
"Jadi, Tiwi yang suka chatting sama Abang itu temen kecil Abang?" tanyaku padanya.
Sorot matanya penuh selidik. Lalu ia memicingkan matanya padaku, "Adek buka-buka HP Abang?"
Apa dia akan marah? Jika aku menjawab iya.
"Maaf, Bang." aku hanya bisa membatin. Namun, aku malah teringat akan diriku yang harus selalu meminta maaf di rumah megah itu.
Terdengar helaan nafasnya, "Terserah Adek aja."
"Abang marah ya?" aku memeluknya.
"Gak, tapi lebih baik jangan kek gitu lah. Namanya Adek gak percaya sama Abang kalau kek gitu. Abang tak pernah tuh cek HP Adek. Sekalinya ngecek, waktu belum nikah itu pas di rumah dato."
Ya, memang aku tidak percaya dengannya.
"Kak Anisa ngirim screenshot Abang dipeluk Putri, timingnya pas kita lagi LDR. Aku gak tenang, nanya ke Abang pun aku tak dapat jawaban." aku memberikan alasan atas sikap tidak sopanku padanya.
"Abang kan pernah bilang, gimana Abangnya. Denger kabar begini begitu, coba Adek tau gak respon Abang gimana ke dia?" nada suaranya terdengar sewot.
Aku menggeleng berulang. Aku teringat akan dirinya yang diam saja, saat Putri duduk di pangkuannya sebelum kita menikah.
"Abang kan diam aja kalau dipeluk Putri, dicium Putri." aku seperti menuduhnya, tapi aku tengah mengatakan pendapatku.
"Kapan?" tanyanya ringkas.
"Pas Abang ribut sama Putri itu, terus kak Raya nasehati Abang."
"Kan beda posisinya. Masa itu Abang masih dekat sama Putri, Abang kan berharap Putri cepat kasih proyek ke Abang. Karena itu aja, buktinya lama Abang gak dikasih proyek."
Sebentar!
Lalu proyek baru ini dari siapa?
Dengan kata lain, posisi mereka sekarang memang masih dekat?
"Terus baru dikasih proyek lagi?"
"Hmm?" terlihat bang Daeng seperti bingung dan kaget.
__ADS_1
Aku menangkap sinyal, bahwa ia keceplosan tadi.
"Udah coba, Dek! Kau kenapa sih?!" ya ampun, kali ini ia berani mengeluarkan sebutan kau lagi untukku.
Padahal, sejak menikah ia tak pernah menyebutku dengan kau lagi.
Aku melepaskan pelukannya, lalu aku langsung memeluk guling dan memunggunginya.
Bang Daeng seperti tidak waras.
~
"Jangan cium-cium lah! Kau udah punya suami!" tegur bang Daeng pada kak Anisa.
Bola mataku pun hampir menggelinding, saat kak Anisa langsung mengecup pipi suamiku.
"Liburan ke mana, Bang?" kak Anisa duduk manis kembali di jok belakang.
Kami menjemputnya di Bandar Udara Internasional Minangkabau.
Bang Dendi banyak bertukar pesan denganku semalam. Ia menitipkan kak Anisa padaku, karena kak Anisa terus merengek ingin liburan tahun baru bersamaku dan bang Daeng.
"Kenapa kak Anisa tak ikut bang Dendi aja di Bener Meriah?" aku menoleh ke belakang, karena aku sekarang duduk di samping bang Daeng yang tengah mengemudi.
"Bang Dendi di sana kerja. Dia pun lagi banyak projek, buat bikin album baru artis lokal di daerah sana. Aku malu juga, kalau harus tiap hari ketemu keluarga mantan suami kamu."
Aku langsung terdiam, tidak bisa menimpali obrolan kak Anisa. Aku takut kak Anisa buka suara, apa lagi tentang mantan ibu mertuaku.
"Dendi kerja sama mantan suaminya Canda, Nis?" tanya bang Daeng kemudian.
"Bukan sama mantan suaminya. Mantan suaminya sih usahanya material bangunan. Tapi sama adik nomer duanya kalau gak salah, soalnya ada kembar sih dari mereka."
Tuh kan, kak Anisa malah menjabarkan.
"Kembar?" bang Daeng sampai menoleh ke belakang, lalu ia meluruskan pandangannya kembali.
"Mantan suaminya Canda, bukannya tiga bersaudara? Papahnya Chandra, terus adik iparnya yang jadi mantan pacarnya Canda. Yang terakhir, bukannya perempuan ya?" lanjutnya kemudian.
Dadaku berdegup tidak karuan. Sepertinya kebohonganku terbongkar sekarang.
__ADS_1
"Papahnya Chandra itu adik iparnya Canda. Chandra tuh di sana punya banyak orang tua. Bapak kandungnya, dipanggilnya ayah. Adik iparnya yang mantan pacarnya itu, dia dipanggil papa. Terus yang kakak si kembar ini, yang bang Dendi kerja sama dia. Dia dipanggil abi sama Chandra. Si adiknya, dipanggil bapa. Pokoknya, itu tuh pasangan. Para istri mereka juga disebut kek gitu sama Chandra. Ayah, sama biyung. Terus, papa sama mama. Abi sama umi. Terus bapa sama meme, karena istrinya ini dari Bali. Yang saudara perempuan dari mantan suami Canda, mereka dipanggil manda sama panda. Yang Cina itu, kalau gak salah ibu sama bapak dipanggilnya. Yang dua itu masih kecil, tapi denger-denger kalau video call sih dipanggilnya abang semua. Karena yang kecil itu nolak dipanggil pak cek. Panggilan ini juga berubah, sejak Chandra balik ke rumah. Tadinya sih katanya om tante gitu, biasa aja. Biar kekeluargaan mereka kuat, biar peran orang tua gak hilang karena biyungnya pergi. Jadi tuh, mereka gotong royong buat besarin anak-anak di rumah itu. Di situ kan gudangnya anak-anak kecil, satu tahun sekali tuh, kata para tetangga pasti ada yang melahirkan."
Bang Daeng sampai menepi, saat mendengar penjelasan yang begitu panjang dari kak Anisa. Aku pun mengaga tak percaya, kak Anisa malah menjabarkan satu persatu.
"Tapi kata Ghifar sih. Memang dari Chandra ceprot juga, udah diajarin manggil dia papah." tambah kak Anisa kemudian.
"Manda, panda ini siapa?" syukurlah, jika fokus bang Daeng ke arah lain.
"Mamah adinda, papah kakanda. Karena mamah papah udah dipakai Ghifar sama Kin, jadi Giska pakai manda panda."
Aku ingin menchat kak Anisa saja, agar ia berhenti nyerocos.
"Giska? Kek pernah denger nama itu." sahut bang Daeng kemudian.
"Cut Giska, yang suaminya pemborong bangunan. Lagi merintis sih, mau naik ke level kontraktor bangunan. Mereka udah misah dari rumah itu, udah punya rumah sendiri. Ya mungkin, sekarang Giska udah lahiran."
Apa motivasi kak Anisa sampai tahu semua keluarga dan menceritakan pada bang Daeng?
"Terus, yang Dendi kerja itu sama siapa?" tanya bang Daeng kembali.
"Sama Ghava, dia isi kepala Riyana Studio. Dia yang gerakin, dia yang ngembangin, tapi memang modal bukan punya dia. Ghava ini yang dipanggilnya abi sama umi. Tapi mereka belum ada anak, Winda satu tahun lebih muda dari Canda sih. Jadi baru mau nyelesaiin semester akhir, baru mau wisuda nanti. Jadi hamilnya ditunda, sampai Winda punya gelar."
Apa lagi ini, Ya Allah?
"Riyana Studio? Kek pernah denger."
Papah Adi tentu mempromosikan bisnis Ghava, apa lagi sampai menggunakan namanya. Endorse gratis juga pada mamah Dinda, itu pasti sepertinya.
"Iya, orang paling kaya di kampung itu. Yang produksiin, Cinta Tersangkut Mahar."
"Terus si papahnya Chandra ini siapa sebenarnya?" ia menoleh padaku.
"Yang datang ke Adek kemarin, papahnya Chandra atau ayahnya Chandra?"
"Terus bener Adek seintim itu sama papahnya Chandra, waktu jemput Chandra? Raya cerita semua loh, Dek. Dari percakapan yang Raya copy di ingatannya, memang dialeknya ada yang aneh. Kek papahnya Chandra ini bukan mantan suami Adek."
...****************...
Sekali berbohong, makan akan melanjutkan dengan oenjrlas yang bohong. Sampai.... tiba sialnya. ðŸ¤
__ADS_1