Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD240. Jemari spesial Jasmine


__ADS_3

"Mah... Givan mana ya?" Putri menghampiriku dan mamah Dinda.


"Ke Fira, sama sulungnya. Hari ini, si sulung ulang tahun. Kalau di rumah ini, tak pernah ada acara ulang tahun. Yang rutin paling bakaran tiap malam minggu, biar para muda-mudi di sini tak keluyuran sama pasangan di luar sana."


Ohh, aku baru tahu hari ini. Ternyata, acara setiap malam minggu itu agar penghuni rumah ini tidak keluyuran tidak jelas. Bagus juga idenya, karena hal itu juga membuat kekeluargaan lebih terasa hangat.


"Fira???" Putri seperti bingung.


"Ya, ibu kandungnya Key. Sulungnya Givan, anak mantan pacarnya Givan dulu."


Putri terdiam, mendengar penjelasan mamah Dinda. Pasti suasana hatinya runyam, bisa juga ia tengah cemburu sekarang. Cemburu, adalah hal yang manusiawi. Tapi terlalu cemburu, malah jadi penyakit untuk diri kita sendiri.


"Kan aku mau ke sini, Mah. Kok boleh sih?"


Sudah terlihat jelas, bahwa Putri cemburu.


"Kenapa memang? Key mau ketemu ibunya, mau ngerayain ulang tahunnya. Biar aja lah, toh ibunya ini yang keluar uang. Givan cuma anter, terus bawa balik Key lagi." terang mamah Dinda.


"Kan bisa jemput sendiri Firanya." Putri sudah menunduk saja, dengan suara yang lebih lirih.


"Biarin lah. Biar keluarga Fira tau, kalau Givan ayahnya Key."


Putri hanya diam, dengan memeluk anaknya yang duduk di pangkuannya. Pasti ia tengah kacau sekarang.


Aku mungkin tak merasakan seperti yang Putri rasakan. Sama sekali, aku dulu tak pernah merasa cemburu pada Fira. Meski Fira suka sekali mengisengiku, tapi aku tidak pernah terpancing emosi. Karena, dari tatapan mata mas Givan. Mas Givan terlihat tidak minat sama sekali pada Fira, terlihat biasa saja, bahkan sering kali mengobrol tanpa berhadapan wajah.


Aku adalah perempuan yang tidak akan cemburu. Jika laki-lakiku tidak merespon wanita yang mencoba mencari perhatiannya.


"Boleh aku lepas kaos kakiku, Amaak?" tanya si kecil cantik, yang berada di pangkuan Putri.


"Jasmine nyaman kah? Kalau nyaman, buka aja."


Jasmine memutar kepalanya, ia seperti memperhatikan lingkungan yang penuh dengan anak-anak yang heboh ini.


"Aku takut jari-jari aku keinjek, nanti putus."


Aku baru teringat, jika Jasmine memiliki banyak kelebihan. Tiga belas jumlah jari tangan dan kaki, yang ia miliki. Kalau tidak salah, bagian kanan enam dan bagian kiri tujuh.

__ADS_1


Kekehan Putri terdengar ke telingaku, "Masa iya bisa putus?"


"Main tuh sama yang lain. Kal punya banyak boneka." papah Adi baru selesai mengobrol, lalu ia duduk di sebelah mamah Dinda.


Kami seperti membentuk huruf P, dengan mamah Dinda dan papah Adi yang menjadi lingkarannya. Sedangkan aku dan Putri duduk sejajar, dengan bersandar di tembok. Kami tengah berada di ruang keluarga. Orang yang datang, untuk menghadiri acara Ceysa sudah pulang. Hanya saja, masih banyak saudara dan snack belum dibereskan. Sofa ruang tamu pun, belum ditata kembali.


"Aku takut kaki aku keinjek, Kek. Soalnya, di rumah pun sering keinjek nenek. Rasanya sakit betul, kalau kena injek."


"Kok bisa keinjek?" papah Adi seperti terheran-heran.


"Soalnya tuh, Pah. Jari yang ketujuh ini, kek misah sendiri. Dia adanya di ujung batas kakinya. Kek kutil gitu, tapi seukuran jari kaki. Udah aku periksakan juga, tapi katanya ini bukan tumor, jadi ya udah, gak perlu ambil tindakan operasi. Kak tangan kiri ini lah, sama." Putri menunjukkan tangan kiri anaknya.


Aku bisa melihat di dekat ibu jari Jasmine, ada jari kecil seukuran jari kelingking. Jari itu tidak bertulang, ia menggantung seperti tahi lalat yang besar. Jari itu juga memiliki kuku di ujung, tetapi tidak memiliki ruas jari.


"Kalau di tangan, posisi jari ketujuh ini dekat ibu jari. Kalau di kaki, posisinya dekat jari kelingking. Menggantung gini juga, jadi sering keinjek. Karena semakin Jasmine besar, ukuran jarinya juga bertumbuh. Jasmine takut putus, kalau jarinya sering keinjek. Kan jari ketujuh ini, otomatis tambah ngegantung karena ukurannya udah beda."


Aku manggut-manggut mengerti.


"Coba sih liat jari kanannya." mamah Dinda mengulurkan tangannya pada Jasmine.


Jasmine langsung menunjukkan, "Kata mangge aku, aku gak apa-apa begini. Aku tetap cantik, aku tetap pintar, aku tetap baik budi." ujar Jasmine langsung.


"Memang tak apa-apa. Jasmine spesial, tak semua anak punya jari banyak kek Jasmine." ujar mamah Dinda dengan tersenyum manis.


"Iya, pakai telor, karetnya dua." papah Adi menunjukkan dua jarinya, kala mengatakan karetnya dua.


Suasana mencair. Kami semua terbawa arus gembira.


"Katanya mangge tadi nganter ke sini ya?" tanyaku pada Putri.


Putri mengangguk, "Iya. Tadi dia telpon, katanya kenapa nomornya gak aktif. Aku jawab kan, aku baru turun dari pesawat. Jasmine mau say hai sama calon ayahnya, sama adik barunya. Aku sengaja bilang gitu, biar dia panas. Tapi gak sama sekali ternyata." Putri tertawa kecil dengan menutupi mulutnya.


"Terus kata dia, mau diantar gak, dia lagi ada kerjaan di Bie Homestay Takengon, barangkali dia bisa liat bayinya dari depan rumah. Si Jasminenya iya-iya aja, iya mangge, anter aku pakai mobil mangge yang baru itu." Putri menirukan suara anak yang centil itu.


"Terus?" papah Adi sepertinya penasaran.


"Terus dianter ke sini. Bantu nurunin barang, gak lama dia pulang lagi." sahut Putri.

__ADS_1


"Apa alasannya tak berani nengok anaknya?" timpal mamah Dinda.


"Alasannya gak punya uang. Konsep terbesar keberanian dan kehidupan menurut Lendra itu uang. Dia aja cuma kasih Jasmine uang les aja, satu juta setengah."


"Biasanya Jasmine dijatah berapa perbulannya?" tukas papah Adi.


"Gak nentu. Tapi gak pernah kurang dari lima juta. Jasmine ini alergi susu sapi, mana kan soya lebih mahal dari sufor biasa. Jajannya, paling sedikit itu dua puluh ribu, makannya dibikin irit itu tiga puluh ribu sehari. Les, jatah mainan baru setiap bulan. Belum pakaian, transportasi kalau dia mau ke mana. Itu biasanya Lendra hitung semua, dia kasih semua. Upah buat ibu aku ngasuh Jasmine juga dikasih. Jadi, Lendra ini bener-bener kek nitip anak." jelas Putri kemudian.


"Jadi tak nitip s*e*m* aja ya?" tambah mamah Dinda, yang membuat kami tergelak kembali.


"He'em." jawab Putri malu-malu.


"Ya syukurlah, kalau Lendra tanggung jawab." tutur papah Adi.


"Ya, Pah. Asuransi kesehatan, pendidikan Jasmine juga ada. Tapi gimana mau sekolah ya? Orang akte kelahiran aja gak punya." ucap Putri dengan memeluk kembali anaknya.


"Mana sih, yang harus aku panggil ayah itu? Katanya, yang itu papa. Terus itu abi, itu bapa, itu panda. Yang ayah, yang mana?" Putri menunjuk putra mahkota satu persatu.


"Ayah lagi keluar, sama kakak Key. Nanti kenalan ya sama kakak Key, dia ulang tahun yang kelima hari ini." mamah Dinda tersenyum dengan mengusap pipi Jasmine.


Jasmine terlihat kaget, lalu ia menepuk jidatnya sendiri.


"Aku lupa beli kado buat kak Key itu, Ammak. Nanti kak Key tersinggung gak ya? Aku jauh-jauh datang, tapi gak kasih kado."


Kami terkekeh, mendengar celotehan anak usia empat tahun ini.


"Ada, Ammak udah siapin di koper. Tenang aja. Gih main, tuh sama Kal, yang sama-sama perempuannya." Putri menunjuk Kal, yang tengah menyusun boneka kecil di depan pintu kamar mamah Dinda.


Kal suka menyusun boneka, seperti memajangnya. Jika Chandra, suka menyusun balok susun sesuai bentuk imajinasinya.


"Tak lama lagi kok. Acara juga jam sepuluhan kalau tak salah. Sekarang udah mau jam dua, bentar lagi juga sampai." ujar mamah Dinda, dengan mendongak melihat jam dinding.


"Gih main dulu." pinta Putri pada Jasmine.


Jasmine mengangguk, lalu langsung berjalan mendekati Kal. Rambut lurusnya sungguh membuat para ikal di sini iri. Semoga Kal dan Key tidak meminta rebonding besar nanti.


"Assalamualaikum... Kakek, Nenek. Aku bawa Ma.......

__ADS_1


...****************...


Bawa kue ulang tahun yaaaa 😍 bukan bawa pedang buat perangnya Putri sama Fira 😝


__ADS_2