
"Far.... Kau tak sedia kue kering kah di mobil? Aku lapar loh, dari tadi aku cuma liat pemandangan aja." aku bosan menolah ke kiri dan kanan sejak tadi.
"Tinggal bilang, Canda. Aku bisa nepi, buat kau jajan di minimarket. Tak usah drama coba, tinggal minta buat aku nepi aja tuh." Ghifar tersenyum kecut padaku.
"Tapi aku tak mau berhenti dulu, nanti tak sampai-sampai Far." aku tak mau buang-buang waktu.
"Dilempar aja lah, Far! Kok kesal Papah."
Ghifar melirik pada spion tengahnya. Di bangku belakang, ada papah Adi dan Giska.
Namun, Giska malah tertawa lepas.
"Biskuit nih. Minum juga ada. Mau ngemil apa sih orang hamil tuh? Perasaan tadi masuk mobil udah bawa banyak makanan." Giska menyodorkan kantong plastik berlogo minimarket.
"Makan keju silices aja dari tadi. Enek sendiri liatnya tuh." celetuk Ghifar kemudian.
"Enak, tapi udah abis. Sama mas Givan juga boleh kok, dia selalu beli kalau pulang kerja." aku sudah manyun saja di sini.
"Givan istrinya doyan keju. Ya suruh nelen bisa-bisa." komentar papah Adi, membuat Ghifar tergelak lepas.
Aku dan Giska malah saling memandang, dengan tatapan bingung.
"Udah masuk Lhokseumawe ini, Pah. Di sebelah mana ini?" Ghifar menunjuk tugu di sisi kiri jalan.
"Cari minimarket aja dulu. Canda barangkali laper. Mamah di daerah pantai, masih jauh dari sini." ucap papah Adi.
"Kak, serius lapar lagi? Kita kan tadi udah singgah buat makan berat."
Aku langsung memutar kepalaku, untuk melihat ke arah Giska.
"Ya Allah, Canda. Perjalanan dua jam aja, kita tempuh sampai tiga jam. Gara-gara kau berisik pengen ini itu terus." Ghifar menyugar rambutnya ke belakang.
"Udah, Far. Orang hamil, kita maklumi aja." tutur kata papah Adi seperti nasehat untuk Ghifar.
"Terserah kau, Cendol. Setiap hamil, kau berubah menyebalkan."
Aku malah terkekeh geli, melihat Ghifar kesal dan pasrah seperti itu.
Hingga beberapa saat kemudian, dua mobil ini menepi di gang yang berada di belakang SMPN 12 Lhokseumawe. Ghava membawa rombongan juga. Ia bersama Ghavi dan Zuhdi.
Gavin dan Gibran sudah berada di pesantren. Mereka bahkan tidak tahu apa-apa, bahwa ibunya pergi dari rumah.
Tapi aku heran juga. Padahal mas Givan hanya sesekali menyebutku Cendol. Tapi, keluarnya sampai tahu semua dengan sebutan itu.
"Coba aku turun aja ya, Pah? Aku tanya kali ya?" aku harus terlihat memiliki semangat tinggi untuk bertemu mamah, agar nyali papah Adi tidak menciut.
__ADS_1
"Ngomongnya pakai bahasa Aceh, Dek."
Waduh, mana bisa aku.
Aku sudah turun dari mobil, "Pue haba kah, Pah?"
Ghifar tertawa geli, "Tanya alamat, bukan tanya kabar." tukasnya kemudian.
"Bahasa Indonesia juga tak apa kali." aku merapihkan hijabku dengan berkaca pada spion mobil.
"Ya udah, terserah kau lah."
Aku langsung beraksi, mencari sasaran untuk aku tanyakan alamat.
"Permisi, Bu." aku tersenyum pada seorang ibu-ibu yang tengah berjalan dengan menenteng seikat kangkung.
"Ya, Dek." beliau memakai kerudung besar.
"Alamat ini di mana ya, Bu?" aku telah menuliskan alamat rumah mamah Dinda, pada secarik kertas saat di rumah.
Aku sudah mempersiapkannya.
"Ya, betoi. Siapa yang dicari? Namanya?"
Memang provinsi ini bisa menggunakan bahasa Indonesia. Persis seperti suku Jawa. Di mana logatnya pasti terbawa, sekalipun menggunakan bahasa nasional. Bukan masalah, itu terlihat unik dan menarik. Aku sudah jatuh cinta dengan provinsi ini. Apalagi, tentang syariat Islamnya.
"Ibu Dinda. Yang baru pindah, sekitar satu mingguan. Orang dari Bener Meriah itu, Bu." aku tersenyum manis.
Ibu itu seperti berpikir, "Bukan ibu-ibu tapi, Dek. Takut salah orang Ma. Coba tanya sama pak RT aja langsung. Rumahnya, ada plat tulisan ketua RT-nya. Masuk aja gang itu, Dek."
Ibu itu menyebut dirinya 'Ma' ia pun menunjuk gang yang persis di depan mobil Ghifar terparkir ini.
"Oh ya. Teurimong geunaseh, Ma." aku menangkupkan kedua tanganku di depan dada.
Ibu tersebut tersenyum manis.
Ia mengangguk samar dengan melakukan hal yang sama, "Sama-sama, sama-sama."
Kemudian, kami sama-sama bubar jalan. Aku hanya menoleh ke mobil Ghifar, kemudian aku menyebrang ke pemukiman penduduk.
Benar, dua rumah dari jalan ini. Ada papan nama, di salah rumah yang bertuliskan ketua RT.
Ok, langsung saja aku menyerbunya.
"Assalamualaikum. Permisi, Pak." aku menyapa seseorang yang duduk di rumah itu.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam. Ya, Dek." ia malah memerhatikan perutku.
Apa di pikirannya, seorang adik kecil bisa hamil? Tapi aku sudah tua, aku bukan adik kecil terus.
"Pa, Saya dengar ibu Dinda tinggal di RT ini ya?"
Ia mengerutkan keningnya, "Adek siapanya ya?"
"Saya anaknya dari Bener Meriah, Pak. Kenawat Redelong." jelasku dengan memamerkan senyum lebarku.
Bapak tersebut mengangguk, "Asli orang Cirebon bukan ya? Soalnya di sini ada rumah lama kosong, baru ditempati sama yang namanya Adinda itu. Ya setahu Saya juga, rumah itu memang sudah dibeli dengan orang bernama Adinda."
Apakah Adinda itu ibu mertuaku?
"Ya, Pak. Bisa antar Saya ke rumah itu? Biar Saya pastikan sendiri itu ibu Saya bukan." aku sudah ingin rebahan sebetulnya.
"Betulkah ibunya sendiri? Kok anaknya tak tak di mana ibunya tinggal?"
Ah, benar sekali.
"Saya baru pulang dari Kalimantan, Pak. Lepas sampai rumah di Kenawat Redelong, rumah ibu Saya kosong. Saya sebelumnya lama ikut suami, Pak. Jadi memang lama tak ada kabar sama ibu." entah alasan ini masuk akal tidak.
Beliau manggut-manggut, "Mari-mari. Biar Saya antar." bapak yang bersarung tersebut berjalan mendahului.
Aku langsung mengikutinya. Saat melihat mobil Ghifar, aku sengaja melambaikan tanganku. Agar mobil tersebut mengikutiku.
Sangat peka. Dua mobil berwarna putih itu, langsung berjalan perlahan masuk ke gang masuk satu mobil ini. Kendaraan itu, sampai berbaris rapi, agar tidak menyenggol tong sampah, yang berada di depan rumah orang.
Rumah kedua sebelum ujung gang, menjadi tempat yang dituju oleh pak RT ini.
"Rumahnya ini, tapi tak tau orangnya ada di rumah tak. Tapi, itu ada mobilnya sih. Keknya abis kecelakaan ya? Kap mobilnya ringsek parah."
Ah, aku ingin menangis melihat mobil itu. BL 3117 YR membuatku langsung cengeng. Akhirnya, aku menemukan keberadaan ibu mertuaku yang galak.
Eh, salah. Yang baik.
"Nah, itu ada yang duduk di depan rumah." pak RT menunjuk seseorang.
Aku melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah ini. Karena jika dilihat dari luar saja, tidak begitu jelas. Rumah ini berpagarkan rumput yang begitu tinggi. Ilalangnya, bagai di rawa-rawa.
Namun, mataku membulat sempurna. Apa-apaan ini? Maksudnya bagaimana? Apa ibu mertuaku memiliki rahasia di balik tindakannya ini?
Kenapa ada.....
...****************...
__ADS_1