
Pukul dua dini hari, kami tengah dalam perjalanan menuju ke rumah megah mertuaku.
Karena aku kehabisan pakaian, ditambah lagi cucianku tidak kering. Membuatku mengenakan pakaian milik kak Anisa. Daster panjang masa kini, yang memiliki tali kerut di kanan dan kiri pinggang.
Ditambah lagi, hijab menerawang ini harus kugunakan untuk menutup kepalaku. Kak Anisa mengatakan aku terlihat modis. Namun, tidak dengan pandanganku. Aku terlihat seperti mamah Dinda yang akan pergi ke minimarket.
"Bagus sih, Dek. Gak pakek scrunchie besar lagi, hijabnya nampak bervolume." kak Anisa memegang hijab di bagian belakang telingaku.
"Rambut aku keriting, Kak. Jadi kek ngembang gitu, kalau diiket."
"Aku lurus, jadi pakai cepol sama scrunchie." kak Anisa pun mengenakan pakaian sopan, daster panjang model kekinian yang memiliki kerutan di bawah dada. Dipadukan dengan hijab tipis lagi. Koleksi hijabnya, memang tipis-tipis seperti milik mamah Dinda.
Chandra asik menoleh ke kiri dan ke kanan, ia memperhatikan jalanan yang kami lewati.
"Ngerasa kek supir taksi, di depan sendirian." celetuk bang Dendi, yang mengemudikan mobil sewaan ini.
Aku merasa penasaran, karena bang Dendi terdampar di kos yang bebas itu. Daerahnya, sama seperti daerah mertuaku. Syariat Islam berlaku di provinsi ujung Sumatera ini.
"Bang Lendra transfer berapa, Bang?" tanya kak Anisa, ia melongok ke tengah-tengah bangku depan.
"Transfer dua juta. Dia sekarang lagi di perjalanan mau ke Sumedang."
Jika aku ikut, aku bisa sampai ke Jawa.
"Jangan takut, aku siap belain kamu." kak Anisa mengusap lenganku.
Aku ingin damai. Setidaknya, biarkan aku pergi dengan status janda.
"Tidur aja dulu, masih lama. Kata Google sih, katanya perjalanan dua puluh enam jam."
Sayangnya aku tidak bisa terlelap sekarang. Perasaanku sudah campur aduk. Ditambah lagi, saat aku ingin tidur pukul sebelas malam tadi. Chandra malah terbangun, lalu ia memasukkan cemilan ke mulutnya. Dengan berat mata, aku segera menyuapi Chandra.
Kak Anisa pun memilih jam dua dini hari untuk perjalanan, agar saat matahari muncul kami sudah merasa segar. Ia selalu dichat bang Lendra, untuk menanyakan perihal keputusanku yang diminta untuk segera kembali ke suami. Membuat kak Anisa memilih untuk segera mengantarku, karena desakan dari bang Lendra itu.
"Chandra ngantuk belum?" kak Anisa menoel dagu Chandra, yang tengah duduk di pangkuanku.
Sejak sebelas malam tadi, sampai sekarang ia belum tertidur kembali. Benar-benar kacau jam tidurku dan Chandra sekarang.
Disatu sisi, aku menikmati kebebasan ini. Di sisi lain, aku merasa tidak puas tidur karena Chandra pun tak memiliki jam tidur yang tepat. Aku tak mungkin tertidur, saat Chandra tengah bermain dengan dunianya.
Beberapa jam sudah terlewati, kami tengah berisitirahat. Bang Dendi mengatakan, bahwa dirinya lapar dan mengantuk.
Bang Dendi mengandalkan Google Maps, karena ia pun tidak tahu pasti jalanan di pulau ini.
Ia pulang pergi merantau pun, selalu menggunakan bus. Jadi ia tidak paham, dengan jalan yang dilewatinya.
"Bener Meriahnya di mana sih, Dek?"
Kami tengah makan mie instan, di warung yang buka pukul lima pagi ini.
"Deket perkebunan kopi, coffe shop Keude Tanyo." aku teringat tempat wisata milik ibu mertuaku dan juga coffe shop milik Ghavi.
__ADS_1
"Ohh, Gampong apa itu? Aku pernah ke sana, tapi lupa. Karena udah beberapa tahun belakangan."
Hebatnya ibu mertuaku. Usahanya sampai terendus berbagai daerah.
"Jam segini, di sana lagi kabut tebal." tambahnya lagi.
"Iya memang, dingin di sana." aku pun sampai sakit, pas pertama kali diboyong ke rumah mertua.
"Tak terlalu naik ya itu?"
Aku mengangguk. Karena aku pernah mendengar, tentang daerah tinggi yang memiliki banyak tempat wisata.
"Aku ingetnya lampu merah kampus itu, Bang. Kalau dari arah rumah mertua aku itu, ke kiri terminal, ke kanan bandara, lurusnya kota." penjelasan Winda tertanam sampai sekarang.
"Ohh, iya. Berarti kau arah daerah tinggi ya?"
Aku mengangguk, "Sebelum pasar itu, Bang. Kan ada pertigaan jalan, yang bakso Pak Haji itu."
"Tapi masuknya kau ingat kan?"
Aku mengangguk, "Ingat, Bang. Dari pertigaan itu, ambil lurus, kan kanan kiri ladang semua. Sampai nyampai di rumah-rumah, ada pertigaan lagi, kita ambil kanan. Rumah besar di ujung jalan itu, rumah mertua aku."
Bang Dendi manggut-manggut, "Orang punya ladang semua di situ ya? Rumah panggung aja, dia pasti punya ladang."
"Sekaya itu ya orang Aceh?" kak Anisa baru membuka mulutnya.
"Iyalah, dulu aja nyumbang pesawat terbang."
Yang aku pahami, mereka sedikit tidak suka dengan orang Jawa. Mungkin karena konflik di masa lalu, tapi tetap ramah juga jika aku ramah.
"Kok Abang gak kaya? Sampai merantau ke Surabaya, Semarang, Jakarta, ke Sukabumi, terakhir ke Padang ini, cuma buat makan-makan aja padahal." ucapan kak Anisa lebih terdengar mengejek. Sudah bukan hal aneh lagi, jika kak Anisa dan bang Dendi saling mengejek seperti ini.
"Kan pengalamannya. Pendidikan Abang kan di Surabaya, kawan-kawan banyak orang sana. Jadi ikuti arah angin aja, di mana ada peluang besar, di situ Abang datang."
Ohh, aku baru tahu kalau bang Dendi lama merantau ke pulau Jawa.
"Orang tua asli Aceh semua kah, Bang?" aku tidak mengerti, kenapa ia sampai jauh untuk mengemban pendidikan saja. Padahal menurut guruku, pesantren terbaik banyak di Aceh, pendidikan di Aceh lebih unggul.
Aku pun selalu kalah, bila mengikuti program kuis antar sekolah. Lalu lawan pesantrenku dulu adalah, murid pesantren dari Aceh.
Kadang aku sampai trauma, untuk mengikuti program seperti itu lagi.
Bukannya membawa harum nama pesantren, tapi malah kalah di ronde pertama.
"Ayah Bireuen Aceh, ibu Pelalawan Riau."
Aku malah bingung di sini.
"Kok bisa sampai di Surabaya?" kak Anisa sampai tertawa lepas, mendengar pertanyaanku itu.
"Memang hidup keluarga Abang berpindah-pindah tempat. Lahir di Aceh, SD sampai SMP, tinggal di Pelalawan. Pas SMA, abu sama ma, buka cabang di Surabaya. Jadi, dari SMA sampai wisuda, ya di Surabaya. Tapi udah stabil, anak udah pada merantau semua, orang tua balik ke Bireun lagi."
__ADS_1
Ohh, ternyata orang tuanya memiliki usaha yang berkembang.
"Usaha apa orang tuanya, Bang?" aku begitu penasaran dengan orang-orang baik ini.
"Rumah makan sederhana, Lamongan gitu."
Kok bisa seperti itu?
Kak Anisa kembali tertawa renyah, mungkin ia geli melihat perubahan wajahku.
"Kok bisa sih? Aceh, Riau, usahanya Lamongan?" kak Anisa begitu lepas tertawa, ditambah tatapan bingung dari Chandra yang tengah memperhatikan kak Anisa tertawa.
Karena, usaha orang Aceh itu. Setahuku seputar dengan kedai kopi. Rumah makan yang menyediakan mie aceh, menu-menunya dilengkapi tema daging kambing dan cita rasa pedas penuh rempah.
"Bisalah. Orang Padang pun tak melulu rumah makan padang, ada juga yang jualan pakaian di pasar malam yang ada biang lalanya itu. Terus mereka nyetel musik kuat, lagunya Rantau Den Panjauh. Malah, penjual pakaian dari Padang pada sukses. Di kampungnya mereka kaya-raya, padahal harga pakaian yang dijualnya terjangkau. Yang terkenal sih, cuma rumah makan padang aja kan? Tapi daerah lain tak tau nih, bisnis pakaian pasar malam lebih bisa bikin rumah bertingkat." kok ucapannya ada benarnya.
Di daerah mertuaku pun, kala ada pekan raya seperti itu. Pasti ada saja penjual pakaian yang berderet panjang, memutar musik yang cukup kuat. Ditambah lagi lagu-lagu tersebut berbahasa Padang.
Mamah Dinda tidak lupa menyablon kaos yang dibelinya dari penjual asal Padang tersebut. Karena pakaian anak-anak yang mereka jual, free sablon nama di kaos bagian punggung.
"Patut dicoba tuh, Dek." kak Anisa menepuk pundakku.
"Apa aku?"
Kak Anisa mengangguk dengan tersenyum lebar.
"Aku cuma bisa masak tumis aja. Potong-potong bawang, goreng, masukin sayuran, tambah garam, penyedap rasa, siap deh. Pakaian pun, aku tak paham model dan tren sekarang."
Chandra tertawa renyah, saat aku berbicara cepat untuk menjelaskan caraku memasak dan pakaian itu.
"Tak jadi aku mau pesen masakan sama kau." bang Dendi memasang wajah malas.
Aku dan kak Anisa tertawa bersama. Aku teringat, tentang aku yang menyanggupi untuk menjadi buruh cuci dan menerima pesanan masakan.
"Aku pun buka jasa titip doa, Bang. Nasib aku kan malang sekali ini, menyedihkan. Pasti doa-doa aku diijabah."
Kini giliran bang Dendi dan kak Anisa yang tertawa begitu lepas.
Entah kapan mie instan ini akan habis?
Sekarang pun mie kami sampai dingin, karena kami terlalu banyak bergurau.
"Dah, cepet makan. Lanjut perjalanan, biar cepet sampai tujuan." akhirnya bang Dendi mengakhiri sesi ngobrol dengan gurauan ini.
Aduh, aku tiba-tiba deg-degan. Bagaimana caranya aku berbicara, saat sampai di kediaman mewah itu?
...****************...
Jeng, jeng, jeng, jeng 😝
Esok ya, Kak 😅
__ADS_1