
"Itu cuma rekan kerja, Mas. Dia bos di team aku."
Saat bang Daeng begitu bangganya bertunangan dengan Putri. Aku merasa minder sendiri, untuk mengakui bahwa dirinya adalah suamiku. Lagi pula, aku yang memang memilih pergi.
"Nadya tak bilang begitu. Dia kata, laki-laki itu belikan kau perhiasan. Laki-laki itu juga sombong kata Nadya."
Jadi Nadya pandai mengadu ke mas Givan?
"Biasa. Cuma akal-akalan bos aja. Mungkin dia tak suka, saat bawahannya dipermalukan mulut Nadya."
Aku masih teringat, bagaimana bangganya Nadya bisa menikah dengan mantan suamiku ini.
"Maaf ya?"
Sudahlah. Aku tak butuh kata itu. Itu seperti kata sakral, yang dilarang keluar dari mulutnya.
Kata maaf dari bibirnya itu berimbas pada air mataku yang tak tertampung. Tiba-tiba, aku merasakan sendiri bahwa dirinya penuh penyesalan hari ini.
Begini kah laki-lakiku dulu?
Mulutnya jarang berkata maaf, tapi sekalinya meminta maaf begitu dalam aku rasakan kesungguhannya.
"Capek ya kerja? Enak rebahan sambil scroll tiktok." ia tertawa sumbang.
"Tak juga. Enak juga kok kerja. Tak melulu ketemu dapur, kasur, sama tangis anak-anak."
Matanya langsung tersorot tajam, "Kehidupan itu ada fasenya. Sebelum kau hamil, aku pun tak pernah ngelarang kau dulu. Papah malah sanggupi pendidikan kau. Kan enak tuh, kau masih bisa bebas berteman, bisa kerja juga. Tapi kau yang milih berdiam di rumah, untuk jadi ibu rumah tangga aja." ia berbicara pelan, mungkin agar Zio tidak kaget.
"Setelah berumah tangga, kewajiban perempuan pasti harus kau penuhi. Maaf dulu-dulu pernah janjikan barang branded, pernah janjikan checkout keranjang belanjaanya. Tapi aku mikirnya kewajiban aku juga. Aku pengen berikan hunian sederhana, biar misah dari orang tua dan ipar. Aku pengen betul liburan keluarga, biar kau sedikit bangga sama suami. Tapi mungkin cara aku dulu salah. Maaf, mulut aku memang malas buat ngomong. Aku memang begini. Sayang aja, kemarin salah langkah." suaranya bergetar menurun.
Aku harus bagaimana menyikapinya?
Aku paham, aku mengerti. Bahwa sekarang hidupnya penuh dengan penyesalan. Aku pun baru tahu sekarang, ternyata mas Givan adalah orang yang malas berbicara. Ia sepertinya lebih suka memendam, ketimbang membicarakan hal yang ia tidak yakini sendiri.
"Aku jarang pulang. Aku males di rumah, karena tak ada tujuan buat apa pulang ke rumah. Tapi ingat Key, ingat Chandra. Tak pengen orang tuanya yang lain, tambah racuni pikiran mereka tentang ayahnya."
Aku tersedu-sedu sembari tertunduk.
Cuma Adek tempat Abang pulang.
Kalimat itu yang sekarang terngiang-ngiang di pikiranku, saat mas Givan mengatakan alasannya jarang pulang ke rumah.
Jadi, aku dulu adalah alasan dia pulang setiap hari? Harusnya dulu aku mengerti. Sayangnya, aku tidak memahami jika ia tidak mengatakannya seperti bang Daeng.
"Masih suka nangis aja." ia mengulurkan setepak tisu kering padaku.
"Janganlah nangis. Riasan mata kau luntur nanti, kan jadi serem." tambahnya, yang membuatku menangis sembari tertawa.
"Waterproof lah, tak luntur." aku meluruskan pandanganku.
"Kau gosok, hitam juga kek panda mata kau." ujarnya dengan tertawa geli.
"Mana ada!" aku menunjukkan tisu bekas mengusap air mataku.
__ADS_1
"Itu tisu yang beruntung. Yang tak beruntung kan kau umpetin."
Sepertinya, moodnya sedang bagus.
"Mana ada! Aku tak umpetin lah!" ketusku dengan menunjukkan kedua telapak tanganku.
"Coba kau bercermin. Kek panda mata kau." ia masih saja mentertawakanku.
Benarkah aku seperti panda?
Aku segera bangkit, lalu berjalan ke arah lemari. Terdapat cermin seukuran pintu lemari di sana.
Mas Givan berbohong. Sama sekali aku tidak memiliki mata panda. Bahkan, jika dibawa tidur pun garis mata buatan ini tetap aman.
"Pandai kau bersolek sekarang."
Aku tersentak, tangan kokoh itu melingkar di perutku.
"Hummmm..." ia menghirup wangiku.
Wajahnya, berada di ceruk leherku. Aku mencoba melepaskan pelukannya, "Mas, jangan kek gini!" ungkapku kemudian.
Padahal ia sudah meminimalisir, dengan membuka sedikit pintunya. Tapi tetap saja, mas Givan sekarang lost control.
Aku menatap bayangan tubuhku yang tengah dipeluknya dari belakang. Suami Nadya ini, sekarang tidak mengenakan kaos.
Ngomong-ngomong, kapan mas Givan melepaskan kaosnya?
Suku panas terhantar dari tubuhnya.
Aku memastikan sendiri, dengan menyentuh tangannya yang masih melingkar di perutku.
Segera aku memutar tubuhku. Sayangnya, aku ini bodoh. Kini posisi kami seolah saling memeluk. Meski bukan seperti ini maksudku.
"Mas, badan kau pan....."
"Zio nangis tak, Canda?"
Aku seperti dikagetkan dengan kilat dari langit.
Aku dan mas Givan sama-sama menoleh ke arah pintu.
Ia cepat-cepat melepaskan pelukannya, aku pun menggeser posisi tubuhku.
Apa yang Nadya pikirkan sekarang?
Pandangannya kosong menatap kami.
"Ehhhhh....." mamah Dinda ikut terjatuh, saat tubuh Nadya ambruk.
Aku dan mas Givan cepat-cepat berlari ke arah pintu. Membiarkan Zio yang sudah mengeluarkan suara rengekannya. Sepertinya anak itu merasa, jika ibunya kini jatuh pingsan.
"Dipindahkan kah, Mah?" mas Givan sudah mengambil posisi.
__ADS_1
"Ya lah. Mak kau miring-miring begini, tak kasian kah?"
Aku menahan kekehanku.
Mamah Dinda tak sengaja melawak. Hanya saja, ia terlihat lucu.
"Panggilin Kin, Dek!" mamah Dinda memberiku perintah.
"Ati-ati, Van. Lukanya nganga. Lem-leman perutnya di ujung sayatan katanya sedikit nganga, harus ke rumah sakit besok Van."
Aku berjalan cepat untuk menaiki tangga. Dengan ocehan mamah Dinda yang masih terdengar jelas.
Jadi, kondisi Nadya sekarang tengah menurun?
Aku jadi khawatir ia kenapa-napa. Aku pernah mendengar beberapa kasus, ada ibu meninggal pasca operasi sesar. Pikiranku sudah bercabang ke hal yang buruk saja. Semoga Nadya tidak apa-apa.
Tok, tok, tok.
"Kin... Nadya pingsan. Kau dipanggil mamah." seruku dari balik pintu kamarnya.
"Ya." sahutan itu aku dengarkan.
Aku masih berdiri di depan pintu kamar Kin, menunggu Kin segera keluar. Aku bermaksud, untuk menggendong Kaf. Agar ia lebih cepat sampai ke kamar mas Givan.
Ceklek.
Senyumku pudar, karena wajah merah dengan sorot menyeramkan yang Kin pasang. Kin seolah tengah menangis marah.
"Makasih ya untuk minuman hangatnya." ujarnya dengan tersenyum lebar.
Namun, senyumnya itu bertentangan dengan sorot sendu yang ia pasang sekarang.
Ia ngeloyor pergi dengan tas berbahan kulit. Kaf pun masih berada di gendongannya. Ia malah meninggalkanku sendirian di depan pintu kamarnya.
Aku tak membuatkan minuman hangat untuk Kin. Tapi, aku membuatkan teh tubruk untuk suaminya.
Ehh, tunggu dulu.
Ibu pernah mengatakan bahwa di sudut rumah ini memiliki beberapa kamera pengawas, yang bisa dipantau dari kamar utama dan kamar Ghifar. Kamar utama adalah kamar mamah Dinda.
Jadi, Kin memantau suaminya di rumah ini dari cctv?
Kin cemburu buta, karena Ghifar meminta tolong padaku untuk membuatkannya minuman?
Kin menangisi suaminya, yang tengah bersantai di halaman samping dengan ditemani segelas teh tubruk buatanku itu.
Ya, Allah. Aku jadi merasa sangat bersalah. Aku khawatir setelah ini mereka berperang.
Aku cepat-cepat turun kembali ke lantai bawah. Aku mengacaukan dua hati istri dalam waktu singkat. Bagaimana ini? Apa harus aku meminta maaf pada Kin dan Nadya?
Tapi, tadi aku tidak bermaksud berpelukan dengan mas Givan. Tadi pun, aku tak melakukan apa-apa dengan Ghifar.
Bagaimana ini?
__ADS_1
...****************...
Nadya drop 🙄 Kin cemburu 🥺