Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD112. Inisiatif


__ADS_3

"Aku kesel!" aku menajamkan bibirku.


"Apa sih? Belanja online kah?" ia memeluk guling, dengan menghadap padaku.


"Mana HP Adek? Sini Abang check out keranjangnya." lanjutnya dengan mengambil alih ponselku yang berada di dekatku.


Aku tidak butuh barang apapun! Setiap hari ada saja yang aku beli di toko, maupun di penjual pinggir jalan. Aku tidak kekurangan barang, maupun makanan.


Aku butuh dirinya memenuhi kebutuhan batinku.


"Kok kosong?" ia seperti terheran-heran.


"Aku lebih suka belanja langsung, dari pada beli online." ketusku kemudian.


"Hmm, gitu ya?" bang Daeng memindahkan guling tersebut ke sisi lainnya.


"Adek main HP, liat TV-nya jangan malam-malam ya? Jangan begadang! Abang istirahat duluan."


Hei, hei, hei!!!


Apa-apaan ini???


"Abang!!!!" aku menggoyang-goyangkan tubuhnya.


Matanya langsung terbuka kembali, dahinya berkerut memandangku.


"Apa, Dek?" nada suaranya masih begitu lembut.


Dari tadi aku memanggilnya, ia tidak menyahutinya dengan kesal.


Jujur, aku malu untuk mengatakan. Aku berinisiatif langsung mencium pipinya saja. Ini pun, adalah hal yang paling agresif aku lakukan padanya.


"Ok, selamat malam. Mimpi indah ya?" ia malah membalikkan ciuman yang aku berikan di pipinya.


Aku bukan memberinya ciuman selamat tidur!!!

__ADS_1


Aduh, ya ampun.


Hampir meledak aku rasanya.


Aku langsung meremas tengah-tengah tubuhnya begitu gemas. Biar saja ia kesakitan, ia harus paham bahwa aku ingin itu.


"Aduh, aduh..." ia langsung memegangi batangnya yang masih terkurung dalam celana itu.


Ia mengusap-usap miliknya, lalu melirikku dengan tersenyum geli.


"Apa sih Canda Pagi Dinanti? Main comot aja." ujarnya dengan tertawa kecil.


"Aku kesel!" aku langsung memunggunginya.


Semoga ia langsung paham maksud hatiku. Lalu ia berinisiatif memelukku dan menggodaku.


Hanya terdengar helaan nafasnya, dengan tempat tidur busa tebal ini yang sedikit bergoyang. Tidak ada pergerakan lain setelah itu, aku jadi curiga dengan bang Daeng ini.


Aku membalikkan badanku, agar menghadap ke arahnya. Namun, bang Daeng malah terpejam rapat.


Aku jadi teringat akan Putri dan kak Venya yang begitu agresif. Dalam artian, bang Daeng adalah suka dengan wanita yang menyerang dan mengajak lebih awal.


Jadi, haruskah aku seperti itu?


Tetapi, bagaimana jika bang Daeng malah menolakku? Seperti saat dirinya menolak kak Venya dan Putri.


"Bang..." aku mengusap dadanya yang masih terlapisi kemeja.


Bagaimana caranya merangsang?


Apa aku langsung naik ke atas pahanya?


"Abang...." aku membelai pelipisnya.


"Abang.... Aku kangen." aku mencium pipinya yang tadi sempat kucium.

__ADS_1


Aku yakin dirinya belum tertidur. Karena, jika dirinya terlelap. Bang Daeng akan mengeluarkan sedikit keringat di lehernya, juga mendengkur halus.


Aku menahan bobot tubuhku, dengan siku tanganku. Kepalaku condong ke arah wajahnya, aku ingin mengganggunya.


"I love you, Bang Daeng." aku mencium bibirnya sekilas.


Aku harus bagaimana lagi?


Ia masih tetap terpejam.


"Kalau gak love you, Abang gak mungkin transfer sampai satu gaji full." ia membawaku dalam pelukannya.


Bukannya aku meragukan perasaannya. Hanya saja, aku tengah mencoba membangkitkan rasa minatnya.


"Iya-iya, aku percaya." aku mencoba aktif di dalam pelukannya.


"Katanya tadi capek, kok gak tidur-tidur?" ia mengusap-usap punggungku.


Aku harus mencari cara apa lagi ini?


Aku malah teringat film dewasa yang aku tonton bersama Ghifar dulu. Perempuan di film itu, mendorong tubuh laki-lakinya. Lalu, ia segera memasukkan milik laki-lakinya ke intinya. Setelah itu, perempuan itu menunggangi laki-laki tersebut seperti mesin banteng dalam game.


Aku melepaskan pelukannya, lalu aku mendorong tubuhnya. Segera aku bergeser, agar aku bisa menekan tubuhnya, agar tetap berada di bawahku.


"Wow, wow, wow. Santai, Girl." mata bang Daeng langsung berbinar.


Ia tak melakukan perlawanan, ia diam dengan memandangiku saja.


"Begini kah aura pengantin baru?" ujarnya, saat aku menyatukan dahi kami.


Kami sama-sama tersenyum manis, hidung kami bergesekan pelan.


...****************...


Pada meleset 🤭

__ADS_1


Seperti kisah sebelumnya, novelku yang satu ini bakal cukup panjang. Contoh kecilnya gini aja, dari positif hamil, gak mungkin langsung melahirkan. Ada prosesnya, ada kesimpulan tersendiri untuk bisa mengetahui setiap tindakan di cerita ini. Mohon maaf, jika tidak sesuai keinginan di hati 🙏🙏🙏


__ADS_2