
Kami melangkah ke luar rumah bersama, melihat sekeliling kota dengan berjalan kaki. Indahnya dunia ini, dengan pelengkap kebahagiaanku yang baru. Ia selalu mengangguk, ketika aku menunjuk sesuatu.
Bang Daeng tidak pernah keberatan dengan model pakaian yang aku pilah sekarang. Aku boleh membelinya, jika aku ingin. Tidak seperti ayahnya Chandra, ia bahkan memintaku agar terlihat dewasa.
Aku tidak ingin membandingkan. Namun, nyatanya ini teringat jelas di ingatanku.
"Ini uang mangge ya, Bang?" tanyaku, ketika kami tengah berjalan ke luar.
"Abang minta uang, di dompet mangge cuma ada tiga ratus. Manalah cukup buat ini itu." ungkapnya kemudian.
"Nah... Terus uang dari mana?" aku berhenti melangkah, lalu menoleh ke padanya.
"Uang simpenan Abang. Trip Sulawesi kan udah cair. Memang Adek gak cek mobile banking kah?" jelasnya cepat, lalu kami berjalan kembali.
"Oh, iya kah?" aku terkekeh kecil.
Aku tak pernah mengecek ATM, aku pun tak menggunakan mobile banking ataupun notifikasi dari bank. Jika aku butuh uang, aku akan mengambilnya.
"Iya, Raya udah bagi juga." sahutnya dengan menarik tanganku, untuk berbelok ke arah rumah mangge.
Setelahnya, kita duduk di ruang televisi sembari menikmati jajanan yang kita beli. Aku pun, menunjukkan hasil pilihan pakaian yang aku beli tadi.
__ADS_1
"Seneng betul koleksi daster model baru, kek Enis aja." komentarnya, saat melebarkan pakaian yang aku beli.
Entah mengapa, semakin ke sini, daster semakin banyak motif dan modelnya. Membuat daster, tidak hanya untuk ibu-ibu yang anteng di dapur saja. Untuk berpergian pun, daster zaman sekarang sudah layak untuk dipakai.
"He'em, baru tau kalau daster itu nyaman. Dulu aku selalu beli rok, sweater, baju spandek, sama kerudung langsung. Mungkin gara-gara itu kali ya? Jadi tak nampak menarik lagi." aku akui, penampilan sehari-hariku sekarang jauh berbeda.
"Bisa jadi, Dek. Masalahnya ekonomi juga sih. Kau mau bergaya pun, gak ada uang buat modalinnya."
Ucapannya seperti merendahkan mas Givan menurutku.
"Aku tetep kerja aja lah, Bang. Biar bisa ikut Abang terus." aku mengalihkan topik pembicaraan kami. Sesekali aku menikmati jajanan berbumbu mayones dan kecap ini.
"Masalahnya gak boleh sama PT-nya. Adek belum kerja satu tahun sama mereka, Adek gak boleh nikah." terangnya kemudian.
"Jadi kek mana?" aku tak mau ditinggal sendirian. Aku harus melakukan kegiatan apa? Aku tidak punya kesibukan.
"Hmm... Abang tuh sebenarnya gak mau kalau istri Abang kerja. Abang paham, kerjaan di rumah aja udah capek betul."
Ya Allah, pengertian seperti ini lelakiku.
"Gini aja deh. Aku gak kerja, kalau udah hamil aja. Soalnya, aku hamil tuh tidur aja. Aku gak bisa aktivitas, apa lagi menuhin tugas pekerjaan." aku menarik ini, karena aku masih ingin menghasilkan uang sendiri dan berdekatan bersamanya.
__ADS_1
Dengan aku bekerja, setiap waktu aku bisa menempel dengannya.
"Nanti gimana dokumennya? Rencananya Abang buat KK baru, dengan alamat Banda Aceh." urat wajahnya terlihat serius.
"Ya tak apa. Yang penting kita jangan publikasikan dulu. Apa Abang udah publikasikan?" bang Daeng langsung menggeleng cepat.
"Abang gak pernah bikin story atau status apapun. Punya sosmed, cuma buat scroll-scroll aja biar gak ketinggalan informasi."
Ada-ada saja jawabannya.
"Ya udah, gitu aja. Aku gak enak juga sama kak Anisa soalnya." aku terkekeh kecil.
"Biasa aja kali. Dia kan udah nikah juga." bang Daeng menggeser posisi duduknya agar lebih dekat denganku.
Aku langsung menegang, ketika tangan kokoh itu menyelinap di pinggangku.
Aku harus waspada, karena bang Daeng adalah laki-laki yang tidak bisa ditebak. Ia tadi mengatakan, bahwa jika aku tidak siap pun bisa lain waktu. Namun, bagaimana jika ini terjadi lebih cepat?
Aku takut permainannya lama. Aku takut kembali dibuat lecet, saat seperti pertama kali melakukannya bersama mas Givan dulu.
"Dek... Pernah....
__ADS_1
...****************...
Pernah apa ya? Harusnya sih jelas pernah. Karena Canda menikah selama lima tahun, pasti dia pernah merasakan.