Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD337. Teman berjuang


__ADS_3

"Bang...." aku mencekal tangan bang Daeng, saat ia akan masuk ke dalam ruko.


Ia melepaskan cekalan tanganku, "Bentar, Dek. Ambil kembalian dulu." bang Daeng melanjutkan langkah kakinya.


Ceysa dan anak-anak yang lain ke mana lagi? Kenapa mereka tidak ada yang keluar? Apa ibu menggiring mereka untuk tidur siang? Tak terkecuali pun dengan Hadi?


Tak lama kemudian, bang Daeng muncul lalu kembali ke seseorang yang tengah ia ajak berdialog sedari tadi. Bang Daeng menyerahkan uang padanya, lalu ia langsung berjabat tangan.


Bisnis kah?


Ya, beras itu.


"Bang...." aku tidak ada teman mengobrol di sini.


Seseorang yang dipanggil kak Nilam pun, ia sibuk di bangunan sebelah bersama mangge Yusuf. Bang Daeng pun, berada di teras bangunan tersebut.


Itu rumah siapa?


Kemudian bang Daeng menoleh ke arahku. Dari jauh, ia memberiku senyum terbaiknya.


Aku membalas senyumnya, sembari memperhatikannya yang kian mendekat ke arahku.


Ghifar hanya membawaku ke teras, lalu ia kabur. Tidak jelas betul Ghifar ini. Ia malah ribut dan asik bergurau dengan kakaknya.


"Kenapa, Dek?" bang Daeng duduk di kursi semula, yang berada di sampingku.


Aku menunjuk bangunan di sebelah kiri tersebut dengan daguku, "Itu rumah siapa?" tanyaku kemudian.


Bang Daeng tersenyum kembali, "Punya Ceysa, tapi sementara ditempati mangge. Calon istrinya itu baru datang, stay di sini sampai nikahan nanti. Terus nanti ibu sambung Abang nempatin rumah Ceysa itu, sambil jualan beras. Kalau mangge, masih bolak-balik Banda Aceh aja. Sayang, udah kartap. Tapi kan, kalau di sini ibu sambung Abang jadi ngerasa banyak saudara. Kalau di Banda Aceh, dia sendirian. Yaaa... Sekalian urus Jasmine." ungkap bang Daeng kemudian.


Jadi itu kejutan yang bang Daeng maksud? Ia memberikan rumah atas nama Ceysa lagi.


Aku manggut-manggut, "Terus pengisian air ini? Kata mamah, dijual sama Abang." aku menunjuk pengisian galon yang masih beroperasi itu.


Bang Daeng tertawa tipis, "Masih punya Adek. Cuma, Abang murahin harganya. Ada sistem kupon, ada sistem imbalan juga."


Aku menaikan sebelah alisku, bingung jelas aku rasakan. Aku tidak mengerti strategi usaha.


Bang Daeng malah geleng-geleng kepala dengan tawa geli, "Gak paham ya?" ia menebakku.


"Ya, Bang." aku menyahuti tanpa ragu.


"Jadi, gini." bang Daeng menjeda kalimatnya, "Pengisian galon, harganya sekarang tiga ribu lima ratus kalau datang sendiri. Kalau diantar tukang galon, harganya jadi empat ribu lima ratus. Kan tukang galon dapat seribu tuh, dari antar satu galon. Mengenai orderan, tukang galon cari sendiri. Abang gak tau-tau, Abang cuma nerima tiga ribu lima ratus, dari orderan galonnya. Jadi, tukang galon dapat seribu perak dari satu galon dari customernya. Terus, tiap kali pengisian galon dapat satu kupon. Berlaku untuk datang sendiri, atau lewat tukang galon. Kalau kupon udah ada lima, bisa ditukar dengan satu kali pengisian galon gratis. Ditukar dengan lima belas kupon, dapat sapu. Ditukar dengan seratus kupon, dapat galon baru kosong. Belum lagi tukang galon ini, dapat rokok satu bungkus, setiap kali berhasil order tujuh puluh galon. Abang udah kalkulasi biaya dan semua resikonya. Setelah dilihat hasilnya, aman kok buat usaha Adek, masih untung besar. Rokok buat tukang galon pun, kisaran dua puluh ribu aja."


Ini adalah cara licik?

__ADS_1


Atau trik untuk mendapatkan omset penjualan yang lebih besar?


"Sejauh ini, lancar kok Dek. Beberapa pemuda yang kosong kerjaan, pada minta jadi tukang galon. Abang pun, cuma modal besi keranjang seharga seratus lima puluh ribu, buat di motor tukang galon. Tapi kalau dia berhenti, besi keranjangnya Abang minta lagi." tambahnya kemudian.


"Udah ada berapa tukang galon, yang kerja sama Abang?" tanyaku kemudian.


"Dua belas orang keknya. Sehari, sampai pernah stok air habis. Dadakan nelpon mobil tangki."


Aku tidak percaya ini.


"Abang cari orangnya gimana?"


Biasanya, satu tempat pengisian galon. Hanya ada satu tukang galon. Setahuku juga, ia diberi upah harian. Bukan dari pergalon seperti itu.


"Di keude kopi, nongkrong di depan gang. Di mana aja lah, sekalian momong anak-anak. Chandra kan, makin ke sini, makin susah tidurnya. Jam dua belas malam tuh, masih ikut nongkrong sama om-omnya. Kadang, ikut Abang nongkrong di keude kopi."


Hah?


Benarkah?


Apa tidak ada setan yang mengincar Chandra?


Lalu, bagaimana tanggapan ibu yang selalu takut pada anak-anak yang keluar selepas maghrib?


Pasti ia akan begitu murka, pada seseorang yang mengajak Chandra nongkrong.


"Terus, Chandra bangun jam berapa?" tanyaku kemudian.


"Bangun pagi, jam setengah enam. Telat-telat jam setengah tujuh."


Hah, kok bisa? Kan malamnya Chandra begadang.


"Tapi, jam sebelas siang udah mabok. Tidur dari jam sebelas siang, kadang jam sepuluh. Nanti bangun jam satuan, kadang pas lagi dzuhur bangun."


"Itu tak tidur lagi, Bang?" tanyaku kemudian.


Bang Daeng menggeleng, "Gak, Dek. Tapi kalau sore jalan-jalan naik motor, ya dia sampai merem. Gak lama sih, paling setengah jam. Setelah pulang dari puskesmas itu, jam tidurnya jadi kek orang dewasa." jawabnya dengan menoleh ke kiri dan kanan.


"Jasmine mana ya?" tanyanya kemudian.


"Ke dalam, Bang. Sama ibu, sama Ria."


Bang Daeng hanya mengangguk.


"Mau ke mamah kah? Atau mau ke kamar lagi?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Ke kamar aja, Bang. Nanti sore ke mamah. Aku nginep aja, biar sekalian lebaran di sana."


Namun, aku mendapat usapan di bahuku.


Aku menoleh ke arah bang Daeng. Aku mendapati alisnya terangkat sebelah.


"Acara bukber, di rumah mamah. Makmeugang, di rumah Givan. Nah, lebaran baru kumpul di rumah mamah lagi. Yakin mau nginep? Nanti Abang gak bisa nemenin Adek di kamar." ucapnya lirih.


Aku tertawa geli, lalu memukul lengannya.


"Kirain tuh ada apa! Muka sampai serius gitu." aku masih menyuarakan tawaku.


"Di rumah ini aja lah, gak usah nginep. Nemenin Adek pun, Abang cuma minta ngobrol. Gak minta cium, apa lagi minta dianukan."


Setulus ini kah rasanya untukku?


Jika memilih orang lain, aku takut aku sendiri yang merugi. Karena terlah membuang orang yang tulus untukku, hanya untuk membela egoku saja.


"Ya udah, ayo ke kamar. Ceysa sama Chandra, diajak ke kamar aku." aku hendak bangun.


Bang Daeng menahan pergerakanku, "Jasmine gak boleh ikut ya?" raut wajahnya terlihat kecewa.


Aku mengedikan bahuku, "Terserah, kalau dia mau. Aku tak keberatan."


Senyumnya langsung terukir begitu menarik, "Makasih, Adek. Dari awal ketakutan Abang itu, Adek gak sudi nerima kehadiran Jasmine."


Ia bangkit dari duduknya, lalu berdiri di hadapanku.


Tunggu, aku masih ingin sedikit kejelasan dari bang Daeng tentang pilihannya menyembunyikan Jasmine dariku.


"Sini Abang gendong aja."


"Aku mau jalan, Bang. Bantu aku ya?" aku tersenyum manis, dengan meraih tangannya untuk dijadikan tempat berpegangan.


"Okeh, Abang temani Adek berjuang."


Netra kami bertemu. Aku bersemu merah, melihat pandangan penuh kasih dari bang Daeng. Dari pandangan matanya saja, aku sudah baper. Ditambah lagi, ungkapannya yang begitu dalam.


"Makasih, Bang."


Aku mulai melangkah perlahan, dengan bang Daeng yang begitu kuat menahan tubuhku.


...****************...


CLBK gak yaaaaa 😌

__ADS_1


__ADS_2