
Kak Anisa yang berjuang. Namun, aku yang malah mendapatkan. Seseorang yang pernah ia tolong ini, dengan tidak sopannya mengambil alih pujaan hatinya.
Ya meski, kak Anisa sudah menikah dengan bang Dendi. Tapi tetap saja, rasa tidak enak itu muncul di hatiku.
Aku hanya melihat-lihat story aplikasi chat milik Ghifar. Chandra menunjukkan eksistensinya di sana. Ia sudah bisa berjalan sekarang, ia berlarian bersama Aksa dan Mikheyla di halaman belakang.
"Chandra, ikut Yayah yuk? Jalan-jalan yuk?"
Di video story terakhir, aku melihat mas Givan tengah menggandeng anak laki-laki seumuran Aksa sepertinya. Ia berjalan mendekati anak-anak yang tengah berlarian itu.
"Papah..." aku bisa melihat Chandra berlari ke arah kamera. Kemudian, suara Ghifar terkekeh kecil dengan menyambut Chandra yang datang padanya itu.
Sukurin untuk mas Givan, bahkan anaknya sendiri sekarang berlari ke arah orang lain saat ia dekati.
Namun, ia tidak terlihat sengsara sedikitpun.
Aku yakin, anak itu bukan anak yang dikandung si Kaktus kemarin hari. Bisa jadi, itu anak si Kaktus dengan suami lamanya.
Itu hanya perkiraanku saja. Karena tidak ada anak kecil yang perawakan begitu ramping di rumah itu.
Ada rasa tidak puasku saat ini. Karena mas Givan tidak terlihat menyedihkan, bahkan senyumnya begitu lebar tadi.
Huh!
Moodku berubah menjadi buruk karenanya.
Aku mematikan ponselku, lalu menyambungkannya ke charger. Aku memilih untuk tidur siang saja. Khawatir nanti malam bang Daeng mengajakku begadang. Apa lagi, mangge Yusuf mengatakan bahwa dirinya akan ke luar dari rumah ini untuk urusan pekerjaan. Pasti bang Daeng lebih leluasa untuk membolak-balik diriku.
__ADS_1
~
Malam ini, kami tengah bersantai di ruang televisi. Bang Daeng baru saja datang dari mengantar mangge ke PT, tempat mangge bekerja. Karena rombongan tim kerja mangge, telah berkumpul di PT untuk berangkat bersama.
"Sini kakinya di pijitin." bang Daeng menarik kakiku.
Aku tahu, ini hanya strateginya saja.
Aku membiarkannya memijat kakiku semakin naik. Aku hanya fokus ke tontonan saja. Karena sinetron ini cukup menarik minatku, ceritanya dipenuhi komedi.
"Jama'ah dulu yuk?" ia bangkit, lalu mengulurkan tangannya padaku.
Sebenarnya aku berat, saat sedang asik menonton seperti ini. Manusiawi memang.
Kami mengambil wudhu bergantian, lalu segera bersiap ke kamar depan. Karena kamar ini tidak terdapat banyak barang, cukup ruang untuk melakukan sholat berjamaah.
Suaranya begitu adem dan merdu.
Jujur, seumur-umur aku berumah tangga dengan mas Givan. Aku tidak pernah berjamaah bersamanya. Jika ia tahu aku tengah mengaji, ia malah meninggalkan kamar.
Entah karena ia ingin aku fokus. Entah karena ia memang tak ingin melakukannya bersamaku.
Aku memaklumi keadaan, saat aku dan mas Givan telah memiliki Mikheyla dan Chandra. Wajar, kami tidak bisa sholat berjamaah. Karena anak-anak tidak ada yang menjaga. Namun, sebelum kami memiliki Mikheyla ataupun Chandra. Kami tiga tahun bersama, dengan waktu yang begitu banyak. Sayangnya, memang aku tidak pernah melakukan jama'ah bersamanya.
Setelah kami selesai melakukan ibadah sholat isya, aku langsung mencium tangannya. Berharap mendapat berkah dan surga untuk kami.
"Mau ke luar kah?" tanyanya, saat aku tengah melipat mukenahku.
__ADS_1
"Di keluarkan?"
Aku berpikir, bang Daeng mengajakku segera sholat. Agar ia bisa langsung menerjangku.
Ia terkekeh geli, dengan menyimpan pecinya.
"Bukan! Jalan-jalan, ke luar. Mau gak? Atau pengen jajan apa gitu?" jelasnya kemudian.
Semburat malu pasti terlihat di wajahku. Aku sudah salah kira ternyata.
Namun, ingatan buruk malah berputar kembali. Aku teringat, di mana mas Givan baru pulang dari rehabilitasinya.
Lalu, ia mengajakku membeli pakaian baru. Setelahnya, malam itu terjadi dengan sangat cepat. Ia bahkan tidak mendengar ampunanku, saat hal itu terjadi dengan cukup lama.
Apa hari ini akan terjadi seperti hal yang sama?
Bang Daeng akan meluluhkan hatiku dengan belanjaan, sebelum dirinya menguasai diriku?
"Hai... Kok ngelamun?" ia menarik daguku untuk menghadap ke wajahnya.
Pesona laki-laki yang tidak ganteng ini cukup menawan. Matanya berwarna coklat tua terlihat berbinar, ketika memandang wajahku seperti ini.
"Bang... Apa setelah ini nanti Abang tak mau dengar protes aku pas di ranjang? Aku tak bisa terlalu lama, aku tak bisa macam-macam gaya." to the poin, langsung kulempar pertanyaan itu.
Jujur, aku trauma. Cara main mas Givan cukup membuatku trauma.
Dahinya mengkerut, "Kalau......
__ADS_1
...****************...
Segitu banyaknya up, apa masih gantung aja? 🙄