
"Tak enak hati sama mamah sebetulnya aku." mas Givan mengendarai mobil keluarga dengan berpangku dagu.
"Tapi mamah pengertian, Mas."
Ada sedikit drama di sana. Mamah Dinda melarang cucunya yang gondrong itu untuk ikut kami berlabuh ke Sabang. Alasannya macam-macam, khawatir kami ceroboh lah, khawatir Chandra rewel lah. Yang mungkin intinya, agar kami memiliki waktu.
Ceysa masih kecil, ia pun masih rutin tidur siang. Tidur malam pun ia cepat, jam tidurnya masih lumayan banyak. Dengan membawa Ceysa saja, mungkin pikir mamah, aku dan mas Givan pasti memiliki waktu bersama.
"Kita harus bawakan banyak barang buat mamah, itung-itung ucapan terima kasih jaga Chandra gitu. Karena mamah kan tak diupah." mas Givan menoleh ke arahku.
Ya, aku paham. Ibu diupah untuk menjaga Zio. Mungkin banyak barang untuk mamah, tetapi tidak terlalu banyak untuk ibu.
"Nanti Ria aku bawa sekolah paket ya? Dia harus punya kompetensi dasar, ya setidaknya ada bukti ijazahnya."
Tapi pikiranku masih mengarah ke arah ibu.
"Tapi ibu juga dibawakan barang, Mas. Aku sakit kemarin, diurus dimandikan ibu."
Namun, ia tertawa lepas.
"Jadi kau pikir, dengan aku tadi bilang bawa barang banyak untuk mamah. Kau berpikir, ibu jangan dibawakan barang begitu?"
Aku mengangguk, karena itu yang ada di pikiranku.
"Kalau aku masih berpikir demikian. Kalau aku masih berpikir, ibu kau ya ibu kau, mamah aku ya mamah aku. Rasanya tak mungkin aku pikirkan untuk ambil Zio dari beliau, terus aku cari pengasuh."
Aku tidak mengerti, tapi aku takut mengutarakannya.
"Rencana ambil Zio gitu kan, aku mau jatah ibu kek aku jatah uang jajan mamah. Aku anak laki-laki, aku masih milik ibunya meski udah nikah. Ibu kau pun, bakal aku anggap ibu sendiri. Semampu aku, aku bakal jamin keduanya. Berbakti sih pasti, tapi aku kerja ke sana ke mari. Perhatian pasti aku kasih, tapi finansial semampunya bakal aku tunjang."
Tolong, Mas. Berbicara pada intinya saja. Aku tidak mengerti.
"Jangan sampai aku turunkan kau di tengah jalan ya, Canda! Diajak ngobrol tuh nyahutin coba!"
Aku menoleh dengan tersenyum manis, "Iya, Mas."
"Kau dukung aku tak?"
Apa sekarang sudah pemilu?
"Dukung bagaimana, Mas?" aku memandangnya, lalu melirik ke arah jalanan di depan mataku.
Ia membuang nafasnya, "Ya dukung aku buat jatah mamah dan ibu! Kau gimana sih, Cendol! Bikin aku naik pitam aja. Kau tau aku emosian, segala tak mudeng-mudeng juga."
Aku tertawa geli, kemudian memukul pelan lengannya.
"Maaf, Mas. Iya, iya. Aku dukung kok, yang penting tak berat sebelah. Nanti ada kecemburuan sosial."
Nah, begini kan lebih enak. Jangan muter-muter dengan maksud yang gampang. Kan aku jadi pusing sendiri.
__ADS_1
"Iya! Udah lah sana kau tidur! Aku kesel jadinya."
Mas Givan edan eling.
"Ok, Mas. Makasih ya?" aku cekikikan sendiri
"Malah makasih segala! Memang dasarnya tukang tidur!" ia menggerutu hebat.
Setidaknya, aku lebih rileks saja menyikapi sifat aslinya. Aku sudah tidak shock, apa lagi membatin seperti Canda yang dulu.
Ya meski sedikit menggerutu juga, tapi aku bisa langsung menanyakannya. Tanpa alasan takut dibentaknya lagi. Karena memang wataknya mas Givan yang mudah terpancing emosi. Bentak-bentak pun, akan reda dalam waktu dua menit. Ia bisa marah, lalu tertawa bersamaku lagi.
Akhirnya, sampailah aku di salah satu surganya ujung Sumatera ini.
Ceysa seperti linglung, ia kebanyakan menoleh terheran-heran pada tempat yang indah ini.
"Mau vila yang kek gimana, Dek?" kami bersantai sejenak di tempat makan.
"Yang pintu sama jendelanya kek minimarket, kaca semua gitu. Temboknya sedikit, banyakan kaca." aku tersenyum lebar saat mengatakannya.
"Shttttt.... Jangan kuat-kuat. Malu. Kan ketahuan dari kampungnya." ia berbicara pelan dengan tertawa geli.
"Abisin kentangnya, Dek. Terus naik mobil lagi, kita cari villa." mas Givan mengusap mayones yang menempel di pipi Ceysa.
"Aju alu." Ceysa menunjuk penjual kaos yang memiliki sablon dan warna pelangi tersebut.
"Adek Ces mau?"
"Yuk?" mas Givan menggendong Ceysa, lalu berjalan ke arah penjual pakaian dan cindera mata tersebut.
Celana chino pendek warna cream, dengan betis mulus kuning cerah. Mas Givan seperti Chindo.
Belum lagi kacamata hitam yang nangkring di pa*gkal hidungnya, ditambah baju berkerah yang dikancing semua. Membuatnya menjadi pusat perhatian semua orang.
Rasanya aku ingin mengantonginya saja. Agar ia tidak dilirik perempuan manapun.
Sayangnya, semua orang pasti tidak menyangka bahwa Ceysa adalah anaknya. Karena jelas perbedaan wajah dan warna kulitnya.
Namun, Ceysa tetaplah kenang-kenangan terindah dari yang kuasa untukku.
Mereka kembali, dengan mengenakan baju yang couple yang menarik perhatian Ceysa lagi. Mereka langsung memakainya, tanpa melepas baju mereka.
Seperti anak reggae.
"Dek li anyak, Iyung." Ceysa tersenyum senang.
"Yuk ke mobil, Biyung." mas Givan mengulurkan tangannya.
Aku langsung menyambutnya, kemudian mengikuti tarikan tangannya itu. Kebetulan juga, pesanan makanan kami sudah dibayar diawal. Selesai makan, kita bisa langsung pergi seperti ini.
__ADS_1
"Adek Ceysa mau jajan apa?" aku mengusap-usap surainya.
Ceysa tidak betah memakai kerudung.
"Buba." Ceysa sampai bertepuk tangan.
"Buba terus. Jangan es dong." ujar mas Givan, sembari memutar setir mobilnya.
"Ijoy." Ceysa mengambil pilihan yang dulu selalu membuatku emosi.
Bagaimana tidak emosi, si Ijoy itu letaknya ada di depan kasir. Key kecil selalu mengambilnya, tanpa meminta izin dulu padaku.
Mana saat itu aku membawa uang pas. Untungnya, Key bisa dipaksa untuk menaruh kembali si Ijoy itu.
"Beli berapa?" tanya mas Givan.
Gaya sekali ia menawari jumlahnya.
"Anyak. Wat Dek, wat bang Da, wat bang Iyo, wat Euke, wat Emin, Wat Kal, Khap." kami tertawa lepas, saat Ceysa menyebut nama Kaf.
Aku teringat sawadikhap.
"Di villa itu aja ya, Canda? Viewnya bagus, temboknya kaca juga." mas Givan menunjuk villa yang berada di sisi kiri jalan.
"Okeh, Mas."
Mas Givan langsung memesan satu kamar, dengan aku yang terus mengekorinya hingga ke kamar kita.
"Ikut kapal yuk. Kita keliling ke Pantai Tapak Gajah, Pantai Sumur Tiga, Pantai Ujong Kareung, Benteng Jepang Anoe Itam, Pantai Anoe Itam dan Puncak Balohan buat foto-foto."
"Sekarang, Mas?" aku baru saja duduk di tepian ranjang.
"He'em, jam satu jalan. Setelah ashar selesai tour. Kita istirahat aja, terus besok snorkeling deh."
Mas Givan membuka tirai-tirai di kamar ini. Langsung begitu terang, pencahayaan langsung masuk.
"Kenapa padat kali jadwal kita? Apa kita tak bisa bebas? Lagi pun, aku tak bisa renang."
Mas Givan menoleh padaku dengan tatapan bodohnya. Hal itu membuat tawaku meledak.
"Lain kali kita ke Lot Tawar aja ya? Kita makan ikan bakar di sana." ia seperti menahan kegeraman yang akan memuncak.
Aku cengengesan, "Kita jalan kaki aja di pantai gitu." ini adalah tujuan awalku.
Aku suka berjalan kaki di pasir pantai.
Mas Givan menyugar rambutnya, helaan nafasnya begitu panjang.
...****************...
__ADS_1
Sabar, Van. Ini baru seminggu menikah 🤣