusat perhatianku.
"Maksudnya kek mana, Bang?" aku tidak mengerti maksud di balik ucapannya.
"Nanti kau bakal paham sendiri." ia malah menyibakkan tas kerjanya.
"Tuh, udah pada datang. Yuk?" bang Lendra langsung bangkit, lali menggandeng tanganku.
Aku takut tidak professional. Aku takut terbiasa dengan kehadirannya dan perannya.
Kami menemui tamu yang sudah siap di meja yang sudah kami reservasi. Perbincangan pun dimulai, fokusku dibutuhkan penuh di sini.
Meski aku sudah ahli, tetap saja aku membutuhkan bimbingan dari bosku ini.
~
Sudah dua hari, resto mahal itu menjadi tempat bertemu dengan para clien dari PT tempat kami bekerja. Sejak pagi aku merasa tidak semangat bekerja, aku ingin malas-malasan saja. Tapi menurut bang Lendra, ini tidak bisa diwakilkan. Karena mereka adalah klien penting dari PT kami.
Satu pekerjaan selesai, kini kami tengah menunggu waktu untuk janji temu yang kedua. Sekitar pukul satu siang, sedangkan sekarang baru pukul setengah dua belas.
__ADS_1
Jika kami pulang lebih dulu ke hotel, akan memakan waktu sekitar satu jam untuk pulang pergi. Maka dari itu, kami memilih untuk menunggu saja.
"Abang jum'atan dulu ya?" ucap bang Lendra dengan menyerahkan Chandra pada kak Raya.
Sampai saat ini, aku belum diperbolehkan untuk menggendong Chandra. Kewajiban mengurus Chandra, begitu dilakoni dengan ikhlas oleh bang Lendra. Ia benar-benar menganggap Chandra seperti adiknya sendiri.
Meski bang Lendra tidak pernah terlihat melakoni lima waktu. Tapi sholat jum'at, ia tidak pernah tinggal.
"Ya, Bang Daeng." sahutku dengan tersenyum padanya.
Bang Lendra terkekeh kecil, lalu segera pergi dari area resto ini. Sepertinya masjid tidak jauh dari sini, sampai-sampai ia hanya berjalan kaki saja. Ketimbang memilih untuk mengendarai mobilnya.
"Kak... Uang Kakak kok bisa langsung habis sih? Padahal minggu lalu gajian full, trip di Lampung pun udah cair." aku merasa sedikit heran, karena kak Raya malah meminjam uang dari bang Daeng itu.
Bang Daeng pun, ia meminta pada ayahnya. Ia meminta lima puluh juta, tetapi hanya dikirim sekitar tiga puluh jutaan saja. Ayah bang Daeng mengatakan, bahwa rekeningnya terkena limit. Tidak bisa mentransfer lebih dari nilai yang ditentukan.
Aku tidak paham mengenai ini.
"Orang Pariaman mahal. Aku serahin ke orang tua, biar bisa ditabung buat nikahin bang Koto."
Kotor?
Eh, bagaimana?
"Kok Kakak yang nikahin laki-laki?" aku tidak mengerti soal ini.
"Bang Koto itu apa?" di bayanganku, bang Koto ini semacam adat.
Kak Raya terkekeh geli, "Pacar aku, namanya bang Koto. Afrizal Koto, manggil dari nama belakang."
Aku tertawa renyah, ternyata aku sudah salah kira.
"Bang Lendra namanya Nalendra aja?"
Aku malah bingung sendiri, kenapa aku malah menanyakan tentang nama panjang bang Lendra?
Kak Raya mengangguk, "Nalendra, dipanggil Lendra." jelasnya kemudian.
Aku merasa bahuku di tepuk dari belakang. Aku duduk di kursi yang tidak bersandar pada tembok, jadi aku bisa menoleh untuk mengetahui siapa yang menepukku.
Pasti ini bang Lendra, karena terlihat lengan kemejanya saat ia menepuk
"Ya, Bang Daeng. Kenapa lagi?"
Namun, aku malah terkena serangan jantung.
Mataku melotot sempurna, melihat seorang laki-laki yang tak pernah terpikir bahwa ia akan menemuiku di sini.
__ADS_1
"Aku bukan bang Daeng. Terus, kenapa sampai jauh kali?"
Aku bisa melihat jelas bahwa dia tengah kelelahan.
"Far...." aku masih belum bisa mengerti kenapa ia bisa sampai di sini.
"Yuk pulang?" ia tersenyum, dengan mengulurkan tangannya.
"Maksudnya gimana ya, Pak? Kami tengah menunaikan perjalanan kerja. Pulang bagaimana? Canda punya tanggung jawab untuk posisinya." kak Raya bangun dari tempat duduknya.
Ghifar beralih menatapku, lalu ia menyentuh pundakku dengan kedua tangannya.
"Aku sengaja titipin kartu ATM sama kau, biar aku bisa tau di mana posisi kau terus jemput kau. Dengan kau melakukan transaksi, tercetak jelas tempat dan alamat kau melakukan transaksi. Itu gunanya biar aku bisa tau posisi kau, terus ayo kita pulang."
Apa Ghifar memiliki sifat licik juga?
Ini adalah sifat cerdik, yang kurang baik menurutku.
Aku kira, ia benar-benar ikhlas tanpa rencana di dalamnya.
"Far....." aku berkaca-kaca memandangnya.
Aku tak menyangka, ternyata ia merencanakan sesuatu dengan kepergianku.
"Capek kan? Susah kan? Ayo kita pulang, Canda. Kau nunggu apa lagi?" Ghifar berjalan memutar, lalu ia mengambil alih Chandra dari dekapan kak Raya.
Chandra langsung girang, melihat seseorang yang selalu turun tangan mengurusinya dulu. Bahkan, Chandra bayi selalu berjemur dengan Ghifar.
"Pah...." Chandra menepuk-nepuk wajah Ghifar.
Ghifar tersenyum manis pada Chandra, lalu ia menghujami Chandra dengan ciuman sayangnya.
"Sehat, Nak? Kau tambah gemuk, Nak. Gimana dunia luar? Chandra belum kuat kan? Pulang ya? Ikuti Papah. Chandra jadi anak Papah aja. Chandra anteng di rumah, jadi anak baik budi, jadi anak sholeh. Bobo sama Papah, sama mamah Kin juga garang itu. Ya, Nak?" Ghifar berbicara pada Chandra.
"Bubu....." Ghifar memeluk leher Ghifar, lalu mulutnya langsung mencaplok hidung besar Ghifar.
Keluarga papah Adi, memiliki hidung yang mancung dan cukup besar. Namun, tidak seperti Squidward juga. Persis seperti hidung Syah Rukh Khan, mancung dan kokoh.
"Jangan di makan, Nak. Habis nanti hidung Papah. Yuk, pulang yuk?" Ghifar beralih menatapku.
"Ayo kita pulang, Canda. Ikut sama aku, jangan takut tak bahagia. Jangan takut sama bang Givan. Aku pasti jadi orang pertama, yang bakal ngelindungin kau. Ayo kita pulang." Ghifar mencengkram pergelangan tanganku.
"Far.....
...****************...
Jangan-jangan mau tamat 😳
__ADS_1
Yang ada di khayalanku, visual Chandra ini baby Ebra yang ramai di Tiktok 😁