
"Usap-usap, Dek." bang Daeng menempatkan tanganku di atas kepalanya.
Aku membuang nafasku. Menolak pun percuma, karena ia tertidur di atas pahaku.
Dadanya kembang kempis, seiring tarikan nafasnya. Tubuhnya terekspos jelas di mataku, karena ia tidak mengenakan kemejanya. Ikat pinggang mahalnya pun, tergeletak tak jauh dari kemejanya. Celana jeans-nya terlihat membawa wibawa untuk yang mengenakannya.
"Abang capek, Dek." suaranya menurun lirih.
Aku merunduk, mencoba melihat matanya yang tertutupi rambut lebatnya. Sepertinya, bang Daeng belum memangkas rambutnya kembali.
Ungkapannya, seperti ia tengah lelah menjalani hidupnya. Bukan lelah karena tugas dari pekerjaannya.
"Sabar. Semua orang, pasti punya masalah. Tapi ada masanya, kita dapat yang sesuai dengan kebutuhan kita. Maksudnya... Pasti yang kuasa kasih yang pantas untuk mendampingi kita. Dia yang mampu melengkapi kekurangan kita, mampu memaklumi sifat jelek kita dan mampu menjadi obat rasa sakit hati kita." aku belajar tentang ini, dari Dikta yang mampu mendapatkan Ferdi.
Dikta yang pasien, butuh penanganan khusus. Ia malah mendapat pasangan hidup yang mampu menangani dirinya.
"Abang harus gimana?"
Ya ampun, aku tidak percaya bang Daeng tengah terisak sekarang. Ia benar-benar lelah dengan kehidupan ini sepertinya.
"Masalah pokok Abang apa? Dikta pun udah ada yang ambil alih." aku masih memberi usapan dan pijatan kecil di kepalanya.
__ADS_1
"Abang gak paham, Dek "
Saat aku menyibakkan rambutnya, terlihat matanya tertutup rapat. Mungkin ia tengah berusaha membendung rasa cengengnya.
"Terus Abang butuh saran tentang apa dari aku?" tanyaku kembali.
"Mungkin Abang lagi capek aja. Istirahat dulu yuk?" ujarnya dengan memindahkan kepalanya ke bantal.
Aku hanya mengangguk. Mataku bergulir pada isi kamarnya. Kamar yang penuh dengan sepenggal kata-kata bijak dalam objek seperti spanduk kecil, yang berbentuk seperti plat nomor. Background hitam, dengan tulisan berwarna putih.
"Abang takut, Abang egois sama kau." ucapnya tiba-tiba.
"Apa yang Abang rasa?" tanyaku kemudian.
Matanya terbuka, terlihat sangat merah.
"Abang gak bisa lepasin Putri. Kamar apartemen Abang butuh perbaikan, ayah Putri sumber keuangan Abang yang paling unggul. Tapi... Abang rasa kangen sama Adek pas kita jauh. Abang rasa kangen sama Chandra, pengen ngajarin dia jalan lagi. Kerja tuh gak semangat, pas Adek perputaran tugas sama Sari. Abang coba bikin Adek lepas rasa sama Abang, makin Abang ngerasa tersakiti sendiri." ia menggenggam tanganku.
Drttt....
Getar notifikasi ponselku, membuat fokusku terbagi.
__ADS_1
Aku langsung mengambil ponselku yang berada di sebelah bantalku. Aku terkekeh geli mendapat balasan dari Agam. Ya, kami sudah aktif bertukar chat sejak aku selesai masa iddah. Dalam chat, kami tengah membahas manager bertubuh gempal yang selalu mengagetkanku yang tengah beraktivitas di depan komputer. Saat aku masih memegang kendali tugas milik Sari.
"Abang...." rengekku, karena bang Daeng merampas ponselku.
"Abang lagi tukar pikiran. Kau malah asik-asikan chat sama orang." wajahnya berubah menyeramkan, setelah ia menilik layar ponselku.
"Kau paham gak sih?!!" suaranya naik satu oktaf.
Aku memejamkan mataku, tubuhku langsung gemetar karena bentakannya. Aku teringat bentakan mas Givan.
Memang apa salahku? Sampai ia begitu murkanya.
"Dek... Abang lagi ngungkapin apa yang ada di hati Abang. Tapi kau malah cengar-cengir sama HP aja! Pantas begitu? Kau gak hargai Abang sedikitpun rupanya? Pancaran mata kau itu keknya buat memanipulasi kepercayaan Abang." suaranya ditekan, tetapi wajahnya begitu sangar.
"Bukan maksud hati kek gitu, Bang." aku benar-benar tak bermaksud membuatnya tersinggung.
Ia bangkit, lalu bersila menghadap padaku. Aku pun melakukan hal yang sama.
...****************...
Apa nih yang mau dibahas?
__ADS_1