Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD90. Dadar gulung


__ADS_3

"Bang... Aku mau nyobain laser wajar. Biar bekas cacar yang di sini hilang." aku menunjuk pelipisku, yang terdapat luka bekas cacar.


"Sakit loh, Dek. Abang pernah liat di YouTube, kek disetrum gitu kan?" kami tengah berjalan di trotoar jalan, kami baru saja menyelesaikan sarapan pagi kami.


"Tapi pengen mulus, Bang." aku mengusap-usap pipiku sendiri.


"Udah mulus, Dek. Kinclong, sampek kek berminyak." bang Daeng mengusap pipiku, dari tangannya yang bertengger di bahuku. Ia merangkulku, sembari berjalan beriringan.


"Pori-pori masih nampak besar, komedo di sini masih susah keluar. Padahal udah masker rutin juga." aku menyentuh pangkal hidungku. Karena di bagian ini, komedo kecil bandel berada.


"Ya udah, nanti keluar uang trip lagi." ujarnya kemudian.


Di Sulawesi ini, kami mengerjakan tiga trip dalam waktu dua bulan lebih ini.


"Bang... Aku mau beli dal*man." aku menunjuk pada tempat car free day berada. Kebetulan, ini adalah hari minggu.

__ADS_1


"Yuk... Pilihkan juga buat Abang." ia membawaku berbelok ke keramaian orang.


Aku begitu leluasa memilih dan menawar barang yang aku beli. Nyatanya, tidak hanya pakaian da*am saja yang aku beli. Aku pun membeli beberapa pernak-pernik dan jajanan yang halal untuk aku konsumsi.


Kami tengah berada di kota yang mayoritas penduduknya beragama Protestan. Sebesar ini, aku malah baru tahu ada agama Protestan. Menurut penjelasan bang Daeng, yang dulu lahir dalam keturunan Protestan. Protestan sendiri adalah, sebuah denominasi dalam agama Kristen. Seperti Islam, ada yang NU, ada juga yang menganut ajaran Muhammadiyah.


"Masukin tas aja. Malu, masuk ke hotel nenteng kantong kresek yang tusuk dadar gulungnya nyembul begini." bang Daeng menunjukkan kantong plastik yang ia tenteng.


"Kalau liat dadar gulung gini. Abang jadi ingat mamah Dinda bikin story lagi berusaha buat dadar gulung. Abang juga baru tau dari story itu, ternyata mamah Dinda ngerengek kek anak kecil ke suaminya." ucap bang Daeng, sembari memasukkan buruan kami pagi ini ke dalam tas milikku.


"Tapi mamah Dinda gitu urat wajahnya judes gitu, meski kalau senyum langsung jadi cantik betul. Maksudnya... Masa orang begitu judesnya, tapi karakternya bukan mandiri."


Tentang mamah Dinda, adalah topik terbaik menurut bang Daeng. Ia seperti begitu excited, ketika menarik nama mamah Dinda.


"Judesnya mamah Dinda pun, dia tetep perempuan yang jauh dari keluarganya. Kalau bukan dia manja ke suaminya, mau sama siapa lagi dia ngerengek minta dimanjain?"

__ADS_1


Tiba-tiba langkah bang Daeng terhenti.


Aku menoleh ke arah bang Daeng, yang berjarak dua langkah di belakangku.


"Ngerasa sendiri kah? Mangge ada di Banda Aceh, udah gak di Jawa. Kita ke Jawa dulu kah? Buat nemuin keluarga Adek." terangnya kemudian.


"Aku bener-bener tak minat buat pulang ke Jawa. Lagi pun, ibu bapak aku tak ada di sana. Di Jawa, cuma ada keluarga besar dari bibi aku aja. Aku males ketemu bibi aku, aku takut dipaksa rujuk." ini adalah colekan pertama kalinya, aku buka suara tentang ibu dan ayahku.


Sebelumnya, aku hanya mengatakan bahwa aku juga dari keluarga broken home.


"Jadi, kita nikah.....


...****************...


Kelewat peka bang Daeng ini 🥺

__ADS_1


__ADS_2