
Di Samarinda, kini kami berada. Selang infus sudah terpasang, dengan aku mengenakan baju pasien.
Ini memang bukan inginku. Hanya saja, hatiku mungkin bisa puas karena hal ini.
Satu yang aku ingat, saat masa nifasku habis. Ketika aku dan mas Givan mulai melucuti pakaian satu sama lain. Mas Givan begitu terheran-heran, saat mulai merentangkan kedua kakiku.
Kok ngebuka?
Aku mulai khawatir, saat mulutnya mengatakan hal itu. Aku tak ingin melanjutkan hubungan biologisku saat itu, hanya saja mas Givan menuntut ini dariku.
Pada saat penyatuan, ia mengatakan....
Tak berasa, tak gigit.
Ucapan itu melebur sempurna atas pengorbananku untuk melahirkan keturunannya. Jika memang aku demikian, harusnya ia tahan ucapan itu di kerongkongannya.
Dengan keluarnya ucapan itu, aku merasa menyesal telah memberinya keturunan.
Tanpa berucap, harusnya ia berusaha membuatku seperti yang ia inginkan lagi.
Bukan hanya hatiku, jiwa, raga dan pikiranku tersakiti selama lima tahun bersamanya.
Ia didikan seorang laki-laki yang begitu menyayangi istrinya. Tapi, ia tidak mencerminkan bagaimana didikan yang ia dapat selama ini.
Apakah keturunan laki-laki pengkhianat, akan menjadi pengkhianat lagi?
Aku rasa itu tidak. Tapi, nyatanya darah lebih kental dari pada air.
Air bening yang selalu ia teguk tiap hari, tidak lebih kental dari darah yang mengalir di dalam tubuhnya.
Sehebat apa papah Adi mendidik. Nyatanya, sifat jelek dari papah Mahendra tetap tertanam di diri mas Givan.
Mereka berdua sama-sama menyakiti hati pasangan hidupnya.
Mahadevan, Madhava, Mavendra dan Maheswara, saudara satu ayah dari mas Givan. Tidak jauh lebih baik, dari sifat mas Givan yang aku tahu.
Mereka semua sama-sama pernah gagal dalam menjalani rumah tangga.
"Abang temani." aku menoleh pada seorang laki-laki yang baru muncul, dengan senyum merekah.
"Tapi, Bang. Tadi kata susternya tak boleh." aku tak memungkiri, bahwa aku memang tengah dilanda ketakutan.
__ADS_1
Ujung jari kaki dan tanganku pun, rasanya begitu membeku.
"Boleh." terlihat bang Lendra sudah mengenakan pakaian medis khusus ruang operasi.
"Chandra sama siapa, Bang?" tanyaku kembali.
"Raya, di depan." bang Lendra memutar kepalanya, saat menunjukkan arah letak Chandra berada.
"Bius total, Pak." para petugas medis mulai bermunculan.
Aduh, aku menjadi semakin was-was.
"Jangan tegang ya, Bu. Prosesnya sebentar kok." perawat laki-laki tengah memberi suntikan pada selang infusku.
Aku mendongak, untuk melihat keberadaan bang Lendra. Ternyata ia tengah berdiri tak jauh dari letak kepalaku.
"Abang gak bisa terlalu dekat."
Itu ucapan terakhir, yang terekam di telingaku. Sebelum aku benar-benar pulas sementara waktu.
~
"Iyyaaka na'budu wa lyyaaka nasta'iin. Ihdinas-Siraatal-Mustaqiim. Siraatal-laziina an'amta 'alaihim ghayril-maghduubi 'alaihim wa lad-daaalliin."
"Aamiin."
Aku menoleh ke arah kanan. Terlihat bang Lendra tengah mengusap-usap dada Chandra, yang tertidur di sebelahku. Sedangkan dirinya, ia duduk bertumpu dagu pada tepian ranjang.
Matanya pun terpejam, meski sepertinya ia tidak tengah tidur. Bang Lendra sepertinya hanya mengantuk saja.
Ia bisa mengaji?
Seseorang yang terlihat buruk, dengan maksiat yang menyelimutinya. Rupanya bisa mengaji?
"Bang...." aku merasa suaraku sedikit serak.
Bang Lendra langsung membuka matanya, lalu ia tersenyum padaku.
"Bentar ya? Dicek dulu." bang Lendra bangkit dan berlalu pergi.
Aku sempat kege'eran padanya. Karena ia begitu baiknya dan lapang mengasihiku dan Chandra.
__ADS_1
Tapi, aku sadar diri. Saat ia tengah berbicara dalam telepon dengan seseorang, yang berstatus sebagai pacarnya.
Lembutnya suara yang ia lantunkan. Perhatian yang tiada duanya, ia berikan pada Putri. Bahkan, rekening Putri pun disuntikkan dana olehnya. Agar Putri tidak melanjutkan sesi marahnya pada bang Lendra, bang Lendra langsung meminta Putri untuk berbelanja.
Kadang aku berpikir, bagaimana jika Putri tahu? Bahwa kekasihnya begitu dekat dengan teman wanita dan anaknya. Dengan kak Raya pun, ia selalu bercerita dan terbuka mengenai masalah dan kebahagiaannya.
Beberapa petugas kesehatan masuk, ia langsung memeriksa kondisi tubuhku. Beberapa pertanyaan pun, mereka lontarkan padaku.
"Kita observasi dulu." dokter tersebut berbicara pada bang Lendra.
Bang Lendra hanya mengangguk dan tersenyum ramah. Kemudian rombongan petugas kesehatan tersebut berlalu pergi, dengan membawa alat medis yang mereka bawa.
"Inget sakitnya ya? Jangan mudah dikang*angin laki-laki!" bang Lendra duduk di kursi yang tadi ia duduki kembali.
"Kalau bisa, tembus perawan kalau udah sah dinikahi. Jangan dulu ho'oh Adek mau, yang penting nikahnya sama Abang. Jangan, Dek! Jangan kek gitu. Laki-laki mudah pergi, bahkan dengan alasan karena kau belum mandi." ungkap bang Lendra dengan mengusap kepalaku.
Aku merasa seperti adik kandungnya. Seperti mas Givan ataupun Ghifar, yang begitu mengasihi dan menyayangi Giska. Bahkan, cekcok sedikit dengan Zuhdi pun. Para kakak-kakaknya langsung mengajak Zuhdi berbicara, lalu mencari jalan keluar permasalahan rumah tangga mereka.
Terlihat rumah tangga Giska dan Zuhdi seperti terlalu dicampuri oleh para kakaknya. Namun, sebenarnya tidak demikian. Para kakaknya hanya menegur atau mencarikan jalan keluar, jika terlihat antara Zuhdi dan Giska tengah cekcok.
"Abang berapa bersaudara?"
Aku sengaja mengajaknya mengobrol, agar mataku tidak begitu berat.
"Dua, tapi adik Abang meninggal sejak kecil. Terus ammak diceraikan, dikira gak bisa urus anak. Padahal kan, mungkin adik meninggal udah takdirnya." ujar bang Lendra dengan raut sedih.
"Kok bisa?" aku masih memperhatikan wajahnya.
"Jadi orang tua Abang ini, khususnya ammak. Dia ini gak tau, kalau bayinya punya kelainan di saluran nafasnya. Entah kek mana ceritanya, lepas mandi itu anak pingsan. Dibawalah ke rumah sakit, katanya udah gak ada. Mangge gak terima, diotopsi lah adik Abang. Katanya paru-parunya penuh air, mungkin ASI gitu katanya. Ditanya kan ammak, tenggelam kah, atau mandinya gelagapan kah. Katanya gak, aman aja, karena mandinya cuma bilas. Jadi otopsi lebih dalam, ternyata memang ada kelainan di saluran pernafasannya. Itu tuh masih bayi, tali pusar masih nempel. Jadi, ammak meninggal tuh masih dalam kondisi nifas. Udah ditinggal adik, padahal baru seneng punya adik baru, sama kek temen-temen, ada punya adik kecil. Harapan Abang, main ajak adik, kek temen-temen sebaya di kampung sana. Adik belum besar, udah diambil lagi. Udah kek gitu, tak lama disuruh milih, mau ikut ammak apa mangge. Gak sampai di situ, ammak meninggal dunia dalam masa iddah, dalam kondisi nifas. Jadi kek, bertubi-tubi gitu ditinggal orang terdekat. Meski mangge gak meninggal juga, Abang ngerasa kehilangan figur ayah, karena mangge tuh langsung jadi TKI ke luar negeri. Abang tuh besar sama dato' sama nene dari ammak, tapi mereka non muslim. Makan b*bi, daging lain-lain yang gak halal, langsung masuk mulut. Karena memang, masih kecil gak paham agama. Padahal tuh, Abang lima tahun udah ngucapin dua syahadat. Lepas lulus kuliah, barulah milih buat merantau. Awalnya serabutan, segala jadi tukang tambal ban. Terus mangge pulang, tapi memang dia tak nikah lagi. Dibawa mangge ke Banda Aceh, nganggur Abang, jadi benalu buat dia. Di situ, barulah mulai belajar agama yang Abang peluk sejak umur lima tahun itu. Mana kan, di situ Abang baru paham kalau tato dilarang dalam Islam. Mau dihapus, katanya gak boleh kalau nyakitin diri sendiri. Jadi ya, udahlah. Dibiarkan aja, yang penting gak nambahin tato lagi. Terus dapat kerjaan dari mangge, tapi beda PT. Abang diminta lah tinggal di Padang, karena PT ada di Padang. Sedangkan mangge, dia kerja di PT yang Banda Aceh. PT bergerak dalam bidang yang sama, supplier barang ke kota maupun mancanegara. Bedanya, Abang barang rempah, sama produk biji-bijian. Kalau mage, dia main di barang kerajinan, sama SDA dari provinsi itu. Tapi sekarang dia lagi di Sumenep, dia lagi ditugasi di daerah itu sama PT-nya."
Lalu ia tersenyum padaku, yang masih mencerna setiap ceritanya dengan seksama.
Lebih tragis trauma hidupnya. Aku menarik kesimpulan, bahwa ia menginginkan adik kecil. Makannya, ia selalu ingin dekat dengan Chandra. Tidur pun, ia selalu memeluk Chandra.
"Kalau keluarga kau gimana? Kenapa gak pulang ke Jawa, kalau memang asli orang Jawa?"
Apa harus aku ceritakan segala hal menyedihkan yang menimpaku?
Apa harus juga, aku bercerita tentang bibi Hana yang membuatku bisa terdampar dengan laki-laki sialan itu?
"Aku......
__ADS_1
...****************...
Ya Allah, bang Lendra..... 🥺