Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD280. Merenggang


__ADS_3

Abang capek.


Aku langsung lesu, mendapat balasannya yang seperti itu.


"Biyung... Sama kakek yuk?" Chandra manggut-manggut, ia membujukku agar mau mengantarnya bermain bersama kakeknya itu.


"Mana kakek?" aku mengedarkan pandanganku.


"Tuh...." Chandra menunjuk ke arah Riyana Studio.


"Main yuk?" ia menarik-narik tanganku.


"Adek Ceysa lagi anteng, Bang." aku menunjuk Ceysa yang tengah duduk dengan memainkan krayon milik Chandra.


Ia tengah asik menggosokkan krayon tersebut ke kuku tangannya. Entah siapa yang mengajarkan.


"Biar aku temani Ceysa, Mbak ke sana aja." Ria muncul, dengan semangkuk bakso berkuah sangat merah itu.


"Makan bakso sendiri aja kau!" sindirku kemudian.


"Orang keliling, di belakang rumah itu. Sana pesan aja." sahutnya enteng.


"Tak usah, Mbak tak pengen. Jagain Ceysanya, Mbak mau ngeladenin Chandra dulu."


Ria hanya mengangguk, ia asik menikmati santapan pedasnya itu.

__ADS_1


"Pah, Chandra minta sama Papah." aku sudah berada di jangkauan papah Adi.


"Sini." papah Adi melambaikan tangannya ke arah cucunya itu.


Aku membantu Chandra, untuk lebih dekat dengan papah Adi.


"Rumah mas Givan ngadep mana, Pah?" tanyaku basa-basi.


Chandra sudah digandeng oleh papah Adi, "Searah kek rumah Ghifar. Sejajar gitu, tapi ada halaman samping. Karena kan rumah Ghavi, ngebelakangin rumah Givan. Nanti kalau ada rumah lagi di ujung, bentuk rumah-rumah itu kek huruf W." terang papah Adi kemudian.


Aku mengerti penjabaran beliau.


"Rencana Givan, itu buat rumahnya. Kek rumah pusaka gitu, kek rumah Papah gini. Nah, terus nanti kanan kirinya rumahnya anak-anaknya. Ya mungkin, tak sebesar bangunan punya dia nanti. Kau paham tak konsepnya?"


Aku menggeleng, dengan menatap bingung pada beliau.


Penjelasan yang sangat lugas.


Aku mengangguk, "Paham, Pah." sahutku kemudian.


"Yuk, Bang? Ke sana sama Kakek, ada abu sama panda di sana." papah Adi menunjuk pojok bangunan milik Ghifar.


Dahiku mengkerut, "Ada bang Ardi di sana, Pah?" tanyaku heran.


Papah Adi mengangguk, "Ada, setengah empat udah pada pulang. Udah sih lima belas menit, dia ada di sana sama Zuhdi."

__ADS_1


Moodku hancur.


"Aku urus Ceysa dulu ya, Pah?" aku beralasan untuk undur diri.


Papah Adi mengangguk, "Biar nanti Chandra sama Papah."


Papah Adi melangkah, dengan menggandeng tangan Chandra. Mereka perlahan menjauh. Lantas, aku langsung bergerak kembali ke ruko.


Aku sudah murung saja, dengan memandang bangunan di sana. Aku berharap bang Ardi muncul, dengan menyunggingkan senyumnya.


Tumben apa, ia sampai mengatakan lelah. Saat aku memintanya, untuk mengunjungiku.


Jika ia benar-benar lelah, ia pasti mengatakan untuk berkunjung dengan waktu yang ia tetapkan sendiri. Contohnya, jika aku memintanya datang lepas ashar. Ia akan mengatakan, bahwa ia akan datang lepas maghrib atau isya, dengan alasan ia ingin meluruskan pinggangnya dulu.


Hingga beberapa saat kemudian. Waktu sudah menunjukkan akan maghrib. Chandra digandeng papah Adi, mereka berjalan menuju rumah mamah Dinda.


Kan?


Aku bisa melihat dari sini, bang Ardi malah memilih jalan memutar. Ia malah melewati jalan dari sebelah kanan rumah mamah Dinda, sedangkan rukoku berhadapan dengan jalan sebelah kiri rumah mamah Dinda. Sedangkan Zuhdi, ia malah ikut masuk ke halaman rumah mertuanya bersama papah Adi.


Padahal, lewat dari jalan sebelah kanan rumah mamah Dinda itu lebih jauh. Tapi, bang Ardi memilih jalan itu. Aku jadi memiliki curiga jelek.


Aku berpikir, bahwa bang Ardi sengaja untuk tidak bertemu denganku. Ia menghindariku.


Aku jadi memikirkan, bagaimana nasib hubunganku selama tiga bulan belakangan ini. Aku khawatir, hubunganku kandas begitu saja. Aku khawatir, ia malah mundur dengan alasan yang tidak jelas.

__ADS_1


...****************...


Ardi kenapa ya? Jadi ikut galaunya aja 😢


__ADS_2