Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD231. Gandengan paten


__ADS_3

"Diinget pesan dokter. Kau ini!" papah Adi memberiku tatapan tajam.


"Ya, Pah." kami baru kembali dari apotek, untuk menebus resep dokter.


Janinku bergerak-gerak lebih sering. Dokter mengatakan, ia tengah stress. Aku harus bisa mengalihkan pikiranku dan membuat keadaanku selalu happy.


"Belanja tuh, Pah." aku melongok ke bangku depan.


Mamah Dinda duduk di samping suaminya, yang tengah mengemudi.


"Okeh." papah Adi memberikan jempolnya.


"Kal kalau belanja udah kek anak sultan. Langsung plung-plung, kek jeburin batu ke sungai." ujar papah Adi.


Kalista adalah cucu yang sering ribut dengan papah Adi. Kalista begitu berisik dan cerewet seperti mamah Dinda. Sampai-sampai, Kal sering dipisahkan. Ia selalu ada di lantai atas, untuk menghindari keributan dengan papah Adi. Papah Adi yang kolot, disandingkan dengan Kal yang pemaksa. Sudah pasti keributan sering terjadi.


Beberapa saat kemudian. Pikirkanku begitu plong, melihat jejeran rak make up.


"Mah, aku ke tempat sheet mask dulu." aku sudah mencangking satu keranjang belanja.


"Ya, ati-ati. Mamah ke perlengkapan laki-laki dulu." mamah Dinda menunjuk rak yang berada di paling kanan.


Di sana jejeran skincare untuk laki-laki berkumpul.


Aku langsung memasukkan sheet mask brand yang aku pakai, semua varian. Aku mendapat saran untuk menggunakan sheet mask ini, dari dokter yang melakukan laser wajah untukku. Ia mengatakan, rutin menggunakan sheet mask akan menjaga kelembaban kulit wajah dan membuat glowing. Sebenarnya, aku tidak tahu juga definisi glowing. Tapi, aku begitu mengidamkan memiliki wajah glowing. Ya seperti saat ini. Aku rutin menggunakan sheet mask dua minggu sekali.


Sebenarnya, masih ada sisa sheet mask yang aku miliki. Tapi, biarlah. Itung-itung untuk stok saja.


Aku menempatkan jariku di daguku. Apa lagi ya, yang aku butuhkan? Jika aku melihat-lihat produk, pasti aku merasa semuanya butuh.


Oh, iya. Aku harus membeli acne spot untuk Ria. Ia tengah dilanda jerawat pubernya.


Aku melangkah meninggalkan area masker ini. Namun, aku malah berhenti di area serum.


"Hei, cepet lah." aku kenal suara ini.


Aku menoleh ke kiri dan kanan. Jangan-jangan, ini hanya halusinasiku saja.


Aku melihat tato itu. Ia melangkah cepat, dengan mendorong bahu seorang wanita.


Bang Daeng.


Aku sesak melihatnya masih di sini.


Ia belum sempat mengajakku ke sini. Namun, ia malah mengajak perempuan lain.


Putri.


Sekarang ia adalah gandengan paten untuk bang Daeng.

__ADS_1


Meski bang Daeng memberikan serapahnya, akan menemuiku dan anakku lagi. Tapi, aku tidak yakin itu. Ia akan menjadi dudanya Putri pun, sepertinya begitu minim. Karena sekarang, ia dan aku sudah berpisah. Tidak ada alasan terbesarnya lagi, untuk meninggalkan Putri.


Malangnya nasib kita, Nak.


Aku mengusap-usap perutku. Semoga, anakku seperti mamah Dinda dan papah Adi saja.


Mas Givan ya, seperti mas Givannya. Bang Daeng ya, seperti bang Daengnya.


Aku berbalik badan, mencoba menepis pikiran yang merumit ini. Aku fokus untuk mencari serum saja. Meski aku masih memiliki stok serum wajah di rumah.


Aku mengambil serum dengan packaging dari beling ini. Sungguh mewah, jangan-jangan ini mahal.


Aku mencari harga yang tertera di rak ini. Persis di susunan kosmetik ini.


"Permisi, Kak. Aku mau ambil barang yang di bawah."


Aku langsung menoleh, kemudian menggeser posisiku.


"Oh, iya. Silahkan." aku tersenyum ramah padanya.


Aku langsung berpikiran buruk. Karena dahi laki-laki tersebut begitu kinclong. Pasti ia jenis laki-laki, yang suka menggosok wajahnya dengan make up.


Ia mengambil sesuatu di susunan bawah. Lalu ia berdiri dan menunjukkan pada seseorang.


"Ini bukan, Mah?"


Oh, jadi ia mengambil itu untuk ibunya? Aduh, aku sudah salah sangka.


Aku langsung menoleh pada barang yang di tanganku. Sepertinya, barang yang aku pegang tinggal satu.


"Ayah, ayo buruan." anak perempuan itu datang, dengan manarik-narik baju laki-laki yang berdiri di dekatku ini.


"Ini ya, Bu? Aku cuma liat-liat aja kok." aku menyodorkan botol beling yang aku pegang ini.


"Makasih ya, Kak?" laki-laki berdahi kinclong itu tersenyum manis padaku.


"Sama-sama." aku membalas senyumnya.


"Kalau Kakak mau ini, dari kasir, nanti saya ke sinikan lagi kosmetiknya." ia menggendong anak perempuan berhijab ini.


Sepertinya, usianya seumuran Key.


Aku mencolek pipi anak tersebut, dengan tersenyum lebar padanya.


"Tak perlu, Bang. Aku tak pakai itu. Aku cuma liat-liat aja." terangku kemudian.


Panggilan bang, sudah lumrah di daerah sini. Abang, aduen, kira-kira memiliki arti yang sama.


Ia mengangguk, "Mari, Kak. Kami duluan." ia berlalu pergi dengan menyunggingkan senyum ramahnya.

__ADS_1


"Mari, Kak." ibunya yang mencangking keranjang pun, begitu ramah saat mendahuluiku.


"Iya." aku hanya fokus mengatakan itu.


Botol yang menjadi rebutan. Sepertinya, itu tadi barang bagus.


Aku harus mencari tau tentang produk itu. Sepertinya, itu biasa digunakan oleh wanita yang sudah tidak muda lagi. Ya, itu menurut pengamatanku saja.


"Udah belum, Dek?" mamah Dinda dan papah Adi muncul di ujung rak.


"Belum, Mah. Mau cari sabun pepaya buat ibu, acne spot buat Ria, terus...." aku masih memikirkan apa yang aku butuhkan.


"Ya udah sambil jalan tuh. Papah tak dapat apa-apa, tapi ikut pusingnya aja." wajah papah Adi terlihat tidak bersemangat.


"Ayo, Dek. Cepet. Papah udah bete."


Aku mengangguk, lalu berjalan ke rak-rak yang lain. Aku mencarikan, apa yang ibu dan adikku butuhkan juga.


~


Satu bulan sudah, kini aku tengah menjalani masa iddah. Aku pun sudah menempati ruko pemberian mamah Dinda.


Aku tinggal di lantai tiga seorang diri. Ria dan Chandra menempati kamarnya sendiri, ibu pun menempati kamarnya sendiri. Hanya saja, kini Zio yang sudah terlihat besar selalu berada di dekapan ibu. Tentu aku mengurus Chandra sendiri, dengan dibantu Ria.


Ruko yang menurutku begitu sempit ini, ternyata tidak sama sekali. Cukup luas, dengan sekat yang pas. Bangunan ini juga, aman untuk anak-anak. Banyak tralis terpasang, agar Chandra tidak memiliki celah untuk naik turun seorang diri.


Karena aku harus berhemat, sampai keadaanku stabil. Mamah Dinda memintaku untuk memindahkan beberapa furniture dari rumahnya. Seperti kasur, ranjang dan lemari.


Ranjang milik Chandra dengan karakter mobil Lamborghini, diberikan Ghifar. Sedangkan lemari pakaian milik Chandra dengan karakter kartun, diberikan oleh Ghavi. Isi kamar Chandra bernuansa kuning cerah, dengan karpet alphabet anti licin juga. Ya, kamar mungil sekaligus ruang bermain untuk Chandra seorang.


Semoga ini awal yang bagus. Mas Givan sudah bertolak ke pulau Kalimantan kembali. Ghifar dan Kinasya, sudah menempati rumah mereka sendiri. Ghavi dan Tika pun, sudah menempati rumahnya dengan ketiga anaknya dan juga ibu Fatimah. Ibu Fatimah ini, seseorang yang membantu Tika mengurus anak-anaknya.


Ghava dan Winda pun, sudah sah memiliki rumah yang dimodali dahulu oleh papah Adi ini. Namun, masalah mereka sama seperti masalah yang aku hadapi. Mereka tidak punya furniture. Jadi, rumah mewah itu masih kosong melompong.


Aku saja, untuk kasur Ria masih menggunakan kasur angin. Kasur dan ranjang milikku, adalah furniture di kamar sebelah tangga yang aku tempati itu. Kasur dan ranjang yang ibu gunakan, bahkan diambil dari kamar tamu. Biar nanti sedikit-sedikit, akan aku cicil isi rumah ini.


Key yang cantik dan cerewet itu. Kini tinggal di rumah pusaka, rumah mamah Dinda dan papah Adi. Ia diurus oleh kak Ifa, tapi saat hari minggu Key diurus bersama. Karena kak Ifa pulang ke suaminya, untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.


Usahaku sudah berjalan. Aku tak melulu sanggup menjaga toko itu, untungnya aku memiliki adik perempuan yang perkasa. Jadi aku tak membutuhkan kuli untuk mengangkat galon dan tabung gas lagi. Tapi tentu, aku mencukupi segala sesuatu yang Ria inginkan.


"Canda... Repot tak?"


Ghifar datang dengan menggunakan motornya. Ada bayi besar di tangannya.


Duh, ada-ada saja. Padahal sudah pisah tempat tinggal. Semoga, Kin tidak murka.


"Kenapa, Far?" aku muncul dari balik etalase.


...****************...

__ADS_1


Slowly 😎


Tunggu sore ya 😉


__ADS_2