
"Ria... Di freezer masih ada sisa balungan tak? Stok cilok dan lain-lain, ada tak?" tanyaku dengan melongok ke arah dapur.
"Eummm..." Ria berjalan ke arah lemari pendingin dua pintu tersebut.
"Sisa sedikit kalau cilok." jawabnya kemudian.
"Tolong lah buatin. Mbak pengen istirahat dulu." hanya dekheman yang aku dapat.
Tring....
Kejutan dong. Ya udah ya? Sampai jumpa hari minggu.
Aku hanya membaca, tanpa membalasnya.
Kejutan apalah? Paling barang.
Ini adalah hari jum'at. Dua hari lagi, bang Daeng akan datang.
Aku memilih untuk kembali beristirahat. Mumpung Ceysa sudah kabur dengan mamah Dinda.
Ucapan mamah Dinda tentang aku, jika menurut saudara yang lain, seakan-akan begitu baik. Maksudku, mamah Dinda kasihan dan sayang padaku. Sampai-sampai, ia mengambil alih Chandra dan mengasuh Ceysa, jika aku sibuk atau tengah beristirahat.
Memang gampang saja mengasuh anak-anakku. Yang penting ada kue, air minum dan mainan. Rumah dikunci, televisi menyala, mereka pasti anteng.
Tapi jika mamah Dinda berkata langsung padaku, beliau masih begitu ketus. Ia pun selalu berkata mengambil alih Chandra, karena terlantar. Bukan karena kasihan padaku.
Sore harinya, badanku begitu terasa remuk. Selepas bangun tidur, tubuhku begitu kaku dan nyeri.
Aku bersandar sejenak pada kepala ranjang, sebelum aku mulai bangkit.
Ya Allah.
Telapak kakiku pun begitu sakit, ketika berpijak.
Masa ia kelelahan seperti ini?
Aku mencoba meregangkan tubuhku dulu. Setelah merasa sedikit nyaman, aku memilih untuk mandi dan sholat.
Aku beraktivitas seperti biasa. Aku mulai berjuang kembali.
Temani aku berjuang ya?
~
Hingga, tidak terasa. Minggu pagi ini, tengah aku tangisi.
Ini seperti ketindihan.
Tubuhku begitu berat dan kaku untuk digerakkan.
Tapi, ini bukan mimpi. Anakku menangis di sampingku. Ceysa mengamuk, meminta sufornya.
"Iyung...." tangisnya begitu lepas.
Tangannya tidak beraturan memukuli wajahku.
Aku menahan tangannya, lalu membawanya ke dekapanku.
Aku khawatir, ini adalah akhir dari hidupku. Aku belum sempat bertaubat, Ya Allah.
Kedua tangan dan bahuku bisa bergerak. Namun, tidak dengan dada ke bawah. Bahkan, kakiku seperti tidak berfungsi.
"Cucu...." Ceysa masih lepas menangis.
"Biyung tak bisa bangun, Nak." aku tergugu, dengan mengusap air mata Ceysa.
Tangis Ceysa langsung berhenti, ia menatapku dengan keheranan. Jemari mungilnya menyentuh kelopak mataku.
"Yung anun." ia melebarkan matanya sendiri.
Anak polos.
"Bentar ya, Nak?"
Ceysa hanya manggut-manggut, ia tengah mengucek matanya yang penuh air mata. Hal mudah untuk mengalihkan tangis Ceysa.
Namun, bagaimana ini?
__ADS_1
Aku sudah bermandikan keringat, karena berulang kali mencoba untuk bangun. Nyatanya, ini begitu berat.
Rasa mual timbul kembali. Pakaianku pun, kian basah dengan keringat dinginku.
Aku harus meminta pertolongan.
Ya, aku harus menelpon Ria atau ibu.
Aku meraih ponselku. Tidak jauh, karena berada di samping bantal tidurku.
Saat waktu sahur tadi, aku tidak apa-apa. Aku masih bisa beraktivitas. Kemudian aku tertidur kembali setelah subuh. Kini, saat aku terbangun pagi. Harapanku tiba-tiba langsung kaku, dengan keadaanku yang mungkin, lumpuh?
Apa ini hanya kram otot saja?
Apa, aku benar-benar lumpuh sekarang?
"Kenapa, Mbak?" sahut Ria di seberang telepon.
Aku mengatur nafasku.
"Mbak, kenapa? Mbak nangis?" dari suaranya, Ria terdengar tengah panik.
"Aku ke atas ya?"
Aku mendengar pintu yang dibanting, dengan langkah kaki yang begitu cepat.
"Ria...." air mataku masih deras saja.
Aku tidak kuat, mengatakan keadaanku sekarang.
Jujur, aku tidak bisa menerima keadaanku.
Aku masih muda. Tanggung jawabku masih berat, ada dua anak yang harus aku didik dan tuntun hingga mereka dewasa. Bagaimana caranya aku mengurus mereka? Bagaimana caranya aku tidak merepotkan orang lain, dengan keadaanku?
Tok, tok, tok....
"Mbak..." suara Ria terdengar secara langsung dan di ponselku juga.
Aku sesenggukan, aku mencoba mengeluarkan suaraku.
"Kaki Mbak tak bisa gerak, Dek. Mbak tiba-tiba lumpuh."
Tangis Ria langsung pecah.
Bughhhh.... Tok, tok, tok...
"Mbakkkkkk...."
Aku semakin tergugu, dengan Ceysa yang turun dari ranjang dengan tangisnya.
"Ada apa, Ndhuk?" itu sepertinya ibu.
Panggilan telepon tidak dimatikan. Membuat dua sumber suara, terpantul secara bersamaan.
"Mbak lumpuh, Bu." Ria sudah meraung-raung di sana.
Aku begitu teriris, ketika mendengar suara adikku itu. Orang terdekatku saja seperti ini, apa lagi aku?
"Ya Allah, Ndhuk....." suara ibu menurun bergetar.
"Canda....."
Bughhhh.... Tok, tok, tok.....
"Bu....."
"Buta into.... Cucu...." Ceysa berteriak.
"Ria...." aku bersuara lirih dalam panggilan telepon ini, "Pintunya masih dikunci. Ceysa dari tadi minta susu, Mbak tak mampu buka pintunya." terangku kemudian.
Di depan pintu kamarku, penuh dengan tangis dan raungan kekhawatiran. Begitu pilu, saat mendengar tangisan mereka.
"Gimana ini, Bu?" Ria menangis sembari bersuara.
"Teeee..... Buta into! Dek cucu." Ceysa berteriak cukup kencang.
Bugh...
__ADS_1
Bunyi pintu dipukul itu, sepertinya dari Ceysa. Tangan kecilnya, ternyata berusaha membuka pintu.
"Tolong urus Ceysa, Ria." aku hanya mampu menatap langit-langit kamarku, dengan ketidakberdayaanku.
"Gimana ini caranya buka pintu, Bu?"
Jadi seperti ini rasanya ditangisi oleh orang terdekat kita? Apa seperti ini rasanya, saat jenazah kita tengah ditangisi oleh keluarga?
"Canda..... Kamu kunci apa ini?"
Suara gagang pintu yang ditarik beberapa kali.
"Aku grendel bagian atasnya, Bu. Karena Ceysa bisa bukannya, kalau aku grendel di bagian bawah." aku berbicara dalam telepon.
"Ya Allah, Ndhuk....." suara ibu begitu mengiris hati.
"Gimana ini, Bu?" Ria masih lepas saja menangis.
"Coba kamu ke papah. Minta tolong sama papah."
"Iya, Bu."
Aku mematikan sambungan teleponku. Karena suaranya begitu grasak-grusuk, mungkin karena Ria tengah berlari.
Bughhhh....
"Buuuu.... Buta into! Dek cucu, Dek num. Buuuu.... Te....."
Ya ampun, Ceysa. Anak pandai.
"Iya, Ibu buatin. Sabar, Nak." suara tangis ibu, masih terdengar di telingaku.
"Buta....." Ceysa berseru kembali.
"Iya, Nak. Tunggu ya? Nanti Ibu bukain."
"Eummm....."
Ke mana lagi anak itu?
Aku menjadi khawatir, karena tidak mendengar suara Ceysa.
"Ceysa." panggilku cepat.
"Eummm." cara ia menyahuti selalu seperti ini.
"Ceysa di mana?" tanyaku kemudian.
"Duk. Unggu mbu."
Anak pintar.
"Sini sama Biyung, Ceysa. Biyung punya video Ceysa." aku mencoba menarik perhatiannya.
"Dek unggu mbu, cucu Dek." inilah anak ini.
"Ceysa duduk jangan dekat pintu, Nak. Nanti Ibu mau buka pintu, Ceysa kejepit." itu adalah suara ibu yang berseru.
Ternyata, beliau masih berada di depan pintu kamarku.
"Dak. Dek duk kusi."
Aku langsung memiringkan kepalaku, lalu mencoba melongok ke bawah. Ya, aku bisa melihat tubuh kecil itu tengah berada di atas sofa. Ia bersandar di sana, menghadap pintu kamar. Ia menantikan seseorang membuka pintu, ia ingin sufornya.
"Canda kenapa, Bu?" rajaku datang.
"Mamah kan udah bilang." suara mamah terdengar bercampur isakan.
Aku kembali menangis pilu.
Ya Allah, aku kenapa?
Ada apa dengan kesehatanku?
...****************...
Silahkan berpendapat 😌
__ADS_1