Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD248. Mengapel


__ADS_3

"Di mobil, banyak barang-barang yang Lendra kirim ke rumah. Tapi buat anak-anak semua. Cuma sebagian yang Mangge bawa, soalnya di rumah udah kek toko mainan." ujarnya dengan sesekali mencolek pipi Ceysa.


Ceysa juga anteng. Namun, ia lebih sering memperhatikan wajah kakeknya itu. Mungkin Ceysa merasa asing dengan wajah itu.


"Ini pegang dulu, Canda." mangge bangun, lalu menaruh Ceysa ke pangkuanku.


Ia berjalan ke arah mobil Brio Satya berwarna merah itu. Lalu membuka pintu belakangnya.


Itu adalah mobil milik bang Daeng.


"Ini tuh mainan semua, Canda. Lendra tinggal di Singapore sekarang. Tiap minggu tuh, ada aja barang yang datang. Ya mainan ini, mainan anak-anak. Kalau ditelpon, katanya buat anaknya Canda. Dia gak minta Mangge buat anter juga, tapi barangkali diperlukan di sini."


Beliau memindahkan bungkus-bungkus tersebut ke teras rumah.


"Jangan banyak-banyak, Mangge. Tak muat nanti di dalam." aku tertawa kecil.


"Sabar ya, Ceysa Cantik. Nanti besar sedikit, Ceysa bisa enak lari-larian di dalam rumah. Doain mangge Lendra sehat dulu ya, Nak." ia menyempatkan menoel pipi Ceysa.


Ada sekitar lima bungkus besar, yang kini sudah berada di teras tokoku.


Beliau menghampiri Ceysa, ia mengecup pipi Ceysa kembali. Namun, ia tengah mengeluarkan sesuatu juga dari kantong celananya.


"Ini buat Adek Ceysa, dari Dato. Ajarin manggil dato ya, Canda. Jangan kakek, Mangge agak aneh dengernya." aku langsung mengangguk, dengan beliau yang terkekeh kecil.


"Sepuluh buat Ceysa, sepuluh buat bang Chandra ya. Adek Ceysa bilang ke abangnya, abang Chandra ini dikasih jajan sama Dato Yusuf." mangge Yusuf tengah berbicara dengan Ceysa.


"Makasih, Dato. Tak perlu repot-repot. Yang penting, doain Ceysa sama bang Chandra sehat-sehat terus." aku mewakili Ceysa dalam berbicara.


"Gak apa, Canda. Kau pasti ngeluarin uang lebih banyak dari uang jajan dari Mangge ini. Ini sih, buat diapers aja lah kasarnya." ia beralih pada Ceysa kembali, "Lagi musim ujian, celana ompolnya gak kering." lanjutnya dengan mengecup pipi Ceysa.


"Udah ya, Canda. Mangge mau lanjut perjalanan dulu." beliau pamit.


Aku mengangguk, "Iya, Mengge. Ati-ati, makasih." ujarku kemudian.


Aku memperhatikannya yang berlalu dengan mobil milik bang Daeng itu. Itu adalah mobil impianku dulu.


Untuk sekarang, aku tidak mengimpikan mobil lagi. Mungkin rumah dulu. Aku akan menabung untuk rumah impian.


Ruko ini terlalu sempit, saat Ceysa, Zio dan Chandra sudah aktif ke sana ke mari.


Aku membenahi uang yang diselipkan ke tanganku ini. Ceysa pun, menggenggam beberapa lembar uang. Aku akan menyimpannya, sebelum diacak-acak oleh trio amunisi itu.


Zio kuat menangis. Ceysa kuat berteriak dan Chandra kuat mengadu.


"Dari siapa sih, Mbak? Masa kurir pakai mobil Brio." Ria menghampiriku.


"Bapaknya bang Lendra. Tolong masukin aja, Ria. Mbak mau ke atas dulu. Nanti aja dibukanya, kalau anak-anak lagi main di bawah." sudah kelihatan, ini adalah mainan.


Aku dibantu Ria, memindahkan beberapa bungkus besar ini.


Aduh, bagaimana kabar bang Daeng di sana?


Pantas saja ia lama tak ada kabar, ternyata ia tinggal di negara tetangga. Pasti ia di sana bersama Putri, tebakanku sih seperti itu.


Namun, tentang ia sakit ini yang membuatku murung.

__ADS_1


Harusnya, bang Daeng sehat dan bahagia saja. Itu sudah cukup untukku. Ia tidak perlu sakit, karena malah menjadi beban pikiranku.


Aku khawatir umurnya tak panjang.


Bukan cuma Ceysa yang tidak pernah bisa melihat manggenya lagi.


Tapi juga, aku pasti akan merasa bersalah.


Entah kenapa, aku sering kasihan jika menyelami perasaan bang Daeng.


Aku merasa, aku menurut dengan mamah Dinda ini sudah benar. Karena, untuk kebaikan diriku sendiri.


Tapi, aku merasa egois. Saat aku sadar, bang Daeng benar-benar cinta padaku.


Aku pun sadar, ia terpaksa melakukan ini dan itu. Banyak tanggung jawabnya, banyak tuntutan untuknya.


~


Satu minggu berlalu.


Malam ini, aku mendapat nomor asing yang masuk menyapaku.


Tidak ada fotonya. Aku berpikir, ini adalah bang Daeng.


Maaf baru hubungi. Aku butuh yakini diri aku sendiri, Canda. Mungkin setelah ini, kita langsung mikirin rencana pernikahan aja kali ya?


Bisa-bisanya? Langsung main nikah-nikah saja.


Maaf ya, bang Daeng. Sehatin tubuh kau dulu aja. Jangan main asal ngajak nikah, meski aku tau ada anak kita di antara kita.


Bang Daeng? Aku Raka, Canda.


Aku menepuk jidatku sendiri.


Main aja dulu ke ruko aku, Raka. Kau bisa kenalan sama anak-anak aku dulu.


aku mengetikkan pesan tersebut.


Ya udah, besok aku main.


Aku tak membalasnya kembali. Biar esok saja yang menjadi obrolan kita.


Aku sudah bercerita pada ibu. Ria pun, sudah aku beri pengertian.


Hingga esok paginya tiba. Mobil keluarga terparkir di depan tokoku. Aku berpikir, kali ini Raka bersama ibunya kembali.


Anak semata wayang.


Pasti manja dan selalu meneriaki ibunya. Pasti ia adalah anak mami, anak yang tidak bisa mandiri.


Raka keluar dari mobilnya, ia tersenyum lebar padaku.


"Aku ganggu aktivitas kau tak?" sapanya kemudian.


"Tak, lagi nyantai jaga anak-anak aja." sahutku dengan membalas senyumnya.

__ADS_1


"Di atas aja, biar aku kenalin sama ibu aku. Sama anak-anak aku." aku berjalan mendahuluinya.


Aku menoleh ke belakang, untuk melihat apa ia mengikuti aku atau tidak. Ternyata, ia mengikuti langkah kakiku yang menaiki tangga ini.


"Kok ada tiga anak?" tanyanya kemudian, setelah kami sampai di lantai atas.


"Satunya, anak asuh ibu aku. Ibu aku kek semacam baby sitter, tapi anak itu yang ikut ke sini. Dia masih cucu mamah Dinda, anaknya mas Givan." terangku kemudian.


"Kenalin, Bu. Ini Raka, yang aku ceritakan itu." ungkapku kemudian.


Ibu tersenyum ramah, Raka pun langsung mencium tangan ibu.


"Orang mana, Nak?" tanya ibu dengan menepuk tempat di sebelahnya.


Raka pun duduk di sana, "Aku dataran tinggi, Bu. Daerah atas ini, Lot Tawar." jawabnya kemudian.


Ibu manggut-manggut, aku pun hanya diam. Aku bingung, ingin membuka obrolan apa.


"Mana anak-anak kau, Canda?" tanyanya saat hening menyelimuti kami.


Aku menunjuk Chandra, "Ini Chandra, anak aku sama mas Givan. Yang itu... Ceysa. Anak aku, sama orang Makassar."


Ia menoleh dengan mata bulat sempurna, "Kau janda dua kali?" ia baru tahu sepertinya.


"Ya, aku janda dua kali. Kenapa memang?" ketusku kemudian.


Raka membuang nafasnya, ia lebih mepet dengan telingaku.


"Aku pengen ngobrol sama kau. Jangan melulu ketus. Banyak yang pengen aku tanyakan." bisiknya kemudian.


"Tak ada ruangan lain." ujarku kemudian.


"Ajak Raka ke balkon. Ke balkon aja, jangan ke kamar kamu." ide dari ibu bukanlah yang terbaik.


Tapi, ya sudahlah.


"Ikut aku." aku melangkah lebih dulu.


Aku langsung menuju pintu balkon, melewati kamarku yang berantakan itu. Biar saja ia tahu, agar ia ilfeel.


Aku membuka pintu penghubung balkon lebar-lebar, dari sini terlihat jelas rumah papah Adi dan rumah anak-anaknya yang lain. Di lantai tiga ini, aku bisa melihat semuanya dengan jelas.


"Ada masalah apa sebetulnya, Ka?" aku canggung jika harus memanggilnya bang. Ia lebih muda dariku.


"Aku masih tak percaya, kalau kau janda anak dua."


Pernyataan macam apa itu?


"Jadi... Kau pengen nyobain aku lebih dulu gitu? Biar kau percaya? Makanya kau minta waktu, buat ngobrol berdua sama aku gitu?" aku berbicara dengan tempo cepat.


Raka menaikkan sebelah alisnya, urat wajahnya langsung berubah. Ia tidak terlihat alim sekarang.


...****************...


Ibu tuh kek Canda. Masa iya tamu di ajak ke ruangan yang lebih privat, segala ngelewatin kamar Canda 😝 apa gak mempermudah 🤦

__ADS_1


__ADS_2