
Aku, mas Givan dengan Ceysa, papah Adi dan juga pak Ahmad duduk melingkar di depan meja yang digunakan untuk akad nikah besok.
"Maharnya, kau minta apa Dek?" tanya papah Adi dengan memperhatikan wajahku.
"Bapa... Jajan." tangis Ceysa pecah dengan mengangkat kedua tangannya ke arah Ghavi, yang baru saja melewati kami.
Ghavi adalah rekan kerja bang Daeng juga. Ceysa kenal akrab dengan Ghavi, karena sering diajak bang Daeng saat rapat di kantor Ghavi.
"Uhh, manjanya anak Bapa." Ghavi langsung menyambut Ceysa.
Ceysa langsung berpindah ke dekapan Ghavi.
"Dimakan tak sih ribut jajan aja tuh?" tanya papah Adi, tangannya terulur untuk menghapus air mata Ceysa yang berada di gendongan Ghavi.
"Diberantakin dulu, Pah. Nanti baru dimakan. Tapi lebih banyak yang terbuangnya, dari pada dimakan." jawab Ghavi dengan mengusap wajah Ceysa yang bercampur ingus.
"Ya udah kau bawa dulu sana. Papah lagi ada perlu sama Candanya dulu." Ghavi mengangguk, setelah mendengar penuturan dari papah Adi.
"Jadi, apa dan berapa Dek?" mas Givan kini buka suara.
Sejujurnya, aku takut ia keberatan dengan amanat dari bang Daeng ini.
"Terserah Mas aja." aku tidak pernah menuntut masalah mahar.
"Jangan terserah, wanita wajib menuntut di sini." tambah papah Adi.
"Iya, barulah disesuaikan dengan kemampuan laki-lakinya." tambah pak Ahmad.
"Seadanya harta yang Mas punya digenggam aja." aku tidak mungkin meyebut mas Givan dengan sebutan kau, seperti keakraban kami. Karena tengah ada pihak luar, yang bukan family dari keluarga kami.
"Yaaa, ada banyak ya."
Papah Adi dan pak Ahmad tertawa renyah mendengar jawaban mas Givan.
"Tinggal sebut aja, Canda." tutur papah Adi kemudian.
Aku tidak ingin emas, karena akan terjual. Aku tidak ingin uang, karena akan terpakai. Apa lagi mobil, yang jelas bisa rusak.
"Kalau tanah gimana, Pah?" aku fokus memandang wajah papah Adi.
"Kau ikutin jejak penggrebekan mamah ya?! Tanah! Tanah! Tau aja harga tanah humus udah tembus sepuluh miliar perhektarnya."
Aku sebenarnya biasa saja mendengar tanggapan mas Givan yang sering nyolot seperti ini. Hanya saja, aku malu karena ada pak Ahmad.
__ADS_1
"Kasihlah tanah gambut, cuma empat miliar persatu hektare." saran itu keluar dari papah Adi.
"Boleh tak sih kalau pakai tanah warisan, Pak?" mas Givan memandang pak Ahmad dengan serius.
"Tanah warisan gimana? Masih punya orang tua? Belum dibagi?" tanya pak Ahmad beruntun.
"Bukan, Pak. Jadi tuh, aku kasih ke Givan empat hektare dulu sejak dia kecil. Pas udah dewasa, aku biarkan dia buat urus ladang bagiannya sendiri. Udah hak milik dia. Dulu sih, hasil ladangnya aku tabungin buat dana pendidikannya. Tapi sekarang kan, aku tak tau-tau lagi. Karena Givan sendiri yang atur dan urus." terang papah Adi kemudian.
"Teungku haji masih punya hak milik atau tak?"
Antara orang tua tersebut tengah serius berbincang.
"Yaaa, udah punya Givan. Sertifikat, akte tanah, udah di dia semua."
"Ohh, ya boleh." jawab pak Ahmad.
"Tapi alangkah baiknya, kalau berupa emas aja kek umumnya daerah sini."
Emas maharku terjual. Aku takut itu terulang, apa lagi menjalani bahtera rumah tangga dengan orang yang masih sama.
"Aku minta tanah aja, Pak." aku ingin sedikit keras kepala di sini.
Sekalipun terjual, harganya tidak akan turun.
"Kasih aja perusahaan kau satu." ujar papah Adi enteng.
Jika papah Adi orangnya, mungkin akan memberikan segalanya untuk istrinya. Tetapi, aku tidak yakin dengan bentuk mas Givan.
"Enak aja. Aku mati, bisa-bisa dia nikah lagi nanti. Aku bukan Lendra, yang main kasih-kasih aja. Anak aku banyak loh, Pah. Ada tiga, belum si Unyil juga nanti. Ayahnya sarjana loh ini, Pah. Kan jangan sampai anaknya di bawah pendidikan ayahnya. Aku belum aman dana mereka sampai SD juga, apa lagi pendidikan mereka sampai sarjana. TK aja, udah berasa uangnya."
Ya jelas, apa lagi TK tempat Key bersekolah adalah TK terbaik. Katanya itu juga.
Tapi sudah terbaca sih, mas Givan tidak akan mengikhlaskan hartanya untukku.
"Lahan kau memang tak ada kah?" papah Adi bertanya pada anaknya itu.
"Empat hektare dari Papah, aku nambahin dua pas awal tahun kemarin. Tapi di sana, di gampong sebelah. Tanah sawah, beli lewat Ghavi." terang mas Givan.
"Ya udah, kasih enam hektare. Setelah nikah, biar Papah yang urus sertifikat sama akte tanah itu atas nama Canda."
Tuh, jika papah Adi langsung seperti ini.
"Mamah dulu mahar lima hektare kan? Kok aku beli istri, banyak kali keluar uang?"
__ADS_1
Rasanya aku ingin menjitak kepalanya. Berdebat melulu kegiatannya.
"Mak kau sembilan hektare. Kau ikhlaskan buat mahar, bisa jadi tembus jadi seratus tujuh puluh hektare. Itu berjangka, jodoh kau sampai mana."
Pak Ahmad sampai geleng-geleng kepala melihat perdebatan mereka. Ya setidaknya, ada sedikit hiburan dalam balutan kesedihanku hari ini.
"Kalau modelan Canda, Papah yakin dia bisa lipat gandakan ladang? Modelan mamah gitu kan, anak aja bisa dilipat gandakan, apa lagi harta."
Mulai.
Mas Givan memang selalu cari gara-gara.
"Ya kenapa kau mau?!" papah Adi menarik telinga anaknya, "Kesel betul sama satu anak ini." suaranya menggerutu.
"Udah gini aja, kau mau tak ngewujudin amanat Lendra? Kalau tak, mending batal aja. Tak mau Papah, kalau Canda sampai jadi janda kau lagi. Mending sekalian Papah carikan dia bujang kaya."
Aku jadi merasa disayang papah Adi.
"Mau. Aku tak muluk-muluk, aku nyari yang nurut. Bentuknya kek mana lah, yang penting enak dipandang, dari pada implan."
Wow, aku tahu siapa yang mas Givan maksud itu.
"Ya udah. Enam hektare maharnya." putus papah Adi.
"Iya, Teungku haji. Saya tuliskan dulu, Pak." pak Ahmad mengeluarkan sesuatu dari saku baju kokonya.
Ia menulis dengan pena yang ia kantongi juga.
"Nanti besok, buat foto pakai buku nikah Lendra. Buku nikah kalian nanti, jadinya munggu depan. Punya kau juga diperbaharui, karena beda mempelai."
Aku mengangguk, "Iya, Pak." aku cukup memahami.
Ghifar muncul dengan Zuhdi.
"Udah jadi kuburnya. Langsung aja, Pak. Biar cepat dibenahi." Ghifar langsung memberi perintah pada pak Ahmad.
"Oh iya, iya. Ayo, disholatkan dulu." mereka bubar dalam barisan.
Jadi, setelah ini aku benar-benar tidak akan bisa melihat dan bertemu dengan bang Daeng lagi?
Ini seperti mimpi untukku.
...****************...
__ADS_1