Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD40. Berbelanja


__ADS_3

"Udah kek gitu, mulailah skandal sama si Enis. Enis juga bernasib sama kek perempuan itu, dighosting bang Lendra juga. Tapi pernah Abang denger sendiri, bang Lendra ada bilang kek gini ke Enis. Katanya, aku ini tipe orang yang mudah jatuh cinta tapi mudah lupanya juga. Mending cari yang lain, karena aku belum bisa berkomitmen. Enis tuh, udah ngelamun aja. Cerita kek gini, kek gitu. Susah intinya, kalau perempuan udah mabok laki-laki tuh. Tak bisa mereka disadarkan, sebelum dapat akibatnya sendiri karena terlalu ambisius."


Aku tertunduk, memperhatikan jalanan yang sedikit becek ini. Aku tersindir hebat, karena ucapan bang Dendi.


"Pilihin daster satu buat Enis."


Aku memandang lurus, ternyata kami sudah sampai di keramaian.


"Eh, Dek..." bang Dendi menarik lengan bajuku.


Aku menoleh ke belakang, "Ya, Bang. Kenapa?"


Aku melihatnya tengah merogoh sakunya. Tak lama, ia menyodorkan uang padaku.


"Nih, dua ratus lima puluh. Beli daster, dal*man, pakaian Chandra. Pilihkan satu daster buat Enis, yang pendek pun tak apa. Enis tak berhijab ini. Abang tunggu di sini, mau naikin Chandra odong-odong. Nanti beli jajanannya sebelah sana aja, bareng Abang pas mau balik. Biar jajanannya masih anget, pas sampai kos nanti." ungkap bang Dendi kemudian.


Ya Allah, terima kasih sudah di kelilingi orang-orang baik.


"Ati-ati, Dek."


Aku hanya bisa mengangguk. Sungguh, aku malah teringat akan suamiku. Kapan mas Givan mengatakan agar aku untuk berhati-hati. Sepele memang, tapi itu berkesan untuk dia yang mulutnya tidak ada kelembutannya.


Rasanya senang sekali, bisa memilih baju dan menawar harganya.


Aku berkata jujur. Sekali-kalinya aku memilih baju seperti ini bersama mas Givan, hanya ketika ia baru pulang dari rehabilitasinya. Saat kami masih berstatus, sebagai pengantin baru.


Selebihnya, atau masa lebaran. Ya itu seolah kewajiban mamah Dinda. Mamah Dinda yang repot memilih pakaian untukku dan untuk anaknya.


Sayangnya, mamah Dinda adalah selalu belanja pada online shop. Aku tak bisa memilih langsung, hanya bisa mengira-ngiranya dari gambar. Pada butik yang aku kunjungi bersama mas Givan pun, mamah Dinda tak pernah datang langsung jika tidak dengan papah Adi. Mamah Dinda selalu membelinya dari foto yang diupload, di sosial media butik tersebut.


Fakta yang mengejutkan, tapi anehnya mamah Dinda betah. Mamah Dinda tak pernah diizinkan ke luar rumah terlalu jauh, atau berpergian tanpa papah Adi. Izin papah Adi begitu lebar, jika mamah Dinda hanya pergi untuk mengantar dan menjemput sekolah anaknya.


Apa karena papah Adi tak seperti mas Givan kah? Membuat mamah Dinda begitu nyaman, hidup dalam dekapan papah Adi yang memiliki suara keras jika tengah marah itu.


Terkadang aku tidak mengerti pada sekelilingku. Padahal, mamah Dinda terlihat hidup seperti berada di sangkar emas. Tapi ia begitu betah, tanpa pernah mengeluh atau terlihat tidak nyaman.


Aku membeli daster panjang model kekinian sebanyak dua buah, satu buah daster seharga empat puluh dua ribu. Tadinya mereka meminta empat puluh lima, tapi aku menawarnya. Aku memilih satu buah daster pendek, seharga tiga puluh tiga ribu untuk kak Anisa. Harga awal tiga puluh lima, tapi aku menawarnya kembali.


Setelahnya, aku memilih tiga stelan pakaian untuk Chandra. Baju anak-anak sulit ditawar, aku bahkan tidak bisa menggeser sama sekali harganya. Tiga buah baju tersebut, harus aku bayar sekitar tujuh puluh lima ribu. Dari harga dua puluh lima ribu, yang satu setelnya.


Sisa lima puluh delapan ribu, dari uang dua ratus lima puluh yang bang Dendi berikan padaku. Aku membutuhkan pakaian da*am, agar setiap waktu aku tak bingung mencucinya.

__ADS_1


Enam celana da*am dan dua wadah pabrik ASIku sudah beralih ke tanganku. Aku memberikan uang lima puluh ribu ini, yang disepakati oleh penjual.


Sisa delapan ribu.


Aku mengantonginya, lalu berjalan untuk mencari keberadaan bang Dendi dan Chandra. Senyumku terukir, saat melihat Chandra tengah memamerkan giginya di atas odong-odong berbentuk kereta api mini yang berputar di relnya.


Ohh, ternyata bang Dendi tengah memvideokan Chandra. Sesekali tangannya mencolek pipi Chandra, saat Chandra melewati bang Dendi.


Ini adalah pertama kalinya, Chandra bermain odong-odong seperti ini. Ia begitu kegirangan dan bahagia.


"Udah, Bang." aku menepuk pundak bang Dendi.


Bang Dendi menoleh ke arahku, senyumnya masih terlihat begitu lebar.


"Ya, Dek." hanya itu sahutan darinya.


Tak lama, giliran Chandra turun dari kereta mini ini. Ia langsung disambut dengan pelukan dari bang Dendi.


"Udah ya? Nanti pusing kalau kelamaan." bang Dendi berbicara pada Chandra.


"Berapa, Da?" tanya bang Dendi, dengan mendekati tukang odong-odong ini.


Semurah itu menyenangkan Chandra. Tapi begitu sulit untuk aku lakukan bersama suami.


Mungkin harus seperti ini jalannya. Membahagiakan Chandra, tanpa peran ayahnya.


"Yuk, beli jajanan dulu." bang Dendi menciumi pipi Chandra.


Ia berjalan mendahuluiku, ke arah yang tadi ia tunjukkan.


Ini bukan pertama kalinya aku ke pasar malam. Dulu pun, saat di rumah megah itu aku sering ke pasar malam. Namun, diajak oleh mamah Dinda.


Kalian pasti paham, saat datang ke keramaian tetapi tidak menggenggam uang sama sekali.


Itulah yang aku rasakan, sensasi malu dan menahan ha*rat untuk berbelanja harus aku tekan. Meski mamah Dinda pasti membelikan dan memilihkan untukku juga. Tapi beda sekali rasanya, jika aku membeli sendiri dan memilih barang sendiri.


"Udah belum, Dek? Mau maghrib." ucap bang Dendi di dekat telingaku.


"Udah, Bang. Nih, lagi tunggu jajanannya mateng." jawabku dengan tersenyum ramah.


Di tangan kami, sudah banyak kantong plastik yang kami tenteng. Berisikan banyak makanan dan jajanan.

__ADS_1


Mamah Dinda yang orang kaya saja, ia begitu suka jajanan pasar malam seperti ini. Terutama dadar gulung yang ia campur dengan saos pedas. Itu adalah jajanan favoritnya, yang tidak pernah ketinggalan.


"Mampir ke minimarket itu dulu. Udah keburu maghrib nih, kasian Chandra. Sekalian beli sesuatu di minimarket yuk." ia menarik tanganku, untuk melangkah masuk ke dalam minimarket.


Aku kadang berpikir. Pantaskah seorang istri, tetapi melakukan kontak fisik dengan laki-laki yang bukan muhrimnya?


Kadang aku pernah memikirkan, apa aku sekarang sudah dalam masa iddah? Meski perceraian belum aku urus.


"Jangan tersinggungan, Ok? Apa lagi pas bang Lendra bahas bau badan itu." kami berdua sudah berada di jejeran rak barang.


"Tak kok, Bang. Aku tau kondisi badan aku." ucapku kemudian.


"Nih, coba pakai ini." bang Dendi memilihkan satu produk perawatan ketiak untukku.


Aku mengingat sisa uang yang aku miliki, "Uang tadi cuma sisa delapan ribu, Bang." aku enggan menerima produk itu.


"Abang yang bayar." ucapan seperti ini lebih indah terdengar di telingaku.


Aku tersenyum, kemudian menyambut produk itu.


"Ambil keranjang gih!" bang Dendi memilih barang-barang lain.


Aku diminta memilih beberapa produk untuk diriku sendiri. Aku teringat akan scrub badan yang bang Lendra sarankan, agar aku tidak bau badan.


Aku langsung memilih yang varian bengkoang, karena ini yang paling terjangkau.


Aku dan bang Dendi memutari jejeran rak beberapa kali. Sampai pada akhirnya, ia sudah merasa cukup dengan hasil buruannya di minimarket ini.


Aku cukup kaget, saat sampai di kasir. Tapi bang Dendi malah mengambil alat kontrasepsi dan pelumas gel.


Tiba-tiba, aku langsung teringat akan ucapan kak Anisa. Ia pernah mengatakan, bahwa dirinya pernah dibelikan banyak barang oleh bang Lendra. Lalu setelah sampai di kamar kos, bang Lendra malah melakukan hal itu dengannya.


Aku takut terjadi hal yang sama padaku. Apa lagi, tadi aku diminta memilih banyak barang juga.


Bang Lendra dan kak Anisa malam ini akan pergi ke luar, otomatis kos kami akan sepi.


Aduh, jangan-jangan bang Dendi sudah merencanakan ini padaku.


...****************...


Hah, nah loh 😳

__ADS_1


__ADS_2