
"Untuk peti kemas, dia ngakunya itu adalah usaha kakeknya. Jadi, PT milik Lendra ini cuma jadi distributor resminya aja. Bukan pengusaha peti matinya. Jadi, mungkin cepat stabil karena dia cuma distributor. Terus, untuk ikan air tawar. Dia ambil di om Safar, Lendra distributor juga. Kaget kan? Sama, Mamah juga baru tau."
Om Safar?
Sepupunya papah Adi?
Ayahnya Ahya?
"Makanya om Safar usahanya tiba-tiba berkembang pesat. Tak taunya, main impor sama Lendra. Lendra impor, ya jagonya. Tapi baru CV dia, belum PT. Tapi hebat, bisa main pasar luar negeri."
Mamah Dinda saja sampai salut pada bang Daeng.
Aku seperti sudah jatuh, tertimbun reruntuhan dinding. Jika sudah dihadapkan dengan para orang cerdas dan keahliannya.
Apa coba keahlianku selain menangis?
"Indonesia ini, minat makan ikan ini termasuknya rendah. Sedangkan, ikan Pedih budidaya om Safar ini harganya tinggi. Di sini aja itu, udah dua ratus ribuan per satu ikan, untuk ukuran yang cenderung kecil. Ikan Dewa kalau di Cirebon, ikan yang dikeramatkan. Kau tau kan?"
Aku mengulang ingatanku yang sudah-sudah. Sepertinya aku tahu, tentang ikan tersebut.
Itu adalah ikan rawa, tapi di Cirebon ikan tersebut banyak hidup di kolam yang dikeramatkan warga setempat. Tidak boleh dimakan, karena akan tertimpa musibah jika memakannya. Ya, kurang lebih seperti itu tentang ikan Dewa. Tiap daerah, tentu ceritanya berbeda.
"Kek ikan Tor gitu ya, Mah?"
Mamah Dinda mengangguk, "Ya, satu keluarga sama ikan Tor atau ikan Semah keknya."
"Lendra jual berapa di Singapore-nya, Mah?" tanyaku kemudian.
"Tak paham kalau itu. Biasanya, itu rahasia pasarnya dia. Tapi sejauh pengamatan Mamah, om Safar juga untung. Yang berarti, Lendra ini tak licik ke om Safar. Entah kalau untuk masyarakat sananya, Mamah tak tau."
"Mah... Papah lagi nunggu masakan dari Kin, terus baru jalan ke sini katanya." ucap laki-laki yang santai di atas sofa panjang.
Mamah Dinda beralih memperhatikannya, "Bilang, suruh bawa lebih. Mamah buka puasa di sini aja nanti, bareng papah sama kau."
Ghava bangkit dari posisi nyamannya.
"Tak bisa lah, Mah. Nanti Winda buka puasa sendirian. Adib juga nangis aja, luka sunatnya belum sembuh."
Ah iya, aku lupa mengenalkan keluarga baru Adi's Bird.
Namanya Adib Alim Aminullah, yang berarti laki-laki yang berilmu dan beradab, serta mendapat kepercayaan dari Allah. Konsepnya masih sama, masih Adi-Adian semua. Sampai-sampai, Zuhdi si absurd memberikan celetukkan. Memberi nama anak yang memiliki unsur Adi, agar masuk ke daftar warisan.
Ya, Adib adalah anak dari Ghava dan Winda. Anak itu berusia tiga bulan. Adib seminggu yang lalu disarankan dokter anak untuk disunat saja, karena di dalam katup p*n*snya terdapat selaput yang mengganggu saluran air kencing si kecil Adib.
__ADS_1
Hebatnya lagi, Winda berani berpuasa. Saat Chandra kecil, aku sampai tidak berpuasa karena Chandra selalu demam ketika aku berpuasa. Menurut bidan setempat yang memeriksakan kondisi Chandra kecil masa itu, Chandra dehidrasi karena sumber makanan dan minumannya hanya dari ASI. Masa itu, Chandra baru berusia satu bulan kalau tidak salah.
"Jadi gimana?" mamah Dinda masih fokus memperhatikan Ghava.
"Papah datang, aku bawa Mamah pulang. Mamah buka puasa sama aku di rumah aja, sama Winda juga. Aku udah request belikan es kelapa muda di depan gang sana sama Winda. Winda juga lagi keluar sama Adib, sama Key juga. Lagi ngabuburit, beli es kelapa buat aku."
"Kau jangan ngelemahin iman Mamah coba, Va! Segala bahas es kelapa."
Aku tertawa geli. Mamah Dinda lemah iman ternyata.
"Iya, iya! Maksudnya, buka puasa di rumah aja. Papah tak apa sendirian juga, nanti juga biasanya ayah Jefri standby."
Itulah papah Adi. Ajudannya selalu diminta datang, jika memang dirinya butuh teman.
"Ya udah deh. Mamah buka puasa di rumah aja. Tak mau di rumah kau."
"Huuuuuu...." Ghava menyoraki ibunya sendiri
"Kau yang sayang sama papah nanti. Papah tua, kau urusin nanti loh. Sayang betul loh dia sama kau, Dek." mamah Dinda menggeser kursinya, agar menghadap tepat ke ranjangku.
"Insya Allah, Mah. Aku pasti urus papah sama Mamah juga." sejujurnya aku sedih jika membayangkan mereka sudah menua nanti.
"Ehh, Dek." mamah Dinda mencolek-colek lenganku.
"Apa, Mah?" aku kembali menoleh menghadap mamah Dinda.
"Kau sama Ardi gimana sih? Udah putus kah? Kok tak ada kabar beritanya?"
Sekian purnama, mamah Dinda baru menanyakannya.
"Break, Mah. Ardi jadikan aku yang kedua ternyata. Awal sama aku, dia pun masih sama Aini." aku kesal, jika menceritakan tentang hal ini.
"Kenapa tak putuskan sekalian? Buang-buang waktu aja kau!"
Hah?
Aku baru tau tanggapan mamah Dinda seperti itu. Dengan keluarga Zuhdi, mamah Dinda begitu menghargai mereka.
"Mamah paling anti, sama laki-laki yang suka dua-duakan wanitanya. Itu pasti terulang dan terus kejadian, karena itu udah sifat mereka. Sejujurnya, Mamah sampai hari ini takut papah nikah lagi, karena ada jejaknya poligami. Tapi, insya Allah papah tak kek gitu dan jangan sampai. Anak-anak udah pada besar, kasian sama yang kecil-kecil. Lagian, udah punya cucu juga."
Ohh, mamah Dinda semacam trauma dengan laki-laki pendua.
"Lagian, papah mau nikah lagi sama siapa sih Mah?" aku terkekeh kecil.
__ADS_1
"Mana tau sama mantannya sendiri. Lagian, papah ini belum sampai ke puber keduanya. Harap-harap cemas Mamah. Mana kan, tante Shasha lama janda. Terus, si mantannya yang namanya Salma, sampai sekarang belum nikah. Salma begitu, karena nungguin papah tuh pasti."
Ternyata, mamah Dinda memiliki sifat pencemburu juga. Tapi sepertinya tidak akut seperti Kinasya.
"Tapi menurut aku, Mamah tak mungkin terkalahkan. Papah mabok janda pun, pasti balik lagi ke Mamah." aku menepuk lengan beliau.
Mamah Dinda terkekeh, "Balik lagi ke Mamah, pasti karena surat kuasa."
Aku dan mamah Dinda cekikikan.
Pengunci laki-laki yang sempurna, surat kuasa harta benda beserta rekening dan seisinya. Luar biasa ide mamah Dinda.
"Ayo, Mah. Siap-siap." Ghava bangun, ia berjalan ke arah kamar mandi ruangan.
"Nanti, kalau papah udah nongol." sahut mamah Dinda.
Beberapa saat kemudian, papah Adi datang dengan membawa banyak tentengan. Bahkan, ia sampai menggendong ransel.
Pasti, ransel itu berisi pakaiannya untuk menginap menemaniku di rumah sakit ini.
"Gih, Dek." papah Adi menaruh satu persatu barang bawaannya di atas kasur spring bed single itu.
"Abang berapa hari di sini?" mamah Dinda berkata begitu manja.
"Dikira Abang lagi liburan, nanyanya berapa hari di sini. Tanyalah ke Canda, kapan sembuhnya gitu. Canda sembuh, ya Abang ikut pulang lah. Ngapain Abang lama-lama di sini?"
Aku dan Ghava tertawa lepas.
"Huh." mamah Dinda membanting alas duduknya ke kasur spring bed itu.
"Nanti anak-anak suruh shift, Dek. Ada itu di sana, jangan sampai lengah."
Itu siapa?
Apa bang Daeng?
Kenapa papah berbicara dalam nada rendah?
Lengah bagaimana maksudnya?
Apa bang Daeng membahayakan sekarang?
Apa anak-anakku terancam di sana?
__ADS_1
...****************...
Jangan panik Canda, nanti gak sembuh-sembuh 😩